Assalamualaikum............

Hai! Friendzzzz.........

Wellcome to my little world!

"Tempatku mencurahkan imaginasi liar tanpa batas! psttt jangan salah sangka kkkk,,,just for fun ^^"

" Berbagi dalam khayalan itu menyenangkan,,,,, "

Selasa, 08 November 2011

Gift Of Love // FF

This is the Fourth i post about Yunra FF
So lovely this couple make me so much idea to write
사랑........



GIFT OF LOVE
Main Cast : Go Ara, Yunho
Support cast : Changmin, Donghae, Yoona, Siwon
Genre : Romance, Friendship
Rating : 16+
Category : Bebas












Hubungan yang dijalin tanpa komitmen karena mereka hanyalah sahabat…………..

Saat kesedihan melanda dan hanya sahabat yang jadi sandaran hati dan meninggalkan sebuah luka dan tanya tentang hati……………..

Saat wanita yang mengisi hatinya kembali, sahabatpun harus mengundurkan diri, meski menghancurkan tetap saja harus pergi……………

2 tahun setelah perpisahan mereka dipertemukan dengan ketidaksengajaan……………

Sahabat tetap menyembunyikan rahasia hati…………………..

Tapi sebuah hadiah indah tak bisa disembunyikan terlalu lama dan itu adalah hadiah terindah persahabatan yang ternyata dibalut dengan cinta tulus…………

"RELATIONSHIP"

Ara memasuki ruang kuliah dengan malas. Akhir-akhir ini Ara memang jadi kehilangan semangat karena sumber semangatnya kini pelan tapi pasti menjauhinya perlahan. Beberapa hari belakangan Yunho menjauhinya, setidaknya itu menurut Ara. Ya, sumber semangat Ara adalah Jung Yunho seorang namja tampan yang menjadi teman sekaligus seniornya di kampus tempatnya menimba ilmu di Korean University Of Art. Meski satu kampus Ara dan Yunho mengambil jurusan yang berbeda, Ara menagmbil jurusan design Interior dan Yunho mengambil jurusan Fotografi.
Persahabatan yang mereka jalin sejak masih dibangku SMA terjalin dengan baik meski Ara adalah dongsaengnya. Yunho sangat baik dan perhatian pada Ara sehingga diam-diam Ara menaruh harapan lebih, sayangnya perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan. Yunho tak pernah menganggap kedekatan mereka lebih dari sahabat baik semata.
Ara sungguh sangat lelah menahan perasaannya seorang diri tapi dia juga terlalu takut mengungkapkan isi hatinya karena takut melukai dan menghancurkan persahabatan mereka. Buat Ara mempertahankan semuanya seperti ini adalah jalan yang terbaik untuknya juga Yunho.
“Halo!”Ara melonjak dari tempat duduknya dengan mata mendelik .
“Gila! Kau mau membunuhku ya!”Ara sangat marah dan kesal saking kagetnya saat asyik melamun tiba-tiba suara keras itu berteriak tepat ditelinganya.
“Kyaaa!! Kau melamun aku panggil-panggil tidak menyahut, ya aku teriak aja!”
Ara mendelik kesal kearah yeoja cantik yang dengan santai duduk disampingnya tanpa rasa bersalah.
“Apa sih yang kau pikirkan? Sampai tak mendengar panggilanku?”
“Tidak ada….”Ara menjawab datar.
“Kya….Go Ara!”Yeoja itu melotot kesal mendengar Ara asal menjawab.
“Aku tidak melamun.”
“Kau tidak pandai berbohong, cantik!”Yeoja itu menjitak kepala Ara dengan gemas.
“Hentikan Im Yoona,sakit!”Ara mendorong bahu Yonna.
“Sudahlah…..ayo kita pulang!” Ara menarik tangan Yonna.
“Kau………dasar………”Yonna hanya mengikuti langkah Ara.
“Apa hari ini kau tidak pulang bersama Yunho lagi?”tanya Yonna.
“Tidak…….”
“Sepertinya akhir-akhir ini kalian jarang bersama, apa bertengkar?”
“Anyi…..dia pulang dengan yeojacingunya.”jawab Ara.
“Mwo? “
Ara  tersenyum mendengar keheranan Yoona.
“Kok bisa? Bukankah harusnya kau yang menjadi yeojacingunya?”Yonna menatap Ara penuh selidik.
“Kami hanya teman.”Ara menjawab dengan santai.
“Tapi kau menyukainya kan?”
“Anyi……”Ara berusaha menyembunyikan kegugupannya atas pertanyaan Yoona.
“Kau bohong……”Yoona menatap mata Ara mencari kebohongan disana, sayang mata itu tak memberikan jawaban apa-apa, hanya ada tatapan dingin disana.
“Kau terlalu mengada-ada.Jangan bergosip…..Ayo naik.”
Ara menyeret Yoona yang  asyik menatap matanya kedalam bis yang disaat yang tepat berhenti dihalte tempatnya menunggu dengan Yoona.
Didalam bis Ara start memejamkan matanya yang sebenarnya tidak mengantuk untuk menghindari pertanyaan Yoona yang masih tetap penasaraan dengan perasaannya pada Yunho.
Ara pura-pura tertidur dan tak mendengar pertanyaan Yoona sehingga membuatnya kesal dan menghentikan pertanyaannya dan malah ikutan tertidur disampingnya. Ara tersenyum melihat malah Yoona yang pulas tertidur disampingnya, sementara dia sendiri sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Perjalanan yang lumayan jauh membuat Ara dan Yoona sering tertidur didalam bis saat berangkat atau pulang kuliah.
Ara teringat kembali saat dia dan Yunho sering berangkat dengan bus sebelum dia membeli motor, dia juga sering tertidur dibahu Yunho dan Yunho baru membangunkannya setelah sampai di kampus. Tapi setelah Yunho membeli motor mereka jarang pulang bersama meski sesekali Yunho mengajaknya pulang bersama naik motornya tapi seminggu belakangan itu sama sekali tak terjadi. Bahkan sudah seminggu ini Ara kehilangan sosok Yunho yang sering menyapanya tapi itu sama sekali tak dilakukannya setelah dia mempunyai kekasih.
Ya, Yunho sekarang sudah punya yeojacingu yang cantik, yeoja yang beruntung adalah Bae Sulgi. Yunho kelihatan sangat bahagia dan kemana-mana selalu bersama.Meski Ara bisa melihat sosok Yunho yang menggandeng Seulgi tapi dia tak dapat menyapanya karena Yunho sama sekali tak menghiraukannya seperti tak mengenalnya sama sekali dan itu sangat menyakitkan buat Ara.
Ara menggigit bibirnya dan mendesah perlahan. Matanya nanar menatap pepohonan sepanjang jalan, sesekali dipandangnya Yoona yang tertidur sangat lelap. Tanpa disadari matanya berkaca-kaca, digeleng-gelengkannya kepalanya menolak kesedihan itu menjadi airmata.
Kau tak berhak apa-apa atas dirinya Ara, kau bukan siapa-siapa dan dia tak menganggapmu siapa-siapa
Bisik suara hati Ara pedih……


"I STAND BY YOU"

Sudah hampir empat bulan Ara tak lagi berbincang-bincang dengan Yunho. Dan Ara lebih senang menghindari pertemuannya dengan Yunho karena dimana ada Yunho maka Seulgi akan ada di sana, setidaknya bila tak bertemu dengannya itu akan menghindarinya dari sakit hati. Meski tak bisa dipungkiri dia sangat merindukannya.
Ara melangkahkan kaki menuju Rooftop kampusnya, tempat rahasianya selama ini menghindari keramaian kampus dan mahasiswa yang berlalu-lalang. Ara duduk bersandar ditembok dan menatap langit yang nampak cerah siang itu. Dikeluarkannya beberapa buah novel yang dipinjamnya dari perpustakaan kampus. Novel-novel karangan Agatha Christy yang jadi bacaan favoritnya selama ini.
Ara menghirup dalam-dalam nafasnya dan menghembuskannya dengan perlahan. Saat Ara mulai membuka salah satu novelnya dan mulai membaca bab I, pintu berdenyit dan terbuka perlahan. Ara memincingkan matanya dan sedikit heran karena selama ini setiap dia menyepi disana tak ada orang lain yang mengganggunya atau orang datang kesana.
Ara membelalakkan matanya melihat sosok tinggi yang keluar dari pintu dan perlahan mendekatinya. Tapi tampangnya sangat kuyu dan tidak bersemangat sama sekali seperti sedang bermasalah.
“Kau disini?”Tanya namja itu sebelum Ara sempat bertanya padanya.
“Kau kenapa kesini?”Ara balik bertanya.
“Ingin menenangkan diri.”Dia duduk disamping Ara dan menatap langit tanpa melihat kearahnya.
“Oh….”Ara tak ingin bertanya melihat namja itu sepertinya sedang tidak enak hati.
Ara membiarkan saja namja itu asyik dengan pikirannya dan dia meneruskan membaca novel meski sama sekali tak masuk dan tak tahu apa isi cerita novelnya. Kedatangan namja itu ke tempatnya menyepi benar-benar telah mengganggu konsentrasinya. Setelah mereka cukup lama saling diam…….
“Kau sekarang jarang terlihat Ara?”
“Itu perasaanmu saja Yun.”Ara hanya tersenyum mendengar pertanyaan Yunho.
“Aku merasa kau menghindariku.”Yunho bertanya tanpa melihat kearah Ara.
“Anyi…kau sangat sibuk pacaran sih jadi tidak sadar aku ada disekitarmu.”Jawab Ara mendengar tuduhan YUnho.
“Mian….”Yunho nyengir menyadarinya.
“Gwencanayo…..”Ara hanya tersenyum.
“We break up.”kata Yunho lirih.
“Mwo?”Ara kaget meski Yunho mengucapkannya hampir tak terdengar.
“Mungkin kami akan saling koreksi diri dulu.”Yunho mengucapkannya dengan nada sedih.
Meski Ara merasa sakit mendengarnya tapi jujur terbersit rasa senang disudut hatinya.
“Kenapa?”tanya Ara bersimpati, itu jujur dari hatinya melihat orang yang disayanginya kini nampak sangat terpukul.
“Banyak kesalahpahaman diantara kami, dan itu menyebabkan kami sering bertengkar karena adu argumen. Itu bukan pacaran yang sehat kan?”Yunho menatap Ara dengan luka dimatanya.
“Yah……….”Ara mendesah merasakan kesedihan Yunho tapi sebenarnya lebih mengasihani dirinya sendiri yang merasa sangat hancur menyadari bahwa Yunho ternyata mempunyai perasaan yang sangat dalam pada Seulgi.
“Kami sudah membuat kesepakatan, kami akan break beberapa saat dan akan kembali bersama setelah menyadari kesalahan kami masing-masing.”Ujar Yunho tersenyum meski sedikit dipaksakan.
“Itu bagus.”Ara memberi semangat pada Yunho.
“Kau pasti bisa melakukannya, kalian pasti akan bersama kembali dan aku rasa tidak akan lama.”
“Kau yakin?”Yunho memandang Ara berusaha mencari kebenaran dari kata-katanya.
“Nde.”Ara mengangguk memberikan senyumnya, Yunho tersenyum.
Tapi Ara tahu senyum itu bukan untuk dirinya melainkan untuk dirinya sendiri  menyadari bahwa harapannya kembali bersatu dengan Seulgi masih sangat mungkin.
Yunho tak bisa menyembunyikan kesedihannya, wajahnya terlihat sangat putus asa dan kusut tanpa gairah dan itu sangat menyakitkan untuk Ara……..
“Yun…….”Ara ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu.
Yunho memandang Ara dengan tanya.
“Ne….”
“Kalau kau mau, kau bisa berpacaran denganku.”Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Ara.
Yunho cukup kaget mendengarnya.
“Mwo? Jangan bercanda Ara.”Yunho mendengus mengibaskan tangannya.
“Aku serius! Kita bisa berpacaran selama kau hiatus, Yun.”Ara menatap mata Yunho dengan tajam.
“Ara…..”Yunho memandang Ara dengan heran.
“Apa kau tidak menyukaiku?”
“Anyi, bukan begitu tapi……..”
“Aku akan  melepaskanmu pada Seulgi saat kau akan kembali.”
Yunho terdiam menundukkan wajahnya.
“Dan ini akan jadi rahasia untuk kita saja.”Entah apa yang merasuki pikiran Ara sehingga dengan sangat lancang dia meminta Yunho menjadi kekasihnya.
Tapi Ara sepertinya tak perduli lagi dengan pandangan Yunho pada dirinya, mungkin Yunho sekarang berpikir bahwa Ara yang dia kenal selama ini telah berubah menjadi wanita yang sama sekali tak punya harga diri sehingga berani menyatakan hal itu pada seorang namja. Tapi Ara sudah sangat lelah hanya menunggu dan memendam perasaan selama ini. Ini adalah puncak gunung es yang akhirnya harus leleh sekarang.
“Kau serius Ara?”Yunho menatap mata indah Ara yang cukup menggetarkannya.
“Aku tak pernah main-main Yunho.”Ara menjawab dengan tegas.
Yunho menemukan keseriusan dan sesuatu disana ketulusan? Benarkah………
“Gomawo ,kau mau menghiburku tapi jangan mengejekku.”Yunho masih belum yakin dengan perkataan Ara.
Ara berdiri dari duduknya dan melangkah pergi.
“Temui aku hari minggu besok di aula senirupa jam 10 pagi, kau akan tahu aku tak main-main!” Ara meninggalkan Yunho yang masih syok dengan pernyataan Ara.
Ara mendesah.
Ottoke, apa yang kau lakukan Ara? Kau benar-benar sudah gila!
Ara mengutuk dirinya sendiri tapi nasi sudah menjadi bubur dan dia tak mungkin  menarik kata-katanya kembali.
Aku hanya ingin disisihmu Yun, meskipun saat kau sedang jatuh……
Bisik suara hatinya, Ara menggigit bibirnya dengan keras sampai berdarah.
***
Ara hanya duduk bersandar malas-malasan diruang senirupa yang sepi karena minngu memang tidak ada perkuliahan dan tidak ada  mahasiswa yang melakukan kegiatan disana. Sangat berbeda di aula drama dan kesenian yang meski hari minggu tapi banyak mahasiswa yang datang untuk sekedar berlatih atau mengadakan pertunjukan.
“Kau benar-benar datang?”Yunho menghampiri Ara yang duduk dipojokan agak tak terlihat dari pintu masuk karena banyaknya kanvas-kanvas yang berserakatan tak teratur masih dengan standnya.
Ara hanya memandang Yunho, dia tak bisa menebak apakah Yunho menyetujuinya atau menolaknya.
Yunho berjongkok didepan Ara dan mendekatkan wajahnya, semakin lama semakin mendekat sehingga jaraknya hanya tinggal beberapa centimeter saja dari wajah Ara.
Yunho menatap tajam mata Ara mencari jawaban atas keherananya kemarin tapi mata itu sepertinya mengatakan keseriusannya meski buat Yunho masih ada sisi misterius yang sulit diungkapkan tapi bukan penolakan.
Ara hanya menatap balik Yunho dengan banyak pertanyaan dikepalanya tapi dia bisa menyimpan semua kepedihan dimatanya dan meninggalkan sedikit rasa saja disana dan dia yakin berhasil karena Yunho tak menyadarinya.
Saling bertatap mata mencari jawaban tanpa satupun pertanyaan yang terucap dari keduanya. Ada pertanyaan yang tak sanggup dipertanyakan Yunho yang disadarinya hanyalah dia menyentuh bibir Ara dengan seribu pertanyaan dan tak meminta jawaban hanya merasakan kehangatan dari desah nafas Ara dan bibir yang terasa manis minuman soda menurutnya, karena ternyata Ara memang menghabiskan satu kaleng coca-cola diet selama menunggu Yunho. Yunho tersenyum dalam hati saat Ara membalas menciumnya dengan hangat.Untuk sesaat hatinya ikut menghangat dan membuatnya lupa bahwa dia sedang patah hati saat ini.
Ara tak pernah tahu apa yang Yunho rasakan sekarang, apa dia menikmatinya atau ini caranya mengobati sakit hatinya pada Seulgi ataukah yang lebih parah dia menganggapnya Seulgi. Yang Ara tahu adalah dia tak bisa menolak apa yang dilakukan Yunho padanya karena itu juga yang diinginkan Ara dari bertahun-tahun yang lalu. Ara memejamkan matanya merasakan nafas Yunho yang tak beraturan.Saat Ara membuka matanya Yunho menatapnya dengan tatapan yang tak dimengerti Ara, yang Ara rasakan hanyalah Yunho memintanya menangguk. Ara tersenyum mengangguk.
Ara merasakan sakit yang sangat luar biasa dihatinya saat melihat mata Yunho tertutup dan sama sekali tak memandang dan tanpa satu katapun keluar dari bibirnya. Arapun memejamkan matanya merasakan kepedihan itu sendiri dan tanpa terasa airmatanya menetes. Ternyata kepedihan itu sangat sulit untuk disingkirkan meski terselip bahagia disudut hatinya yang tersembunyi. Ara mencengkeram bahu Yunho dengan erat seakan tak ingin melepaskan dari pelukannya.
Yunho menyenderkan kepalanya ditembok dan memandang kanvas-kanvas kosong didepannya. Sementara Ara terduduk memeluk lututnya.
“Sekarang kita……….”Yunho mencoba membuka pembicaraan.
“Yah, kau boleh menemuiku disini Yun, saat aula ini kosong. Kau tidak harus menemaniku seperti yeojacingumu.”kata Ara datar.
“Apa kau menyesal, Ara?”tanya Yunho hati-hati.
“Aku tak pernah menyesali apapun Yun, kau tahu itu. Apapun yang terjadi aku tetap sahabatmu.”Ara menggigit bibirnya menahan ribuan jarum  yang terasa menusuk jantungnya.
“Gomawo…….”Yunho tak tahu harus berkata apa hanya ucapan itu yang bisa keluar dari mulutnya.
“Nde.”

