BIAS
Setiap langkah yang sekarang aku jalani tak pernah tercatat begitu dalam benakku. sering aku melupakan kenangan-kenangan yang mungkin seharusnya pantas untuk dikenang.
Aku hanya tak ingin sakit hati pada setiap langkah yang kulalui, aku tak ingin lagi melihat kebelakang, aku tak ingin ada sebuah penyesalan saat aku berhenti di sebuah jalan.
Yang aku tahu, aku hanya ingin terus melangkah apapun yang ada didepan sana dan apapun nanti yang harus aku lalui. Terasa sangat sulit ketika aku harus mengingat sesuatu yang salah, meski aku tahu tak selalu.
Terkadang aku banyak belajar dari kesalahanku, yang aku tak ingin mengingatnya.
Walau ada sedih disana aku tak ingin selalu ada airmata, aku ingin terus menatap kedepan meski dengan mata setengah terbuka tapi tanpa genangan air hangat didalamnya.
Ada yang tetap harus kutinggalkan dibelakang sana dan tak menyertai dan memberatkan langkahku didepan sana. Biarlah itu tetap tertinggal dan terkubur bersama berlarinya waktu yang tak mungkin berputar kebelakang.
Tak ada janji untuk diri sendiri atau siapapun orang disisihku kelak, hanya ingin menghadapi hidup seperti apa adanya saja. Aku ingin mengikuti angin, air dan udara kemanapun mereka akan berhembus, mengalir dan bernafas.
Aku bukan orang yang skeptis juga bukan orang yang terlalu optimis hanya tak ingin ada kesia-siaan menjalani semua nikmat yang telah Tuhan berikan untukku.
Menjaga semua karunianya dan mensyukurinya dengan apa adanya, sebagai manusia tak mungkin tak pernah mengeluh pada sesuatu tapi saat mengingatnya betapa Dia telah menyayangi umatnya tanpa terkecuali, aku kembali terbangun dari mimpi panjangku.
Semua pasti tak akan pernah sia-sia, hidup ini tak akan ada yang sia-sia, biarkan saja bias itu tetap ada, menjadi satu dari sekian banyak misteri hidup yang akan kujalani.
Tak akan pernah lagi kuhindari waktu, tak akan lagi ada pertanyaan mengapa? dalam setiap hari-hariku. Biarlah Bagaimana? yang akan selalu kumunculkan dalam setiap nafas hidupku.
Bagaimana mensyukuri nikmat ini? Bagaimana menjalani anugrah ini? Bagaimana mempertahankan nikmat ini? Bagaimana membagi anugrah indah ini? Dan bagaimana bahagia ini teringkari?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar