COLD HEART
This is the first fanfic that I post on my Blog. Untuk karakter dan cerita hanya karangan semata bila ada kesamaan cerita dan karakter atau apapun dalam ff ini itu bukan kesengajaan karena semua tulisan yang aku buat pure karangan aku semata. Untuk main cast x ini akku pake 2 hallyu wave favoriteku yaitu yunho dan ara. Hate plagiat but kalo pengen sambungin cerita ini menurut versi kamu, here we go I support you always.
Hope you happy reading and mianhe if I’m not good in Korean translate for some words, sorry……………
Main Cast : Go Ara , Yunho
Support Cast : Yoen Hee, Min Ho, Geun Suk, Ki Bum, Donghae,Jung Ill Woo, Yoen Ji, Yuri
Genre : Romance, Friendship
Rating : Bebas
Category : One Shot
“Gila! Mobil baru lagi?”Teriak Yoen Hee membelalak.
Ara Cuma tersenyum melihat temannya itu berteriak dengan kaget.
“Siapa lagi kali ini, Ara?”
“Siapa?”Ara mengeryitkan dahinya.
“Korbanmu kali ini?”Yoen Hee memincingkan matanya.
“Husss…….tak ada yang jadi korban atau dikorbankan.”Ara mendelik.
“Aishh………kau!”Yoen Hee hanya geleng kepala.
“Kita jalan? Aku mau beli tas keluaran Guci terbaru, kemarin aku lihat sudah ada di stand, ini edisi terbatas.”Ara tersenyum pada Yoen Hee yang masih geleng-geleng kepala.
“ATM siapa lagi sekarang yang kau bawa?”tanpa banyak tanya Yoen Hee masuk ke mobil baru Ara yang punya merk 3 huruf itu.
Ara hanya tersenyum sementara tangannya merogoh tas disampingnya dan mengambil ATM kemudian memberikannya pada Yoen Hee.
“Jung Ill Woo? Hmm….boleh tahu berapa isinya? Apa kau sudah mengeceknya?”Yoen Hee memperlihatkan muka mupeng yang sangat penasaran.
Ara tertawa melihat muka Yoen Hee.
“Aishh……”Yoen Hee cemberut melihat Ara hanya tersenyum.
“Cukup untuk mentarktirmu makan.”jawab Ara enteng.
“Kenapa makan? Kau tahu Ara aku sedang menginginkan sepatu prada biru itu untuk pestanya Geun Suk.”kata Yoen Hee penuh harap.
“Maksudmu?”
“Please?”Yoen Hee memperlihatkan muka memelasnya.
“Aishh…kau ini, aku yang kerja kau yang menikmati.”Ara pura-pura tak mau.
Yoen Hee tersenyum masih dengan wajah memelasnya.
“Ah kau! Ne…ne….masih cukup.”
Yoen Hee memeluk temannya itu dengan wajah gembira.
“Jangan peluk-peluk! Kau mau aku menabrak!”Ara menyingkirkan Yoen Hee yang menggelayut di pundaknya.
“Mianhe…”Yoen Hee tersenyum.
Tak lama mereka sudah bersenang-senang di pusat perbelanjaan mewah dengan tangan yang full bag pack berbagai merk terkenal. Sebagai teman Yoen Hee kecipratan rejeki dari hoby Ara yang senang menghambur-hamburkan uang berbelanja barang-barang merk terkenal dengan uang yang didapatkan dari lelaki yang mendekatinya dan memanjakannya dengan segala kemewahan dan uang yang berhamburan.
“Ara siapa Jung Ill woo?”tanya Yoen Hee saat mereka mampir di sebuah café untuk makan.
“Dia pengusaha asal Kanada keturunan Korea”kata Ara enteng.
“Kapan kau mengenalnya?”tanya Yoen Hee lagi.
“Dua hari yang lalu di pesta Lee Corp.”
“hah! Baru dua hari dan dia sudah menyerahkan ATM-nya padamu? Apa yang kau lakukan sampai membuatnya begitu mudah mempercayaimu?”Yoen Hee terheran-heran dengan temannya yang satu ini.
“Apa maksudmu? Tak ada yang kulakukan, dia hanya bilang aku boleh belanja sesukaku dengan ATM ini asal mau menemaninya datang ke pesta pembukaan café miliknya di korea yang baru akan di buka hari sabtu malam besok.”jawab Ara.
“Masa begitu saja?”Yoen Hee masih tidak percaya dengan alasan Ara.
“Aish……kau pikir apa? Aku bukan wanita pabo, Yoen Hee, memang kau tidak percaya padaku?”Ara mendelik mendengar Yoen Hee masih meragukannya.
“Anyoo…Tapi aku masih bingung kenapa laki-laki bisa begitu mudah menuruti apa maumu, memang mereka tidak menginginkan sesuatu darimu? Tidak ada yang gratis didunia ini kan?”tanya Yoen Hee masih tak percaya.
“Mereka yang berlomba menunjukkan egonya dan aku hanya memanfaatkan gengsi mereka saja.”Ara menjawab tanpa dosa.
“Benar mereka tak menginginkan imbalan?”Yoen Hee menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Pabo! Mana ada mereka kasih Cuma-Cuma ya pasti ada imbalannya.”Ara menjitak gemas temannya yang lumayan lemot itu.
“Hah?!”Yoen Hee melotot.
“Yaa! Hilangkan pikiran jorokmu…mereka hanya minta ditemani berkencan dan makan malam atau datang ke pesta, itu saja, Arasso?”
“Sincha?”Yoen Hee masih tak habis pikir.
“Sudah…kamu ga bakal nyampe kesana, jadi temanku saja yang baik, Ok?”Ara tersenyum melihat Yoen Hee masih penasaran dan terlihat belum puas.
“Oh ya Jung Ill Woo itu masih muda?”tanya Yoen Hee.
“50 tahun.”
“Mwo? Ah…Ara apa kau gila?”Yoen Hee seperti tidak rela Ara berkencan dengan laki-laki yang umurnya dua kali lipat dengannya.
“Wae?”Ara menyipitkan matanya.
“Apa kau tak takut Ara? Dia seusia ayahku!”
“Kau ini tak usah berlebihan begitu, aku juga pernah berkencan dengan lelaki berusia 65 tahun.”jawab Ara kalem.
“Apa dia sudah punya istri?”
“Katanya belum.”
“Apa kau percaya?”
“Tentu saja tidak! Tapi aku tak mau ambil pusing itu bukan urusanku.”jawab Ara cuek.
“Apa kau tidak takut istrinya akan melabrakmu Ara? Bagaimana kalau dia tiba-tiba datang saat kau sedang berkencan?”tanya Yoen Hee khawatir.
“Aku tak bermaksud menjadi simpananya, jadi kalau dia meminta lebih dari kencan, aku tinggalkan dia.”Ara menjawab dengan santai tanpa beban.
“Dasar kau.”
Ara tertawa saja melihat reaksi Yoen Hee.
****
“Ara kau mau ikut ya?”Yoen Hee merajuk pada Ara yang sedang malas-malasan.
“Aku malas Yoen Hee.”
“Ayolah…..”Yoen Hee menggoyang-goyang tangan Ara yang sedang memegang remote TV.
“Tapi……”
“Please?”Kalau sudah memperlihatkan muka memelasnya maka Ara tak bisa menolak satu-satunya teman yang dekat dengannya itu.
Ara akhirnya menuruti permintaan Yoen Hee meski dengan setengah hati. Ara tak terlalu suka kepesta-pesta anak-anak muda karena buat dia itu sama sekali tak ada manfaatnya menurut dia. Meski datang ke pesta Ara hanya menemani seseorang atau teman kencannya untuk basa-basi. Jauh dalam hatinya Ara sangat membenci pesta yang menurutnya penuh kepalsuan dan hura-hura semata.
Tapi demi menyenangkan satu-satunya sahabat yang mau dekat dengannya tanpa melihat sisi buruknya, Ara akhirnya mengalah dan bersedia menemani Yoen Hee datang ke pesta yang diadakan oleh Geun Suk.
Seperti dugaan Ara pesta itu berisi anak-anak muda dengan segala tingkah polahnya, meski Ara sendiri juga sebenarnya belum bisa dibilang dewasa karena umurnya baru menginjak 20 tahun sama seperti Yoen Hee dan juga Geun Suk.
“Anneyong haseo!”Yoen Hee menyapa Geun suk.
“Yoen Hee-ahh, kau datang juga.”Geun Suk menyambut Yoen Hee dengan senyum lebar.
“nde! Perkenalkan ini temanku, Go Ara!”Yoen Hee memperkenalkan Ara pada geunSuk.
“Choneon Go Ara imnida.”Ara membungkuk dengan sopan.
“Jang Geun Suk Imnida.”Geun Suk tersenyum, tak menyembunyikan keterpesonaannya pada Ara.
Cukup lama Geun Suk menatap Ara yang agak risih dipandang seperti itu, sampai Yoen Hee menyadarinya.
“Geun Suk-ahh, toilet dimana ya?”tanya Yeon Hee mengagetkan Geun Suk.
“Eh ..Anu… Disana!”Geun Suk menunjuk kea rah kirinya.
“Kami ke toilet dulu, anneyong..”Yeon Hee menggeret tangan Ara yang hanya mengangguk sekilas pada Geun Suk.
“Syukurlah..”Ara mendesah lega.
“Kenapa sih dia memandangku seperti itu.”Ara bersungut-sungut kesal.
“Kau tidak sadar semua namja di pesta memandangmu?”tanya Yoen Hee melihat Ara dari kaca toilet.
“Memang kenapa denganku? Apa dandananku ada yang salah?”tanya Ara melihat dirinya sendiri dikaca dan tak menemukan keanehan diwajah dan pakaiannya, karena Ara tidak berdandan menor hanya bedak tipis dengan lipgloss baby pink serta eyeliner tipis dan mascara tipis, sedangkan bajunya dress silver panjang dengan potongan strapless yang menutupi dadanya meski punggungnya terlihat terbuka tapi Ara membawa sweater berwarna senada yang dipegangnya.
Terlihat sempurna dan tak ada sesuatu yang salah atau berlebihan.
“Anyii…mereka melihatmu karena terpesona kecantikanmu Ara.”Yoen Hee mengerucutkan mulutnya memandang Ara yang kadang-kadang tak sadar dinya sangat cantik hingga kemanapun melangkah selalu menjadi pusat perhatian.
“Ah…kau berlebihan.”Ara menanggapi dengan santai.
“Kau ini… selalu begitu, apa kau tak tahu kau itu bisa bikin namja tidak tidur semalaman hanya memikirkanmu.”kata Yoen Hee yang merasa kalau Ara tak pernah peduli dengan kecantikannya sendiri.
“Sudahlah…ayo.”Ara melangkah keluar toilet, Yoen Hee hanya mengikuti.
Ara tak pernah memanfaatkan kecantikannya untuk mengencani namja-namja seusianya yang banyak tertarik padanya karena Ara lebih tertarik mengencani Pria berusia diatasnya yang berduit, menurutnya biar namja itu kaya tapi bukan uang mereka sendiri makanya Ara lebih suka mengincar pria-pria mapan meski itupun hanya dia jadikan permainan semata.
Sepertinya Geun Suk benar-benar terpesona dengan kecantikan Ara sampai dia membicarakannya dengan teman-temannya, sedangkan matanya sesekali memandang kearah toilet memastikan Ara dan Yoen Hee keluar dari sana.
“Dia benar-benar cantik.”Ujar Geun Suk pada sahabat-sahabatnya.
“Siapa?”tanya Min Ho.
“Ara, temannya Yoen Hee, wanita tercantik yang pernah aku lihat.”kata Geun Suk penuh semangat.
“Aku jadi penasaran…”ujar Ki Bum melihat Geun Suk bersemangat.
“Secantik apa sampai playboy macam kamu dibuat meleleh begitu?”tanya Donghae mengeryitkan dahinya.
“Dia beda dengan wanita lain, entahlah…dia itu seperti….dewi.”Geun Suk melirik kearah toilet dan melihat Ara dan Yoen Hee keluar dari sana.
“Apa tak terlalu berlabihan.”Ucap Yunho cuek.
“Itu mereka.”Geun Suk berdiri dan melambaikan tangan kearah Yoen Hee dan Ara.
Yoen Hee yang melihat Geun Suk melambaikan tangan kearahnya mengajak Ara menghampiri mereka meski awalnya Ara agak keberatan karena sudah terlanjur bête dengan pandangan Geun Suk saat mereka berkenalan tadi.
Ara melangkah dengan malas mengikuti Yoen Hee.
“Kalian gabung duduk disini saja ya?”Geun Suk memberikan tempat duduk untuk Ara dan Yoen Hee.
Seperti bisa diduga teman-teman Geun Sukpun tak jauh berbeda reaksinya dengan Geun Suk, mereka dibuat terpesona dan tak bisa berkata-kata saat melihat sendiri siapa Ara. Satu persatu berebut memperkenalkan diri kecuali satu orang yang acuh dan tampak tak terlalu tertarik yaitu Yunho.
Ara menaggapi biasa saja teman-teman barunya itu buatnya mereka sama saja dan tak terlalu menarik buatnya. Meski sesekali dia tertawa dengan candaan Geun Suk dan teman-temannya tapi Ara merasa bosan terus berbasa-basi dengan mereka.
“Yeon Hee kita pulang sekarang?”Ara berbisik ditelinga Yoen Hee.
“Tapi Ara…..”Yoen Hee agak keberatan karena masih asyik mengobrol dengan Geun Suk dan teman-temannya.
“Besok aku harus ke Jinju, kalau kau ingin tinggal aku pulang sendiri saja, kau pakai taksi saja ya?”
“Ah, masa pakai taksi? Iya deh kita pulang.”Yoen Hee menuruti Ara.
“Mianhe, kami harus pulang sekarang.”Kata Ara bediri diikuti Yoen Hee.
“Ah kenapa cepat pulang?”ujar Geun Suk kecewa.
“Sudah malam, Kamsahamnida.”Ara mengangguk dan meninggalkan mereka.
“Anneyong.”Yoen Hee mengikuti Ara.
“Tunggu! Aku antar?”tawar Geun Suk.
“Tidak usah aku bawa mobil, gomawo.”Ara bergegas menyeret tangan Yoen Hee.
Geun Suk memandang dengan kecewa kepergian Ara dan Yoen Hee.
“kalian lihat! Dia berbeda dengan yeoja lain yang aku kenal.”kata Geun Suk kembali duduk dengan teman-temannya yang menertawakannya ditolak seorang yeoja.
“Dia memang cantik, aku tak keberatan meninggalkan yeojacinguku kalau dia mau jadi pacarku.”kata Ki Bum.
“Huss…jangan bermimpi! dia tak tertarik padamu, kau lihat tadi dia acuh padamu.”kata Donghae mencibir Ki Bum.
“Iya juga, sepertinya tak ada diantara kita yang membuatnya tertarik ya?” kata Min Ho mengeryitkan dahi.
“Benar juga, padahal kita-kita kan namja yang tampan dan yeoja-yeoja akan memuja kita kan?”kata Geun Suk percaya diri.
“Itu sih menurutmu.”Kata Ki Bum .
“Memang iya kan?”
“Ne..ne…”Min Ho mengangguk-angguk.
*****
Ara berdandan seadanya meski har I ini Jung Ill Woo mengajaknya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan kelas atas. Meski hanya memakai dress berpotongann simple berlengan pendek, Ara tetap terlihat cantik. Dress hitam itu terlihat elegan dan cantik dengan paduan sepatu high hills berwarna hitam membuat kulit putihnya makin terlihat bersinar dengan warna yang kontras antara kulit dan baju yang dipakainya.
Tapi suasana hatinya sedang tidak enak sebenarnya hari ini.
“Kau mau kemana Ara?”Yoen Hee yang baru masuk bertanya pada Ara yang sudah rapi terlihat hendak pergi.
“Jung Ill Woo-ssi memintaku menemaninya membeli sepatu.”kata Ara menyambar kunci mobilnya.
“Apa kau bawa mobil sendiri? Dia tidak menjemputmu?”tanya Yoen Hee heran melihat Ara mengambil kunci mobil.
“Aku tak mau dia datang kesini.”jawab Ara.
“Kau ini aneh…”Yoen Hee hanya bisa geleng-geleng kepala melhatnya.
“Aku pergi, Bye.”Ara meninggalkan Yoen Hee.
“Eh……”belum sempat Yoen Hee meneruskan ucapannya Ara sudah menghilang dibalik pintu apartemen.
Yoen Hee memang menumpang tinggal di apartemen Ara sejak setahun belakangan, tepatnya sejak Ara membeli apartement dan memilih tinggal sendiri sejak pergi dari rumahnya. Itulah salah satu alasan Ara menjadi yeoja yang mengincar Om-Om senang untuk diajaknya kencan hanya untuk mengincar saku mereka saja.
Meski Yoen Hee tahu tapi dia tahu Ara bisa menjaga dirinya, Ara tahu batasnya dan dia adalah Yeoja yang pintar jadi selama itu menguntungkan untuk dirinya dan tak membuatnya rugi sama sekali maka Ara akan melakukannya, meski Yoen Hee sering khawatir dan takut karena pandangan orang tentang sahabatnya sangat negative, tapi buat Yoen Hee, Ara adalah sahabat terbaiknya, karena hanya dia yang ada saat Yoen Hee sedang senang atau terpuruk.
Flash Back
Ara adalah satu-satunya sahabat yang peduli padanya saat Yoen Hee merasa sendiri didunia ini. Setahun lalu Orang tua Yoen Hee meninggal dalam sebuah kecelakaan saat mengunjungi rekan bisnis mereka di Busan.
“Yoen Hee, kenapa menangis?”tanya Ara saat melihat Yoen Hee tidak mengikuti mata kuliah dan menangis di bangku taman.
“Anyi..”Yoen Hee menghapus airmatanya.
“Apanya yang tidak, matamu merah begitu.Aku tahu kau sedih karena orangtuamu tapi kau tidak boleh seperti ini terus Yoen Hee, orangtuamu pasti akan sedih melihatmu seperti ini.” Ara memegang pundak Yoen Hee dengan lembut.
“Nde……..aku sudah merelakan mereka.”meski berkata seperti itu tapi mata Yoen Hee kembali berkaca-kaca.
“Lantas apa yang membuatmu sedih?”tanya Ara memandang wajah temannya itu.
“Anyyii……”Yoen Hee menggelengkan kepalanya.
“Yoen Hee, berbagilah denganku, setidaknya biarkan aku membantumu.”Ara tahu Yoen Hee agak enggan menceritakan masalahnya.
“Aku tak ingin menyusahkan orang lain.”Yoen Hee menghapus airmatanya.
“Yoen Hee! Aku bukan orang lain, aku sahabatmu!”Ara mengguncang pundak Yoen Hee.
“Gomawo Ara, gwencana…….”
“Yoen Hee!”Ara memandang tajam Yoen Hee yang masih enggan bercerita.
“Aku akan marah kalau kau tetap seperti ini, jangan bilang tidak apa-apa, kau tak pandai berbohong Yoen Hee.”Ara masih berusaha membujuk Yoen Hee menceritakan bebannya.
Yoen Hee menghela nafasnya.
“Rumahku akan disita bank Ara.”airmata Yoen Hee kembali menetes, dia hanya mampu menunduk dengan sedih.
“Mwo?!”
“Appa meninggalkan tunggakan dibank dengan jaminan rumah Ara, dan aku tak bisa melunasi utang Appa karena aku memang tak punya tabungan, mereka memintaku mengosongkan rumah besok.”
Ara memeluk sahabatnya itu dengan prihatin.
“Gwencana….kau tinggal denganku mulai besok.”kata Ara.
“Tapi…”
“Tidak pakai tapi, kayo! kita kemasi barangmu sekarang!”
Yoen Hee yang masih dalam keadaan sedih, bingung dan kecewa hanya menuruti apa perkataan Ara. Pikirannya yang masih buntu dan susah untuk diajak berfikir hanya pasrah saat Ara mengemasi barangnya yang tidak seberapa banyak bisa dibawa karena barang-barang berharga didalam seisi rumah hampir semuanya disita.
Tanpa terasa Yoen Hee sudah tinggal hampir satu tahun dengan Ara, dan perlahan dia sudah bisa memahami Ara luar dalam. Saat Ara masih aktif kuliah Yoen Hee hanya mengenal Ara dari luarnya saja tanpa tahu pribadi Ara yang sebenarnya.
Sempat terpikir oleh Yoen Hee pandangannya terhadap Ara ikut terbentuk dengan opini dari teman-teman masa kuliahnya, yaitu bahwa Ara bukanlah yeoja baik-baik dan materialistis, tapi setelah tinggal satu atap Yoen Hee baru tahu ada sisi lain pada diri Ara yang orang lain tak tahu dan Ara tak memperlihatkan juga pada orang lain. Ara lebih suka bila orang memandangnya sebagai yeoja yang materialistis dan buruk tapi buat Yoen Hee, Ara adalah malaikat yang bertopeng setan, itulah kenapa dia tidak peduli dengan pandangan orang terhadap Ara.
End Flash Back
Yoen Hee hanya tersenyum ketika teringat masa lalunya yang pahit.
Ara,aku benar-benar berhutang budi padamu…..
Yoen Hee menggumam.
*****
“Kenapa si cantik ini diam saja dari tadi?”tanya Jung Ill Woo melihat Ara diam saja.
“Sedang tidak mood.”Jawab Ara datar.
“Kau bosan menemaniku? Atau ada yang sedang membuatmu kesal?”
“Kenapa bisa tahu?”tanya Ara.
“Kelihatan dari wajahmu.”Ill Woo tersenyum melihat Ara yang masih kelihatan manja itu memonyongkan mulutnya.
“Eh,kau mau apa?”Ara menjauhkan mulutnya saat Ill Woo mendekatkan wajahnya pada wajah Ara.
“Menciummu.”jawab Ill Woo tanpa basa-basi.
“Jangan macam-macam ya!”Ara melotot.
“Sekali saja Ara!”Ill Woo memohon.
“Kau sudah berjanji tak macam-macam denganku, atau kau mau aku pulang sekarang?!”Ara berdiri dengan marah.
“Anyo!anyo! baiklah aku minta maaf tapi jangan tinggalkan aku disini sendiri, Ok?”Ill Woo akhirnya mengalah melihat Ara yang tampak sangat marah.
Dengan kesal Ara duduk kembali dan menyeruput minumannya dengan kesal.
Dasar orang tua tidak tahu diri, masih untung seorang yeoja cantik menemanimu jalan masih mau macam-macam, dasar busuk!
Sungut Ara dalam hati.
Sejak masuk café itu mereka memang jadi pusat perhatian, Ara tahu banyak yang berbisik-bisik dibelakang mereka. Mereka pasti tahu Jung Ill Woo bukanlah ayahnya karena sikap Ill Woo yang berlebihan dan memperlakukannya seperti kekasihnya bukan anaknya, apalagi Ara sudah sering ke Café itu dengan berganti-ganti pasangan, tapi sepertinya pelayan dan pemilik café sudah maklum dan tetap menyambut Ara denga ramah meskipun Ara sendiri tidak tahu mereka membicarakan apa dibelakangnya, Ara tidak ambil pusing.
*****
Lee Min Hoo memasuki café dan celingak-celinguk mencari seseorang, wajahnya langsung mengembangkan senyum melihat orang yang dicarinya duduk disalah satu meja. Min Ho segera menghampirinya.
“Sudah lama menunggu?”Min Ho tersenyum melihat Yeoja didepannya Nampak sudah bête.
“Sudah berakar.”jawabnya sekenanya.
“Yoona-ah, mianhe.”Min Ho mencubit pipi Yoona dengan gemas.
Yoona hanya mendelik tapi mukanya memerah karena sentuhan Min Ho.
“Sebagai permintaan maafku setelah makan kita nonton? Bagaimana?”kata Min Ho melancarkan rayuannya melihat Yoona masih tampak cemberut.
“Sincha?”
“Nde! Sekarang seyum dong!”Yoona tersenyum dengan malu, Min Ho pun tersenyum melihat Yoona luluh.
Saat menunggu makanan pesanan datang Min Ho menyapu pandangannya keseluruh café dan tertegun melihat tamu di meja café yang posisinya ada diluar, karena café itu memang punya dua ruangan yang ada di dalam ruangan dan luar ruangan dengan sekat kaca.
“Kau lihat apa?”tanya Yoona melihat Min Ho tertegun beberapa lama menatap kearah luar café.
Yoonapun mengikuti arah pandangan mata MinHo.
“Kau mengenalnya?”Yoona mengerutkan keningnya saat tahu Min Ho sedang memandang seorang Yeoja cantik.
“Dia seperti Ara-ssi.”kata Min Ho.
“Siapa Ara?”tanya Yoona.
“Temannya Yoen Hee.”kata Min Ho.
“Yoen Hee?”Yoona semakin mengerutkan keningnya.
“Nde, Yooen Hee itu teman Geun Suk, kami berkenalan di pestanya kemarin tapi itu siapa ya yang bersamanya?”tanya Min Ho.
“Oh…Appanya mungkin. Apa kau menyukainya?”tanya Yoona curiga.
“Anyi! Geun Suk menyukai Ara, tapi mereka tidak mirip.”kata Min Ho sedikit memincingkan matanya.
“Ah mereka pergi!”Min Ho yang berniat menghampiri mereka agak kecewa melihat Ara meninggalkan café.
“Penasaran sekali, aku jadi curiga…”kata Yoona melihat wajah Min Ho yang tampak kecewa.
“Anyi, aku penasaran karena aku rasa itu bukan Appanya, sudahlah makanan sudah datang.”Min Ho mengalihkan pembicaraan tepat disaat pelayan membawakannya makanan.
*****
“Sial! Kenapa susah sekali sih mendekati yeoja satu itu!” Geun Suk tampak sangat kesal.
“Siapa?”tanya Donghae melihat temannya uring-uringan.
“Ara!”jawab Geun Suk masih dengan muka kesalnya.
“Jadi kau belum berhasil? Hahaha…….playboy kena batunya sekarang!”Ki Bum tertawa melihat wajah Geun Suk yang merah padam.
“Sial kau!”Geun Suk melempar bantal kearah Ki Bum.
“Aku melihatnya kemarin.”kata Min Ho.
“Apa hebatnya melihat dia?”kata Donghae.
“Tidak ada, hanya aku melihatnya di café dengan Oom-Oom.”Kata Min Ho membuat mereka terkejut.
“Mwo?jangan sembarangan kau!”Geun Suk langsung melotot kearah Min Ho.
“Kya! benar aku melihatnya, hanya aku tak yakin dia dengan siapa yang pasti orang itu seumuran dengan ayahnya.”kata Min Ho lantang.
“Memang kau tahu ayahnya?”tanya Donghae.
“Nggak juga sih….ya pokoknya kemarin aku lihat Ara makan di café dengan Ahjussi.”kata Min Ho.
“Pasti itu Appanya.”kara Geun Suk tak ingin mencurigai yeoja yang sedang diincarnya.
“Kau sedang apa Yun, diam saja dari tadi?”tanya Ki Bum melihat Yunho serius membaca majalah.
“Sedang membaca profil pengusaha asal Kanada.”jawab Yunho yang dari tadi enggan terlibat pembicaraan masalah Ara.
“Yah..kau ini diotakmu hanya bisnis saja.”Donghae ikutan nimbrung mengomentari Yunho.
“Appa sudah menyerahkan usaha ini aku bisa apa?”kata Yunho meletakkan majalahnya.
“Aku juga harus mulai membuka majalah seperti ini Yun, Appa juga memintaku memimpin The Hotels bulan depan.”Ujar Min Ho mengambil majalah bisnis yang baru diletakkan Yunho.
“C’mon guys, kita datang kesini untuk relaks bukan untuk ngomongin bisnis!”Geun Suk kesal melihat Min Ho malah ketularan Yunho ikutan serius.
“Aku ambil minum saja.”Yunho melangkah ke bar kecil yang ada diruangan besar itu dan mengambil susu murni dari dalam kulkas disamping bar.
“Kau ini punya bar dan minumanbegitu banyak tetap saja hanya minum susu murni.”Kata Doenghae nyengir melihat Yunho menenggak susunya.
“Itu buat kalian.”jawan Yunho santai.
“Hai dia!”Min Ho berteriak mengagetkan seisi ruangan yang otomatis mengalihkan pandangan kearahnya.
“Kenapa kau? Lihat setan?”Tanya Ki Bum menghampiri Min Ho yang masih syock melihat majalah.
“Ini orang yang kulihat kemarin dengan Ara!”kata Min Ho.
“Mwo?!”GeunSuk merebut majalah itu dari tangan Min Ho.
“Jung Ill Woo? Pengusaha Sukses Kanada Keturunan Korea!”Geun Suk membaca Judul pada halaman yang ditunjuk Min Ho dimana gambar dalam majalah itu memperlihatkan foto seorang lelaki tengah baya yang sedang berpose dengan gagah dan angkuh.
“Apa kau yakin?”tanya Donghae ikut melihat majalah yang dipegang Geun Suk.
“Nde, aku yakin!” Min Ho berkata dengan sangat yakin.
“Disini tertulis kalau dia sudah punya istri warga Negara kanada dan istrinya bule, jadi Ara?”Donghae mengerutkan keningnya.
“Tak mungkin kan Ara anak Jung Ill Woo? Kalau istrinya bule harusnya kan Ara…”Ki Bum ikut mengeryitkan keningnya.
“Maksud kalian apa?”tanya Geun suk yang masih syock berusaha mengusir dugaan-dugaan yang mulai mengganggu pikirannya.
“Apakah Ara? Ah sayang sekali……”Min Ho tak jadi meneruskan ucapannya.
“Bawaan Oom-oom, maksudmu?”ucap Yunho tenang.
“Iya itu!”Ki Bum menjentikkan jarinya.
Donghae dan Min Ho mengangguk-angguk mengiyakan sementara Geun Suk masih terdiam.
“Aku tak percaya…”Geun Suk memijit kepalanya yang mulai pusing.
“Kalau dia orang yang seperti itu kenapa dia selalu menolak Geun Suk?”tanya Donghae.
“Iya, dia juga pasti tahu Geun Suk juga kaya, ya kalau tujuannya hanya uang.”kata Ki Bum.
“Geun Suk juga jauh lebih tampan daripada pria tua itu.”Min Ho ikut menimpali.
“Rasanya ada yang aneh dari dirinya.”Donghae memincingkan matanya.
“Siapa? Ara?”tanya Yunho yang dari tadi diam saja.
“Nde! Ada yang misterius dari yeoja itu.”jawab Donghae.
“Aku juga masih merasa aneh, dari kita berlima masa dia sama sekali tak tertarik dengan salah satu dari kita.”kata Min Ho.
“Nde, dia acuh dan dingin.”kata Ki Bum ikut membenarkan pendapat Min Ho.
Geun Suk hanya mendengarkan pendapat teman-temannya tentang Ara, dalam hatinya membenarkan pendapat teman-temannya bahwa Ara punya sisi misterius yang entah apa.
Yunho juga hanya diam meski dalam hatinya juga membenarkan pendapat teman-temannya itu.
“Aku akan tanya Yoen Hee.”kata Geun Suk tiba-tiba.
“Tentang Ara?”tanya Min Ho.
“Nde! “jawab Geun Suk.
“Ternyata kau masih penasaran ya?”kata Donghae.
“Dia nggak akan berhenti sampai Ara jatuh dalam pelukannya.”kata Ki Bum.
“Aku pasti bisa menundukkan dia, apalagi hanya wanita seperti itu.”kata Geun Suk yang sekarang malah terobsesi.
“Terdengar jadi mengerikan. Apa kau hanya akan menjadikannya obsesi?”tanya Ki Bum.
“Mungkin.”jawab Geun Suk.
“Bagaimana kalau kita taruhan?”Muncul ide gila dikepala Donghae.
“Mwo? Gila kau!”Min Ho meninju pundak Donghae.
“Kenapa tidak? Aku setuju! Wanita seperti itu aku rasa harus kita kasih pelajaran, bagaimana yun?”Geun Suk rupanya tertantang dengan pemikiran Donghae.
“Kenapa kalian jadikan ini serius sih.”kata Yunho.
“Kau takut Yun?”tanya Donghae.
“Masalahnya bukan takut atau tidak, dia tak jauh beda kan dengan wanita-wanita yang kita kencani selama ini.”kata Yunho dengan sikap tenangnya.
“Jelas beda! Dia sudah menolakku, sedangkan yeoja-yeoja lain tidak aku undang juga sudah mendatangiku.”jawab Geun Suk sewot.
“Jadi karena kau ditolak kau ingin balas dendam?”tanya Yunho.
“Sudahlah, kau ikut atau tidak?”tanya Geun Suk.