"IS  TIME TO SPLIT"

Tanpa terasa hubungan tanpa status itu dijalani Ara dan Yunho selama tiga bulan lebih. Sementara meski mereka bersama Yunho tak pernah membuka hatinya untuk Ara.
 Yunho tetap menaruh harapan besar untuk kembali pada kekasihnya Seulgi. Ara hanya bisa memiliki Yunho saat dia menemuinya di aula senirupa atau rooftop yang menjadi tempat rahasia mereka. Sementara didepan teman-temannya mereka tetap menjadi teman biasa
 Tidak setiap hari Yunho memintanya untuk bertemu dan setahu Ara hanya pada saat Yunho merasa sedih maka dia akan menemuinya.
Sebenarnya Ara sangat sakit menyadari itu karena apapun yang telah dikorbankannya untuk Yunho tak punya arti apa-apa dimatanya.
Seperti siang itu Yunho memintanya menemuinya di rooftop jam 2 siang. Pagi itu saat baru memasuki kampus Ara melihat Yunho dan Seulgi berpelukan dan mereka berbicara dengan mesra sambil berpegangan tangan.
Ara melangkah dengan gontai menaiki tangga satu per satu.
Apakah ini saatnya……
Desis Ara pelan. Saat membuka pintu Ara melihat Yunho sudah menunggunya disana. Begitu melihatnya Yunho langsung mengembangkan senyumnya dan itu tidak biasa dilakukan Yunho. Selama ini saat mereka bertemu tak banyak kata dan pembicaraan diantara mereka dan tak banyak senyum yang dikembangkan Yunho untuknya.
“Mianhe aku terlambat.”Ara membalas senyum Yunho.
“Gwencanayo………aku juga baru 10 menit disini.”jawab Yunho.
“Ara, gomawo selama ini menemaniku.”
Ara menyadari ketakutan dalam hatinya kini menjadi kenyataan saat mendengar Yunho mengatakan itu, buatnya sudah cukup jelas.
“Aku ingin menjadi sahabat terbaik untukmu.”Kata Ara menahan suaranya agar tak terdengar bergetar.
“Aku dan Seulgi….”
“Aku tahu, sekarang saatnya aku menyingkir.”Ara memotong kata-kata Yunho.
“Ara aku…..”
“Sudahlah Yun, aku sudah janji akan melepaskanmu dan sekarang saatnya. Aku masih menjadi sahabatmu. Apapun yang terjadi antara kita kau boleh melupakannya atau menyimpannya sebagai kenangan itu terserah padamu.”Ara membalikan badannya hendak meninggalkan Yunho.
“Ara…….”Ara menghentikan langkahnya saat Yunho memanggilnya.
“Kau jangan merasa bersalah Yun, we still friend, right?’’Ara tersenyum. Dan melangkah meninggalkan Yunho.
Yunho tak mengejarnya dan Ara sungguh merasa sangat kecewa. Airmatanya tak lagi bisa ditahan. Ara berlari pulang tak lagii sanggup meneruskan mata kuliah yang harusnya diikutinya 1 jam lagi.
“Mian……”Yunho melangkah meninggalkan rooftop.
***
Sudah hampir sepuluh hari semenjak pertemuan terakhir Ara dengan Yunho dirooftop dan Yunho tak pernah lagi memintanya menemuinya.
Ara tahu sekarang Yunho lebih banyak menghabiskan waktu bersama Seulgi, meski dia hanya melihatnya beberapa kali. Sekarang sangat terlihat Yunho dan Seulgi lebih nyaman satu dengan yang lain itu terlihat dari bahasa tubuh mereka dan mereka bisa tertawa dengan lepas saat bersama.
Ara hanya mendesah setiap kali melihatnya dan itu sungguh menyiksa bathinnya.
“Ara, apa kau serius?”tanya Yoona terkejut.
“Nde….hari ini aku akan mengurus semua dokumen kepindahanku.”jawab Ara.
“Jadi ini terakhir kau masuk kuliah disini?”
“Nde….”
“Kenapa tiba-tiba? Apa ada masalah?”tanya Yoona masih tidak percaya.
“Anyo….orangtuaku ada bisnis disana jadi harus ikut mereka.”ujar Ara.
“Tapi Paris itu sangat jauh Ara, bagaimana kalau aku rindu padamu?”tanya Yoona.
“Setelah aku sampai disana aku akan meneleponmu.”Ara memeluk sahabatnya. Yoona menitikkan airmata menyadari akan berpisah dengan Ara dalam waktu yang entah berapa lama.
***
Dan keesokan harinya Yoona benar-benar tak melihat Ara dikampusnya. Ara benar-benar telah meninggalkan korea menuju Paris, Perancis. Pesawat Ara lepas landas jam 8 pagi waktu korea dari bandara internasional Inchoen.
“Anneyong!”Yunho menyapa Yoona yang duduk sendirian ditaman kampus.
“Anneyong…..Yunho-sii”Yoona membalas membungkuk pada Yunho.
“Apa kau tahu dimana Ara?”tanya Yunho.
“Mwo? Ara? “
“Nde!”
“Apa kau tidak tahu?”tanya Yoona bingung.
“Tahu apa?”jawab Yunho juga ikutan bingung.
“Ara kan hari ini terbang ke Paris.”
“Mwo?”Yunho sangat terkejut.
“Terbang ke Paris? Maksudmu?”Yunho membelalakkan matanya.
“Ara pindah ke Prancis.”jawab yoona singkat.
Yunho terduduk dibangku taman, badannya tiba-tiba terasa tanpa tenaga sama sekali, lemas dan sangat lemah. Rasa menyesal dan bersalah tiba-tiba membuncah didadanya terasa sangat sesak.
“Mianhe Ara……..”desis Yunho.

"REUNION"

Dua tahun kemudian……..
Yunho keluar dari kantor tempatnya bekerja sambil menenteng kamera kebanggaannya. Setelah lulus kuliah Yunho bekerja disebuah Majalah mode sebagai fotografer tetapi juga mengambil beberapa job tambahan di beberapa majalah independent menyalurkan hobinya memotret obyek-obyek Art yang tak berhubungan dengan mode dan fashion sama sekali.
Yunho sangat suka memotret orang-orang baik secara terang-terangan meminta ijin atau diam-diam mencurinya. Buatnya memotret wajah orang sangat menyenangkan dan merupakan kepuasan tersendiri.
Sudah ribuan wajah yang dipotretnya sedari Yunho masih berumur 10 tahun saat dia mendapatkan hadiah kamera pertama kalinya dari ayahnya sebagai hadiah ulang tahunnya.
Tidak hanya wajah, Yunho juga sangat suka memotret gedung-gedung tua dan pemandangan, sehingga dia sangat suka bepergian keluar kota dan kekampung-kampung serta ketempat-tempat bersejarah baik dikorea ataupun luar negri.
Hari itu setelah menyelesaikan pekerjaannya dikantor Yunho berniat pergi ke Han River Park tampak orang-orang biasa banyak berkumpul dan menghabiskan waktu relaksnya baik dengan pasangan, teman atau keluarganya.
Yunho mulai mengarahkan kameranya memotret objek-objek menarik disekitar taman.
Hari ini entah kenapa Yunho sangat ingin memotret anak-anak. Yunho tersenyum senang melihat betapa lepasnya anak-anak itu tertawa dan bercanda dengan teman-teman dan ayah serta ibunya.
Yunho berkeliling dan sangat senang karena hari ini ternyata sangat ramai dan dia puas mendapatkan banyak sekali foto-foto bagus dari anak-anak dengan berbagai ekspresi. Yunho pulang setelah sekitar 2 1/2 jam berkeliling taman dan tiga roll film ia habiskan di Han River Park.
Sampai dirumah Yunho tak langsung istirahat, dia langsung memasuki kamar gelap kerjanya dan mencetak hasil pemotretannya tadi. Rasanya dia sangat bersemangat melihat hasil jepretannya sore ini.
Yunho puas dengan hasil potretannya sendiri, apalagi melihat wajah-wajag polos bocah-bocah lucu yang benar-benar masih sangat murni. Interaksi yang penuh cinta antara anak dengan ayahnya ,ibunya juga teman-temannya sangat natural dan tanpa rekayasa.
Yunho menyusun foto-foto itu  penuh semangat dan rasa puas.
 Yunho tertegun menatap sebuah foto seorang wanita cantik dengan seorang bayi. Tampak cinta yang sangat besar dari Ibu muda itu pada bayi mungilnya. Tadinya Yunho tak terlalu memperhatikan saat mencetaknya tapi saat menyusunnya Yunho seperti tidak asing dengan sosok difoto itu. Yunho mengamati dengan seksama sayang foto itu diambilnya terlalu jauh dan dari samping.
Tapi rasa penasaran Yunho membuatnya membuka kembali laptopnya dan membuka fail computer. Dengan beberapa kali Zoom dan focus akhirnya Yunho bisa melihat jelas wajah wanita muda itu meski hanya dari samping.
Yunho sangat terkejut.
“Ara!” Desis Yunho.
Yunho segera membuka fail-fail lamanya yang berisi foto-foto Ara. Yunho segera mencari foto Ara dengan posisi samping dan mengcompare dengan hasil fotonya tadi. Dan hasilnya? 100 % match!
Yunho benar-benar kaget, segera dicetaknya foto itu lagi dengan ukuran super besar. Yunho menatap foto itu dengan perasaan campur aduk. Melihat kenyataan itu Yunho menyesal kenapa tak tahu itu saat di taman tadi. Yunho tak melepaskan matanya dari foto besar itu yang dipajangnya didinding dan hampir menutup ¼ dinding tembok.
Apa dia anakmu Ara….
Yunho menatap bayi yang tersenyum menatap Ara, wajah bayi itu terlihat lebih jelas karena agak serong kebelakang karena posisi Yunho mengambil gambarnya dari belakang bangku tempat duduk Ara.
 Bayi itu sangat cantik, ya bayi itu perempuan karena Ara memakaikannya pita pink dirambutnya yang tampak lebat dan hitam. Yunho tersenyum.
Dia sangat mirip denganmu Ara….
Yunho berbicara sendiri memperhatikan foto itu, bayi cantik itu ternyata mewarisi kecantikan Ara, wajah mungilnya dan kulitnya yang putih bersih. Hidungnya mungil dan mancung dan bibir serta dagunya yang kecil mirip dengan?
………………..
Aish…..apa yang kau pikirkan Yunho!
Yunho memukul kepalanya sendiri menyadari kebodohannya. Yunho mengambil kunci mobil dan tanpa sadar mengarahkan mobilnya kembali ke Han River Park.
Sesampainya disana hari sudah gelap, meski ramai tapi sudah jarang ada gelak tawa anak-anak disana. Yunho menyadari tidak mungkin Ara akan berlama-lama disana apalagi dengan bayi yang masih kecil.
Yunho terduduk dibangku yang kosong itu dengan lemas.
Aku akan datang lagi besok pagi, aku harus meminta maaf padamu Ara……..
Yunho berkata lirih.
Drtttt……..drtttttttt……..
Yunho mengambil telepon genggam disaku celananya.
“Yoboseo…”Yunho memperhatikan nama yang tercantum di layar hp dan mengangkatnya.
“Besok pagi? Aku tidak tahu Seulgi, masih ada pekerjaan yang tertunda tadi dan aku harus datang lebih pagi kekantor.”ternyata telepon dari Bae Seulgi.
“Jam ½ 7.”jawab Yunho.
“Mwo? Kau ikut aku?”Yunho membelalak.
“Ok, baiklah kujemput kau besok jam ½ 7.”Yunho mengakhiri pembicaraannya ditelepon. Yunho melangkah pergi dari taman dan kembali pulang.
***
“Halo, cantik!”mata Ara berbinar menatap bayi mungil itu yang terbangun dari tidurnya.
“Ngyeyeye……”
“Kau sudah bangun? “bayi itu seperti tahu apa yang ditanyakan Ara, dengan bahasanya dia menjawab pertanyaan Ara.
“Nyayeyayaea…….”
“Baiklah……….sekarang mandi dulu ya, setelah itu Oemma akan membuatkan kau makanan terenak.”Ara meraih bayi mungil itu dengan lembut dan mencium kedua pipinya.
“Salam ke Appa dulu ya…..”Ara meraih sebuah foto dan memperlihatkan pada bayi mungil itu, seakan tahu diapun berusaha meraih foto itu dengan tawa angelnya. Ara tersenyum dan meletakkan foto itu kembali dimeja.
***
“Ara apa kau sudah siap?”
“Ah kau sudah datang?”
“Kita berangkat sekarang atau kau ada yang masih harus kau kerjakan?”tanya namja tampan itu memperhatikan Ara yang tampaknya sudah rapi.
“Ah tidak oppa, kami sudah siap.”
“Baiklah…….cantik mau ikut Appa?”namja itu mengulurkan tangannya kearah bayi mungil yang digendong Ara.
“Aish…….sudah jangan bercanda, biar Valentine aku yang gendong tapi tolong Oppa bawakan tasku ya?”
“Siap cantik………”
Mereka meninggalkan hotel  dengan mobil BMW berwarna hitam menuju Busan.
“Kenapa kau tak tinggal di Seoul saja Ara? Aku kan jadi susah kalau ingin bersamamu…”keluh namja itu melirik Ara yang asyik bercanda dengan Valentine.
“Kau bisa bertemu dengan kami kapanpun kau mau Oppa, Busan kan tidak terlalu jauh dari Seoul.”jawab Ara tersenyum.
“Aku pasti setiap hari kangen dengan Valentine.”
“Aku juga …….. .”Ara menggerakkan tangan Valentine kearah Siwon yang tengah menyetir membuatnya tersenyum.
“Panggil Appa ya?”Siwon membelai kepala Valentine dengan sayang.
***
Sudah seminggu Yunho bolak-balik ke Han River Park berharap bisa bertemu Ara disana tapi ternyata harapannya sia-sia. Ara hilang ditelan bumi dan Yunho hampir menganggap dirinya sendiri gila tapi kembali dia meyakini bahwa betul foto yang dia ambil sore itu disana adalah Ara bukan hanya khayalannya karena khayalan tak mungkin bisa dicetak.
Yunho jadi tidak bersemangat dikantor dan Bosnya menyadari bahwa hasil foto Yunho agak mengecewakan. Setelah mendapat teguran dari atasannya Yunho memilih mengambil cuti untuk merilakskan pikirannya.
Yunho memutuskan mengunjungi  teman baiknya disaat kuliah dulu, Changmin.