“Baiklah aku ikut bila kalian semua memaksa, aku tak mau dibilang pengecut, walaupun aku sama sekali tak tertarik dengan Ara.”jawab Yunho akhirnya.
“Oke kita deal, dalam sebulan ini siapa yang bisa mengajaknya berkencan maka dia pemenangnya.”kata Geun Suk.
“Hanya kencan?”tanya Donghae.
“Pabo! Bukan kencan anak SMA tapi kencan dihotel.”kata Geun Suk.
“Maksudmu tidur dengannya?”Min Ho melotot. Geun Suk tersenyum sinis.
“Kau gila, kau bisa seperti itu! aku mana bisa!”Ki Bum memandang Geun Suk yang tersenyum licik.
“Kalau begitu caranya ya hanya kau dan Donghae yang bisa menang.”kata Min Ho merasa sudah kalah duluan.
“Hey! Dewasalah, apa ruginya kalian dengan Ara.”kata Geun Suk.
“Aishh.. kau ini…memang kau bisa melakukan dengan sembarangan yeoja.”Ki Bum mengahardik.
“Kalian yakin sekali Ara mau.”kata Yunho datar.
“Kalau dia wanita yang bisa di bawa Oom-Oom, berarti dia wanita yang gampangan.”kata Geun Suk.
Yunho hanya mendesahkan nafasnya.
“Apa yang kita kita pertaruhkan?”tanya Ki Bim.
“Bagaimana kalau mobil?”kata Geun Suk.
“Sinting kau!”Ki Bum mendelik.
“Ayolah! Kan hanya ada satu pemenang kalian bisa patungan kan untuk membeli mobilnya.”Geun Suk yakin sekali dia yang akan memenangkan taruhan itu.
“Ok, tapi hanya dalam waktu satu bulan, lewat dari itu perjanjian ini batal.”kata Min Ho.
Merekapun akhirnya sepakat.
*****
Ara benar-benar dibuat kelimpungan dengan ulah Geun Suk dan teman-temannya yang tidak berhenti mengganggunya dengan meneleponnya setiap hari.
“Aduh pusing!”teriak Ara mendengar hpnya tidak berhenti berdering.
“Kenapa Ara?”Yoen Hee sebenarnya merasa aneh juga dengan bunyi dering hp Ara yang tidak berhenti-berhenti sepanjang hari.
“Kenapa Geun Suk dan teman-temannya terus menggangguku dengan telepon dan sms setiap waktu membuat kepalaku mau pecah.”Ara kesal dan mematikan ponselnya.
“Kenapa mereka begitu ya?’’Yoen Hee ikutan pusing karena mereka juga sering meneleponnya dan menanyakan dimana Ara tinggal, tapi atas permintaan Ara, Yoen Hee tak memberitahukannya.
“Rasanya ada yang aneh, mereka seperti terobsesi denganmu Ara.”kata Yoen Hee.
“Tidak mungkin kalau mereka semua Yoen Hee.”jawab Ara.
“Benar juga.’Yoen Hee menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lebih baik kuganti nomorku saja.”kata Ara.
“Apa kau yakin Ara?”
“Nde. Aku tak mau diteror terus namja-namja gila itu.”kata Ara.
Ternyata meski sudah mengganti nomor terror tak berhenti karena sekarang giliran Yoen Hee yang tak henti-hentinya ditelepon menanyakan Ara. Akhirnya Yoen Hee pun ikut-ikutan mengganti nomernya karena merasa pusing mendapat telepon tiap hari.
*****
Hari minggu itu Ara mengajak Yoen Hee berbelanja seperti biasanya ke butik-butik mewah langgananya untuk berbelanja baju dan lain-lain.
“Lihat Yoen Hee.”Ara gegirangan melihat sepatu yang diincarnya ternyata masih ada di etalase.
“Cantik sekali.”Yoen Hee ikut takjub melihat sepatu ditangan Ara.
Ara langsung mencobanya dan terlihat pas dengan kakinya, Ara terlihat senang dan puas. Setelah mereka selesai di butik itu, mereka berkeliling mall yang pada hari minggu sangat ramai.
Bruk!
Tas-tas belanjaan Ara berhamburan saat dia bertabrakan dengan seseorang, Ara yang terjatuh meringis karena dia memakai high hills.
“Mianhe..”namja itu segara mengambil barang belanjaan Ara dan mengulurkan tanggannya untuk menolong Ara berdiri. Sementara Yoen Hee yang sempat syok langsung membantu memungut kantong-kantong belanjaan Ara yang terlepas dari tangannya.
“Ara!”Namja itu kaget melihat orang yang ditabraknya.
“Ah, kau?”Ara juga kaget melihat yang menabraknya ternyata Yunho.
Ara meringis kakinya agak sedikit terkilir.
“Yunho-ssi!”Yoen Hee ikutan terkejut melihat orang yang menabrak Ara ternyata Yunho.
“Mianhe…aku tidak sengaja.”kata Yunho sedikit merasa bersalah.
“Sudahlah..”Ara sedang malas marah-marah apalagi melihat orang yang menabraknya adalah orang yang dia kenal.
“Kau kenal dia, chagi?”tanya yeoja cantik yang menggelendot manja ditangan Yunho.
“Dia temanku.”jawab Yunho.
“Aku yeojacingu Yunho, namaku Yoen yi, senang mengenalmu.”Yoen yi membungkukkan badan.
“Choneon Go Ara inmida.”Ara tersenyum membalas membungkuk.
“Yoen Hee imnida.”Yoen Hee mengikuti Ara membungkuk.