***
“Changmin-ah,kau mau mengajakku kemana?’’
“Party!”jawab Changmin singkat.
“Party? Apa kau gila, bukannya mengajak yeoja malah mengajakku.”kata Yunho.
“Ah ini bukan party seperti yang kau pikirkan Yunho, ini pesta pembukaan gedung yang aku rancang untuk temanku.”jawab Changmin cuek.
“Tetap saja, menggandeng yeoja cantik akan jadi kebanggaan buatmu ketimbang datang denganku.”kata Yunho melihat Changmin yang sepertinya cuek saja.
“Yeoja cantik itu banyak disana Yun, aku hanya ingin pamer padamu betapa hebatnya rancanganku sekarang kau pasti akan sangat takjub.”kata Changmin bangga.
“Sombong sekali kau!”Yunho nyengir menatap Changmin yang over percaya diri.
“Aku serius, kali ini kau pasti akan mengacungkan 2 jempolmu untukku.”wajah Changmin tetap serius.
“Apa sangat penting pendapatku?”tanya Yunho.
“Sangat! Karena kau satu-satunya temanku yang tak pernah memuji hasil karyaku, dan akan kubuktikan sekarang!”Changmin masih tetap bersemangat.
“Benarkah? Aku lupa haha….”Yunho tertawa mendengar perkataan Changmin.
“Aishh…….kau ini!”Changmin kesal mendengar Yunho menertawakannya.
Tak lama Changmin mengarahkan mobilnya memasuki sebuah halaman gedung bertingkat tiga dengan rancangan unik dan membuat Yunho  takjub sampai menaikkan alisnya. Changmin senang melihat reaksi Yunho yang nampak terkejut.
“Kau akan semakin takjub setelah melihat interior didalamnya.”Ujar Changmin yang melihat Yunho masih terkagum-kagum dengan bentuk gedungnya.
“Ini…………seperti?”Yunho berpikir sejenak melihat bangunan berbentuk unik itu.
“Nde, exactly………ini bergaya Bali.”kata Changmin seolah tahu apa yang Yunho pikirkan.
“Aku membuatnya mirip dengan bangunan tradisional Bali dan Eropa yang berpadu. Bagaimana menurutmu?”
“Yah…..kali ini kau membuatku terkesan.”Yunho manggut-manggut.
“Tunggu sampai kau melihat dalamnya.”
Changmin langsung mengajak Yunho memasuki gedung yang sudah agak ramai dikunjungi tamu undangan.
Begitu memasuki gedung sekali lagi Yunho merasa takjub, interior didalamnya sangat unik dan tak biasa. Pernak-pernik Bali dan eropa mendominasi ruangan yang seperti aula. Kesan pertama memasuki ruangan itu adalah hangat dan romantis, karena tak banyak bangunan seperti ini di korea bahkan mungkin baru ini.
 “Menakjubkan, kau hebat Changmin.”kata Yunho mengangkat kedua jempolnya.
“Aha, akhirnya kau melakukannya!”Changmin sangat senang dan bangga di puji oleh Yunho.
“Untuk bangunan kau bisa memberikan dua jempolmu untukku tapi untuk interior! kau harus memberikan jempolmu itu juga untuk rekanku.”kata Changmin.
“Jadi ini bukan karyamu?”tanya Yunho.
“Sebagian……. aku bekerjasama dengan disainer untuk interior dalam gedung sesuai dengan request dari pemilik gedung.”
“Oh….pasti orang yang hebat ya?”Yunho tersenyum.
“Nde, dia lulusan perancis dan orang yang sangat detail sehingga menghasilkan pekerjaan sempurna seperti ini.”kata Changmin.
“Aku percaya terlihat dari karyanya ini, menakjubkan.”
“Dan yang menakjubkan dia seorang noona.”
“Benarkah? Wah hebat sekali noona itu dia pasti sudah sangat pengalaman ya?”Yunho bertanya pada Changmin.
“Entahlah….aku sempat ragu bekerja dengannya pada awalnya karena dia masih sangat muda, dia lebih muda dariku, tapi dia memperlihatkan beberapa hasil karyanya di eropa dan aku berkata pada diriku” kenapa tidak?” dan inilah hasilnya, sempurna!”kata Changmin bangga.
“Apa dia cantik sampai kau mempercayai designer interior yang belum berpengalaman.”tanya Yunho menyelidik, Changmin nyengir.
“Awalnya sih iya, dia sangat cantik tapi akhirnya aku tahu dia sudah punya anak.”jawab Changmin enteng.
“Kau ini tak bisa melihat yeoja cantik sedikit, untung saja dia benar-benar seorang design interior hebat, kalau tidak bagaimana?”Yunho memandang sahabatnya itu dengan gemas.
“Aku juga percaya instingku Yun.’’Changmin berusaha mengelak tuduhan Yunho.
“Aku tahu pikiranmu, siapa yang mau kau bodohi?”Yunho mendelik membuat Changmin hanya bisa nyengir.
Changmin mengajak Yunho menemui pemilik gedung.
“Anneyong haseo!” Changmin menyapa seorang namja yang berumur tidak jauh beda dengannya. Lelaki perlete itu tersenyum menyambut Changmin.
“Changmin-shi kau sudah datang.”
“Nde. Oh ya perkenalkan ini temanku Yunho.”Changmin memperkenalkan Yunho pada namja itu.
“Jung Yunho.”Yunho membungkukkan badannya.
“Lee Donghae.”Donghae membalas sapaan Yunho.
“Restoran ini akan jadi tempat yang banyak dikunjungi karena sangat romantis terutama untuk pasangan kekasih.”Yunho memuji suasana romantis yang jadi pesona interior restoran di lantai dua gedung itu.
“Kamsahamnida…….aku senang melihat reaksi tamu undangan yang menyukainya. Ini berkat kehebatan Changmin-shi.”Kata Donghae memuji Changmin.
“Ah kau terlalu memuji, aku rasa ada yang lebih tepat mendapat pujian.”kata Changmin.
“Oh ya aku lupa, kalau begitu ayo kita langsung mengucapkannya.”Donghae mengajak Yunho dan Changmin kelantai 3 gedung itu yang juga merupakan café dan pub.
“Ara!”Yunho benar-benar syock melihat wanita dihadapannya.
“Yunho!”Ara tak kalah kaget melihat namja didepannya.
“Kalian sudah saling kenal?”tanya Changmin heran.
“Nde”jawab Yunho dan Ara bersamaan.
“Kami teman kuliah…..”lanjut Yunho lagi.
“Wah kalian bisa reuni disini, semoga kalian enjoy ya, aku tinggal sebentar menyapa tamu yang lain.”Donghae meninggalkan Changmin,Yunho dan Ara melanjutkan menyapa tamu-tamu undangan yang lain.
“Ah jadi kita satu kampus? Kenapa aku tak mengenalmu Ara? Bukankah kau sekolah di paris?”tanya Changmin bertubi-tubi.
“Changmin-ah………”Yunho mendelik mendengar pertanyaan Changmin pada Ara yang seperti berondongan peluru itu.
Ara tersenyum.
“Nde, aku pindah ke paris saat semester V.”jawab Ara.
“Kau curang Yun, tak memperkenalkanya padaku.”
“Aissshh…….kau ini, kalau kuperkenalkan pasti kau jadikan korban juga.”kata Yunho menghardik.
“Bagaimana kabarmu Ara?”tanya Yunho.
“Baik, bagaimana denganmu Yun? Apa kau sudah menjadi fotografer handal sekarang?”tanya Ara.
“Ah…..biasa aja, aku bekerja di majalah mode di Seoul sebagai fotografer tetap.”jawab Yunho menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sepertinya aku jadi kambing congek ya? Kalau begitu aku ketoilet saja dulu.”Changmin berdiri menyadari dia hanya jadi pendengar yang baik diantara mereka.
Ara dan Yunho saling pandang tapi tak mencegah Changmin karena masih sibuk dengan pikiranya masing-masing.
“Kapan kau menikah Ara, kudengar kau sudah punya anak?”tanya Yunho.
“Mwo? Darimana kau tahu aku sudah punya anak?”tanya Ara kaget tahu kalau Yunho tahu dia sudah punya anak.
“Dari Changmin, dia bilang rekannya yang jadi design interior ini sudah punya anak, apa itu benar?”
“Nde, aku sudah punya anak.”jawab Ara.
“Suamimu?”
“Dia………”belum sempat Ara menjawab tiba-tiba dikejutkan dengan pengumuman dari Tuan Rumah yang meminta tamu undangan berkumpul dilantai dua.
Yunho tak lagi sempat banyak bertanya pada Ara karena Donghae ternyata banyak melibatkan Ara dalam acaranya walhasil Yunho tak bisa mengorek keterangan apa-apa dari Ara padahal dia sangat penasaran kenapa Ara tak berpamitan padanya saat pindah ke luar negeri.
Ara meninggalkan pesta lebih cepat dari tamu undangan lainnya,Yunho tak sempat bertanya nomer hp Ara, beruntung Changmin menyimpan nomer Ara dan memberikannya pada Yunho.


"HIDING"


“Aku pergi dulu Ara.”Siwon mencium gemas Valentine dalam gendongan Ara.
“Hati-hati.”Ara tersenyum dan Siwon memasuki mobilnya berlalu diiringi lambaian tangan mungil Valentine yang dituntun tangan Ara.
“Ara!”
“Eh..”Ara terkejut tiba-tiba ada yang menyapanya dari belakang.
“Kau Yun, sedang apa disini?”Ara kaget melihat orang yang menyapanya.
“Sedang cari inspirasi.”Yunho mengacungkan kamera yang dibawanya.
“Kau tinggal disini? Apa dia suamimu?”tanya Yunho yang ternyata melihat Siwon tadi.
“Eh, dia…..”Belum selesai Ara menjawab Valentine memaksa ikut dengan Yunho.
“Nyaynayayeaye……”Tangan Valentine menggapai-gapai melihat Yunho.
“Eh kenapa sayang?”Ara kewalahan mencegah Valentine yang bergerak mengulurkan tangannya ingin ikut dengan Yunho.
“Aih..kau mau ikut Ahjussi?”Yunho mengulurkan tangannya menyambut Valentine.
“Boleh Ara?”tanya Yunho melihat Ara yang masih agak enggan melepaskan Valentine.
“Baiklah…”Ara akhirnya melepaskan Valentine yang terus memaksa ingin digendong Yunho.
“Cantik dan imut sekali, siapa namamu?”tanya Yunho pada Valentine, Valentine terlihat sangat senang dan tangannya tak berhenti meraba-raba wajah Yunho membuat Yunho tertawa senang.
“Valentie.”Jawab Ara.
“Valentine? Apa dia lahir saat hari Valentine?”tanya Yunho.
“Nde.”jawab Ara singkat.
“Oh ya, kami harus pergi Yun.”kata Ara tiba-tiba teringat sesuatu.
“Kau mau kemana?”kata Yunho agak kecewa saat Ara meminta Valentine kembali.
“Kerumah sakit.”
“Siapa yang sakit?”tanya Yunho yang belum memberikan Valentine pada Ara.
“Anyo..tidak ada , hanya imunisasi untuk Valentine saja.”jawab Ara.
“Oh…boleh aku mengantarmu Ara?”tanya Yunho berharap.
“Anyi..tidak usah Yun, aku tak mau merepotkanmu.”kata Ara menolak secara halus.
“Aku tidak sibuk Ara, boleh ya?”mata Yunho mengisyaratkan keseriusanya, Ara hanya mengangguk membuat Yunho mengembangkan senyumnya.
“Biar Valentine aku yang gendong.”Yunho melangkah sambil terus bercanda dengan Valentine yang terlihat juga tertawa terus, senang dengan candaan Yunho.
“Kalian saling menyukai.”kata Ara melihat keakraban yang terjalin antara Valentine dan Yunho padahal mereka baru pertama kali bertemu.
Yunho begitu jatuh hati  pada Valentine melihatnya, dia tak ingin melepaskan pandangan matanya dari senyum polos Valentine, rasanya ingin selalu menggendongnya dan melihat tawanya yang sangat lucu dan menggemaskan.
“Wah Appa Valentine sekarang bisa menemani ya?”kata Dokter  Kwon melihat Valentine digendong Yunho.
“Dokter Kwon,dia…”
“Nde dokter, saya Jung Yunho.”belum sempat Ara menyelesaikan langsung dipotong Yunho.
“Dokter Kwon Boa imnida”kata dokter Kwon ramah.
Ara tak bicara apa-apa lagi karena dokter Kwon langsung mengajak Valentine keruang pemeriksaan, Ara hanya mengikuti Yunho dan dokter Kwon karena Yunho tak mau memberikan Valentine padanya dan malah asyik menanyakan ini itu tentang imunisasi dan kesehatan bayi dengan dokter Kwon.
Valentine menangis keras saat jarum suntik berisi imunisasi menancap di lengan kirinya, Yunho menenangkannya dengan suara lembut dan membelai rambut Valentine dengan sayang.
Ara yang melihat itu terharu dan sempat menitikkan airmata namun segera dihapusnya sebelum sempat dilihat orang lain.
“Aku akan mengantarmu pulang.”kata Yunho setelah selesai dari rumah sakit.
“Gomawo.”Ara hanya mengangguk.
“Kau sudah makan Ara?”tanya Yunho.
“Belum.”jawab Ara memberikan botol susu pada Valentine yang tampak mengantuk digendongan Yunho.
“Kita mampir ke café dulu, aku juga belum makan.”Ujar Yunho.
“Nde.”Ara tak menolak karena dia sendiri juga merasa lapar dan ingat dirumah belum ada apa-apa karena dia belum sempat belanja tadi.
Sesampai di café Yunho dan Ara memilih sofa panjang, Yunho meletakkan Valentine di sofa dengan hati-hati takut membangunkan  Valentine yang tertidur pulas dengan memegangi botol susunya yang tinggal sedikit isinya.
“Apa kau tak memberinya Asi?”tanya Yunho setelah yakin Valentine tak terbangun.
“Tentu saja kuberikan, susu formula aku berikan kalau sedang keluar rumah saja seperti sekarang.”kata Ara.
“Kau Ibu yang baik ya.”Yunho tersenyum, Ara membalas senyuman Yunho dengan datar.
“Suamimu tak pernah mengantar ke dokter?”tanya Yunho.
Ara tak menjawab hanya menunduk.
“Apa pekerjaannya? Atau dia sangat sibuk? Keluar kota mungkin?”tanya Yunho berturut-turut. Tapi Ara tak menjawabnya juga.
“Ara…….”
“Eh itu anu……”Ara bingung harus menjawab apa.
“Tapi kulihat dia sangat sayang dengan Valentine.”Ara menebak pasti Yunho melihat Siwon mencium Valentine tadi sebelum pergi. Ara hanya tersenyum miris.
 “Aku terlalu cerewet ya?”Yunho menyadari Ara dari tadi tidak menanggapi perkataan dan pertanyaannya sama sekali.
“Anyo, bukan begitu, aku…..”Ara merasa tidak enak dengan perkataan Yunho.
“Jeongmal mianhe Ara…”kata Yunho.
“Kenapa minta maaf?”Ara merasa bingung karena seharusnya dia yang meminta maaf pada Yunho.
“Saat kau pergi ke paris aku tak tahu.”kata Yunho.
“Tapi kenapa kau tak memberitahuku kalau kau akan pindah Ara?”tanya Yunho.
“Mianhe Yun, Appa mendadak dipindah tugaskan kesana jadi aku ikut dengannya, aku ingin memberitahumu tapi saat itu kau sepertinya sedang sibuk jadi aku takut mengganggumu.”kata Ara tanpa ekspresi.
“Seharusnya kau beritahu aku Ara, kau membuat aku merasa bersalah karena aku takut akulah penyebabnya.”kata Yunho.
“Anyo..bukan Yun kau tak usah merasa seperti itu.”Ara membohongi dirinya juga Yunho.
“Aku lega sekarang.”Yunho tersenyum.
“Oh ya Yun apa kau sudah menikah dengan Bae Seulgi?”Ara mengalihkan pembicaraan.
Yunho menggelengkan kepalanya.
“Belum.”jawabnya singkat.
Ara tak bertanya lagi karena makanan datang dan mereka langsung menyantapnya tanpa banyak pembicaraan lagi. Setelah selesai Ara langsung mengajak Yunho pulang, kali ini Valentine digendong sendiri oleh Ara.
Jarak antar café dan apartementnya tidak terlalu jauh hingga tanpa mereka sadari sudah sampai.
“Gomawoyo, kau sudah mengantar kami kerumah sakit dan mentraktir aku makan.” Kata Ara di depan apartement berlantai 25 itu.
“Apa aku boleh mengantarmu keatas?”tanya Yunho ragu-ragu.
“Mian Yun, sebaiknya……”
“Nde, aku mengerti.”kata Yunho memaklumi.
“Ara apa aku boleh bertemu Valentine lagi?”tanya Yunho penuh harap.
“Tentu, kau boleh mengunjungi kami tapi mungkin bukan sekarang, kau telepon aku saja.”kata Ara.
“Kamsahamnida.”Yunho tersenyum senang.
“Anneyong……”Yunho melangkahkan kakinya menjauhi Ara. Ara bergegas masuk ke apartemennya.
Yunho membalikkan badan tapi Ara sudah tidak ada disana. Yunho mendesah, meski kecewa tapi dia senang karena Ara mengijinkannya bertemu dengan Valentine lagi.
***
Entah kenapa Yunho jatuh hati pada bayi mungil Ara. Melihat mata Valentine Yunho seperti luluh dan selalu ingin melindunginya. Mendengar Valentine menangis di rumah sakit tadi hatinya terasa teriris dan sakit.
Tapi Yunho menyadari bahwa Valentine adalah anak Ara dan lelaki yang dilihatnya tadi siang, yang Yunho tak habis pikir adalah kenapa punya anak selucu itu tapi untuk mengantarkan kerumah sakit saja tidak ada waktu, tapi Yunho kembali mengingatkan dirinya bahwa itu bukanlah urusannya, pasti ada alasan sampai seorang ayah tidak bisa mengantar anaknya ke rumah sakit.
Ara meletakkan Valentine di tempat tidurnya dengan perlahan, diciumnya kening putri mungilnya itu dengan sayang.
Mianhe sayang……
Desis Ara memandang sendu Valentine yang tertidur pulas. Ara teringat bagaimana senangnya Valentine dan Yunho bercanda saat menuju rumah sakit. 
Kenapa kau hadir lagi sekarang Yun.......
Desisi Ara sedih.
***
Yunho beberapa kali meminta Ara mempertemukannya dengan Valentine, sayang Ara belum mengizinkannya.
Yunho merasa sangat rindu pada Valentine entah kenapa perasaan rindunya pada putri Ara itu sangat besar hampir sama besar dengan rindunya pada Ara hanya berbeda tapi sama, Yunho tak bisa mengartikan perasaannya itu, dia hanya merasa gelisah dan resah.
Untuk mengobati kerinduannya Yunho memandangi foto-foto yang diambilnya saat bertemu Valentine dan Ara siang itu, Yunho merasa bersyukur masih punya foto Valentine sebagai pengobat rindunya.
Sayang Yunho tak bisa berada di Busan lebih lama lagi, kini Yunho sudah kembali ke Seoul, kembali beraktifitas seperti biasanya. Meski kesibukan bekerja banyak menyita waktunya tapi Yunho tak pernah bisa menghilangkan kerinduannya pada sosok mungil dan cute Valentine.
Ara sesungguhnya merasa sangat bersalah setiap menolak Yunho yang memintanya mempertemukan dengan Valentine.
Tapi Ara teringat masa lalunya dan tak ingin mengalami kepahitan yang sama untuk kedua kalinya. Tapi Yunho ternyata memang tak bersungguh-sungguh menginginkannya karena ternyata keinginan menggebu-gebu itu hanya dilakukan Yunho selama beberapa hari saja karena setelah itu Ara tak pernah lagi mendapat telepon dari Yunho.
Ara memendam kecewanya dalam hati. Entah kenapa sakit itu selalu ada setiap Yunho hadir dalam hidupnya.
Ara jadi merasa sepertinya salah dia kembali ke korea. Karena pada kenyataannya luka itu kembali menganga dan sama sekali belum hilang dari hatinya. Dua tahun menjalani hidup dinegeri orang Ara memang bisa menyingkirkan bayangan Yunho tapi setelah kembali ke korea dan takdir mempertemukannya kembali dengan Yunho, luka dihatinya kembali terbuka.


"GIFT OF LOVE"
Hari minggu itu Ara hanya ingin menghabiskan waktunya berdua dengan Valentine dirumah. Kesibukannya bekerja dan sering meninggalkan Valentine sendiri dengan nannynya membuat Ara hanya bertemu sore menjelang malam dengan putri mungilnya itu. Karena itu Ara ingin menghabiskan hari itu tanpa ada orang lain hanya mereka berdua.
Ara kaget mendengar bel pintunya berbunyi, dengan mengeryitkan kening Ara menuju pintu. Dalam benaknya menebak-nebak siapa yang datang. Tak banyak yang tahu dia tinggal disana selain Siwon dan rekan bisnisnya Changmin dan Lee Donghae.
Kalau Lee Domghae dan Shim Changmin tak mungkin karena mereka tak pernah datang kerumah untuk urusan pekerjaan dan Siwon juga tak mungkin karena sedang pergi ke Amerika untuk waktu dua minggu karena urusan bisnis.
Ara membuka kaca pembesar tapi tak begitu jelas melihat karena orang itu membelakanginya. Ara akhirnya membuka pintu.Saat pintu sudah terbuka orang itu masih membelakangi Ara, tapi dari tampangnya Ara seperti mengenalinya, Ara mengeryitkan keningnya.
“Anneyong haseo…..”sapa Ara melihat tamunya itu tak juga membalikkan badan.
“Eh..anneyong, mianhe..”Yunho membalikkan badannya sambil menutup hpnya.
“Yunho-ah?”tanya Ara kaget.
“Nde.”Yunho tersenyum.
“Mianhe Ara, aku langsung kesini tanpa minta ijin darimu.”kata Yunho melihat reaksi Ara yang tampak terkejut.
“Emm…”Ara bingung harus bagaimana mendapati Yunho sudah ada didepan pintu apartemennya. Untuk mengusirnya rasanya sangat berlabihan sedangkan membiarkannya masuk Ara masih ragu.
“Masuklah..”Ujar Ara akhirnya setelah beberapa saat berpikir.
“Gomawoyo.”Yunho tersenyum senang Ara menerimanya bertamu.
Yunho melihat sekeliling apartement yang cukup luas dan nyaman, ruang tamu yang tembus ke balkon yang lumayan luas juga sekitar 1,5 meter, satu kamar tidur yang terbuka pintunya dan satu tertutup, kamar mandi dekat dapur yang menyatu dengan ruang makan mungil dan menyambung dengan ruang tamu yang dipisahkan oleh pembatas kaca berbentuk lemari kotak berisi berbagai hiasan unik.
 Apartement yang nyaman dan dalam hati Yunho tak heran karena Ara adalah seorang Desaign Interior maka tak aneh jika apartement yang biasanya standar disulap menjadi tempat yang indah dan nyaman meski tak sebesar rumah tinggal pada umumnya.
“Tempat yang nyaman.”Gumam Yunho, Ara hanya tersenyum dan menyodorkan secangkir coklat panas.
“Masih menyukainya?”kata Ara.
“Gomawo, kau masih ingat rupanya.”Yunho tersenyum tipis.
“Suamimu kemana Ara?”tanya Yunho menyadari tak melihat orang lain disana hanya ada dia dan Ara.
“Dia…..”belum sempat Ara menjawab terdengar tangisan Valentine dari dalam kamar reflek Ara langsung berlari menghampirinya.
Dilihatnya Valentine menangis karena ternyata popoknya basah sehingga dia merasa gatal. Dengan cekatan Ara mengganti pampers yang baru dan Valentine kembali tertidur setelah merasa nyaman, Ara tersenyum dan mengelus lembut kepala Valentine.
“Dia cantik.”Bisik Yunho pelan tapi cukup mengagetkan Ara karena jarak kepalanya hanya beberapa centimeter disampingnya.
“Nde.”Ara tersenyum memandangi buah hatinya itu.
“Dia adalah semangat dan cinta dalam hidupku.”kata Ara lagi tanpa melepas pandangannya dari wajah mungil Valentine yang seperti malaikat.
“Kamu pasti bangga padanya.”kata Yunho yang juga asyik memandangi Valentine yang tertidur.
“Tentu saja.”Ara menoleh pada Yunho.
“Aku harap Appanya juga bangga padanya.”kata Ara datar.
“Pasti!”kata Yunho tersenyum melihat Valentine yang tertidur dengan pulas.
“Kau tahu kenapa aku nekad kesini?”tanya Yunho kemudian, Ara hanya menggeleng.
“Aku tak bisa menahan rinduku pada Valentine.”kata Yunho terus-terang.
“Mwo?”
“Nde, mianhe Ara, aku memang bukan siapa-siapa tapi aku juga tak tahu kenapa sangat ingin bertemu dengan Valentine, aku rindu padanya, kau tak pernah mengijinkanku bertemu jadi aku nekad kesini.”kata Yunho sedikit menyalahkan Ara.
“Mianhe Yun, aku tak bermaksud begitu , aku hanya..”Ara tak mampu melanjutkan kata-katanya.
“Itu bukan salahmu Ara, aku bukan orang baik wajar kau menjaga jarak denganku, aku juga merasa bersalah datang tapi suamimu tak ada dirumah.”Yunho tersenyum miris.
“Anyo,kau  sedikit berubah Yun?”Ara agak sedih melihat Yunho seperti orang yang putus asa.
“Aku pernah menyesali sesuatu dan sampai sekarang aku masih menyesalinya.”meski nada bicara Yunho terdengar sedih tapi wajahnya tersenyum dan pandangannya tak lepas dari wajah Valentine.
Perlahan Yunho mengulurkan tangannya dan mengelus kepala Valentine dengan sayang.
“Kuharap kau dan suamimu tak keberatan bila aku menyayangi Valentine.”Yunho menatap Ara yang memandangnya dengan pandangan sendu.
“Kau boleh menyayanginya Yun.”Ujar Ara menghindari pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Yunho.
“Aku juga tak tahu Ara kenapa aku sepertinya tak bisa jauh dari Valentine.”kata Yunho kembali memandang bayi mungil itu dengan perasaan sayang yang tak disembunyikan sama sekali.
“Apa kau bisa menyayanginya seperti anakmu Yun?”tanya Ara parau.
“Kalau kau mengizinkannya aku mau jadi ayah angkatnya.”wajah Yunho terlihat serius, tapi mata Ara malah berkaca-kaca.
“Tak perlu Yun..”ujar Ara lirih.
Hatinya sungguh merasa sedih, bagaimanapun dia berusaha menjauhkan Yunho dari Valentine ternyata tidak bisa. Perasaan tulus yang tumbuh dari hati yang paling dalam ternyata tak bisa dihalangi oleh apapun dan itu Ara lihat dari sikap Yunho.
Mungkin memang sudah saatnya…..
Bisik suara hati Ara.
“Kau kenapa menangis Ara?”tanya Yunho melihat airmata menetes dipipi Ara, Ara tersentak menyadari tanpa sadar dia menangis, segera dihapusnya airmata itu dengan punggung tangannya.
“Seberapa sayang kau pada Valentine Yun?”
“Entahlah…aku tak bisa menggambarkannya. Yang aku tahu sejak pertama melihatnya aku merasa sangat dekat dan terikat dengan Valentine.” Yunho tersenyum menerawang mengingat pertemuan pertamanya dengan Valentine.
“Kenapa aku tak boleh jadi ayah angkatnya Ara? Aku sungguh-sungguh menyayangi Valentine.”Yunho mendekati Ara.
“Kau tak bisa jadi Ayah angkatnya Yun, karena…”Mata Ara kembali memanas.
“Karena apa? Suamimu? Aku akan minta ijin padanya.”kata Yunho menatap tajam mata Ara.
“Anyo, bukan itu karena……”Ara benar-benar merasa tak bisa menahan perasaan juga matanya yang mulai kabur pandangannya karena mulai berair.
“Karena apa Ara? Kumohon katakan.”Yunho menggenggam tangan Ara dan mengguncangnya.
“Karena…..karena kau Appanya Yun.”ujar Ara lirih meundukkan kepalanya dan pipinya terasa hangat teraliri airmatanya.
“Mwo?!”Reflek Yunho melepaskan tangan Ara karena kaget.
“Valentine anakmu Yun.”kini Ara benar-benar tak bisa menahan airmatanya yang mengalir deras, hatinya terasa sangat perih ketika mengatakan itu.
“Ara! Benarkah?Valentine anakku!”Yunho histeris dan mengguncang bahu Ara dengan keras.
Ara hanya mengangguk tak mampu berkata apa-apa.
“Ara…”Yunho memeluk Ara yang tampak sangat sedih dan terluka.
Yunho merasa kecewa tapi juga bahagia secara bersamaan, kecewa karena Ara tak pernah memberitahunya sampai saat ini tapi bahagia karena perasaan sayangnya yang begitu besar selama ini pada Valentine terjawab sudah.
“Kenapa kau tak memberitahu aku, Ara”Yunho mengapus airmata Ara dengan jari-jarinya.
“Aku…aku takut, takut kau tak menginginkannya karena aku tahu kau tak mencintaiku, aku tak bisa merusak persahabatan kita, aku sudah berjanji melepaskanmu pada orang yang kau cintai Yun.”Ujar Ara lirih.
“Pabo!kenapa kau simpulkan sendiri semuanya Ara, tanpa bertanya padaku?”tanya Yunho tak melepaskan pelukannya.
“Kau begitu bahagia dengan Seulgi, aku tak mau merusaknya.”
“Jadi itu yang kau pikirkan?”Ara hanya mengangguk.
“Ara kau tahu apa yang menbuatku berubah?”tanya Yunho, Ara menggeleng.
“Dan kau tahu kenapa aku belum menikah dengan Seulgi sampai sekarang?”Ara kembali menggeleng karena memang tidak tahu.
“Karena sejak putus dulu aku tak pernah kembali padanya.”ucap Yunho.
“Mwo?”tanya Ara membulatkan matanya.
“Nde. Aku tak pernah pacaran lagi dengannya, kami memutuskan hanya berteman karena ternyata saat masa hiatus kami sadar kami tak saling mencintai dan ada yeoja lain yang aku cintai.”Yunho memandang Ara yang masih terlihat keheranan.
“Sayang, sebelum aku sempat mengatakannya yeoja itu pergi meninggalkanku dan tak meninggalkan jejak apa-apa padaku hingga aku sama sekali tak bisa menghubunginya, dan itu jadi penyesalan terbesarku.”nada bicara Yunho terdengar sedih.
“Kau tahu siapa yeoja itu yang aku cintai?”tanya Yunho sementara Ara hanya menunduk.
“Kau Ara.”Yunho yang sudah melepaskan pelukannya kini menggenggam tangan Ara.
“Tapi aku…”hati Ara menghangat mendapat pengakuan Yunho.
“Tapi sayangnya juga setelah aku kembali menemukanmu, kau sudah bersuami.”nada kecewa terdengar dari ucapan Yunho.
“Suamimu…apa dia tahu tentang Valentine?”tanya Yunho.
Ara menggeleng.
“Maksudmu? Kapan kau  menikah dengannya Ara?”
“Aku belum menikah.”jawab Ara datar.
“Mwo? Jadi laki-laki itu?”
“Dia sepupuku.”jawab Ara singkat.
“Ara, aku…….”Yunho tak bisa menyembunyikan kebahagiaanya saat tahu bahwa laki-laki itu bukan suami Ara.
Tanpa berkata apa-apa lagi Yunho memeluk Ara dan matanya kini menatap dalam mata Ara yang sesungguhnya sangat dirindukannya selama ini.
Perlahan Yunho menyentuh lembut bibir pink Ara dengan segenap hatinya, Yunho mencium Ara setelah sekian lama penantian panjangnya. Ara memejamkan matanya merasakan kembali sentuhan bibir Yunho yang kini terasa sepenuhnya menjadi miliknya, hatinya kini tak sakit lagi seperti dua tahun lalu saat pertama kali Yunho menciumnya.
Airmatanya tak terasa menetes dari sudut matanya bukan airmata sedih tapi airmata bahagia. Hatinya benar-benar merasa hangat dan enggan melepaskan ciuman itu.
Yunho merasa sangat bahagia kembali merasakan hangat dalam hatinya yang sekian lama hilang bersama kepergian Ara. Sesak dalam dadanya perlahan terburai bersama dengan sentuhan lembut Ara yang membalas ciuman panjangnya.
 Perlahan Yunho melepaskan ciumannya dan membuka matanya menatap mata indah Ara dan tersenyum melihat senyum itu tersungging dari sudut bibir Ara.
“Kau, maukan menikah denganku?”tanya Yunho masih memegang kedua pipi Ara.
 Ara mengangguk dan tersenyum.
“Saranghae Ara.”
“Na do saranghae.”
Sambil memeluk Ara, Yunho memandangi Valentine yang masih tertidur pulas dan sama sekali tak terganggu percakapan kedua orangtuanya.
“Dia cantik seperti kau Ara.”Bisik Yunho ditelinga Ara.
“Dia juga mirip kau Yun.”
“Aku tahu, mulut dan dagunya ternyata memang mirip denganku.”Ujar Yunho nyengir.
“Maksudmu?”tanya Ara.
“Saat melihat fotonya pertama kali entah kenapa aku merasa seperti itu tapi aku tak yakin dan baru sekarang aku benar-benar yakin memang sangat mirip.”kata Yunho bangga.
“Tapi bukannya kau ambil fotonya setelah bertemu kami sebelum kerumah sakit waktu itu?”tanya Ara.
“Anyi…aku mendapatkan potretmu dengan Valentine tanpa sengaja di Han River Park sekitar dua bulan yang lalu, aku berusaha mencarimu setelah aku sadar itu kau tapi beberapa kali aku kembali kesana kau tak pernah lagi kesana.”kata Yunho.
“Sincha? Ah!aku ingat.”Ara mengingat sore itu sempat mengajak Valentine jalan-jalan sebelum besoknya pindah ke Busan.
Yunho tersenyum dan mencium pipi Ara.
“Ara, apa Valentine selalu dekat dengan orang baru? Saat bertemu denganku Valentine seperti tak asing denganku?”tanya Yunho agak penasaran.
“Anyo,dia sebenarnya takut dengan orang asing Yun, mungkin karena ini.”Ara membalikkan sebuah foto yang menggantung didinding.
“Foto?”yunho memperhatikan fotonya sendiri.
“Aku memperkenalkanmu sejak dia lahir Yun, karena kau adalah Appanya dia harus mengenalmu.”
Yunho tak berkata apa-apa hanya memeluk Ara dengan berjuta kata-kata dalam benaknya yang tak mampu dikeluarkan jadi kata-kata dan baru menyadari bahwa hanya ada foto Ara dan Valentine serta kakek dan nenek Valentine sedangkan satu-satunya foto namja adalah foto dirinya yang terpajang didinding kamar Valentine yang didekorasi dengan nuansa pink.
“Aku akan memajang potret kita bertiga memenuhi dinding kamar ini Ara, agar Valentine tahu Appa dan Ummanya sangat bangga dan mencintainya.”Ucap Yunho terharu.
***
“Kapan kau mengetahuinya Ara?”tanya Yunho.
“Seminggu setelah kepindahanku ke Paris.”jawab Ara menggenggam erat tangan Yunho dipinggangnya.
“Seandainya kau beritahu aku dari awal maka kebahagiaanku tak akan tertunda hingga kini, Ara.”Bisik Yunho lembut.
“Jeongmal mianhe Yun.”
“Aku juga minta maaf Ara, seharusnya aku beritahu kau tentang perasaanku saat itu tapi aku juga ragu dan takut sama sepertimu.”
“Nde.”
Ara menyentuh pipi Valentine dengan lembut saat dia menggeliat.
“Gomawo Ara.”Yunho melepaskan pelukannya dan tangannya ikut mengusap kepala Valentine.
“Untuk apa?”tanya Ara memandang Yunho.
“Hadiah cinta yang paling indah.”Yunho tersenyum mengecup kening Valentine dan kemudian kening Ara.
“Ara berjanjilah padaku kau akan jadi sahabat dan istriku juga ibu anak-anakku sampai maut memisahkan kita.”Ujar Yunho menatap lembut mata Ara.
Ara tak mampu berkata apa-apa hanya bisa tersenyum dan mengangguk karena sebuah janji tak harus diucapkan tapi terpatri dalam hati.
^ END ^

감사합니다

Tidak ada komentar:

Posting Komentar