“Aku duluan.”Ara mengangguk meninggalkan Yunho dan Yoen Ji diikuti Yoen Hee.
Yunho dan Yoen Ji mengangguk.
“Sejak kapan kau jadi yeojacinguku?”kata Yunho berjalan dengan cueknya.
“Yunho-ahh………”Yoen Ji mengikuti Yunho dan kembali bergelayut manja.
Yunho tetap berjalan tak memperdulikan yeoja disampingnya karena pikirannya agak terganggu karena peristiwa tadi.
Sampai di apartemen Ara membalut dan memijit kakinya yang agak terkilir karena tabrakan tadi di mall.
“Sakit Ara?”tanya Yoen Hee yang melihat Ara meringis.
“Sedikit.”Ara memijit-mijit perlahan kaki kanannya.
“Kenapa kau tadi tak minta tanggung jawab pada Yunho?”tanya Yoen Hee.
“Aku sedang malas ribut.”kata Ara datar.
“Kenapa? Dia kan yang menabrakmu.”kata Yoen Hee.
“Dia sudah minta maaf kan, aku juga malas berhubungan dengan dia dan teman-temannya, lebih baik menghindar.”Ara mengangkat alisnya memandang Yoen Hee.
“Benar juga. Aku lupa mereka sedang membuat masalah dengan kita.”kata Yoen Hee menyadarinya.
“Besok juga baikan…”kata Ara merebahkan tubuhnya di sofa.
“Ara apa kau belum ingin masuk kuliah lagi?”tanya Yoen Hee.
“Entahlah…”Ara hanya memejamkan matanya yang sudah mulai mengantuk dan lelah karena seharian berbelanja.
Yoen Hee tak habis mengerti kenapa Ara enggan meneruskan kuliahnya setelah setengah tahun yang lalu memutuskan mengambil cuti kuliah sementara. Kini hari-hari Ara hanya diisi dengan menulis novel dan seminggu sekali mengunjungi kota jinju. Beberapa Novel Ara sudah diterbitkan dengan nama samaran, jadi sebenarnya Ara tidak hanya mengandalkan uang pemberian dari teman kencannya saja tapi dia juga punya penghasilan sendiri.
Karena itulah Yoen Hee sangat menghormati Ara, tanpa banyak yang tahu Ara adalah seorang novelis, mungkin hanya Yoen Hee dan Ara sendiri saja.
Sedangkan Yoen Hee juga tak berpangku tangan begitu saja, Yoen hee berbisnis On Line yang ternyata punya prospek yang bagus karena dengan keuntungan bisnis On Line-nya Yoen Hee bisa membiayai kuliahnya karena dia tidak harus menyewa tempat tinggal jadi dia bisa lebih hemat.
Meski Ara sering melarang Yoen Hee untuk membeli kebutuhan pokok tapi Yoen Hee sering membelinya juga meski setiap hari Ara selalu meninggalkan uang belanja untuk makan mereka sehari-hari.
*****
“Kurasa perjanjian kita sudah batal.”kata Min Ho sebulan setelah taruhan mereka.
“Kenapa dia menghilang ya?”tanya Ki Bum merasa heran.
“Apalagi Yoen Hee juga ikut-ikutan menghilang.”Kata Geun Suk kesal.
“Kau tahu aku sering ke café yang dulu didatanginya tapi kata pelayan disana, dia tak pernah datang lagi.”kata Min Ho.
“Dia benar-benar misterius.”Kata Donghae.
Yunho hanya tersenyum tipis mendengar percakapan teman-temannya.
“Kau sepertinya tak minat Yun?”tanya Ki Bum.
“Biasa saja, aku tak ingin memaksa orang yang tak mau.”jawab Yunho datar.
“Benar katamu, lebih asyik mengencani yeoja-yeoja yang memang mau dengan kita, nggak ribet.”kata Donnghae.
“Sekarang aku juga tak terlalu minat, yah meski masih sedikit penasaran.”kata Geun Suk yang tampaknya menyerah.
“Hahaha…….playboy baru ngerasain kalah sekarang.”Ki Bum tertawa keras.
“Sialan kau….”Geun Suk meninju bahu Ki Bum yang kebetulan ada disampingnya.
Donghae, Min Ho dan Yunho ikut tertawa melihat Geun Suk yang malu.
*****
“Mwo? Tapi Appa…”Yunho kaget mendengar permintaan Appanya.
“Itu permintaan dari Omeonnie, Yun.”kata Appanya lagi.
“Tapi kenapa harus sekarang Appa?” Yunho masih keberatan dengan permintaan ayahnya.
“Omeonnie sakit-sakitan kau tahu itu Yun, apa kau tak mau memenuhi permintaannya?”
“Appa….”
“Kalau kau masih bingung biar Appa yang carikan kau jodoh.”kata Appanya.
“Anyo! Biar aku tentukan sendiri siapa istriku Appa, beri aku waktu seminggu aku akan membawanya padamu.”kata Yunho akhirnya menyetujui permintaan Appanya.
“Baiklah kalau dalam seminggu kau tak bawa calon istrimu maka Appa yang akan menentukan calon istrimu.”Appa Yunho menyetujui permintaan Yunho.
Yunho merebahkan badannya dengan resah. Pikirannya sungguh kusut memikirkan dia harus menikah bulan depan demi membahagiakan neneknya yang sedang sakit dan ingin melihat cucunya menikah. Yunho pusing karena dia belum punya yeoja yang serius dia anggap yeojacingunya. Selama ini Yunho hanya berkencan tanpa menggunakan hati dan tujuannya hanya untuk bersenang-senang saja.
*****
Ki Bum menemui Yunho di café yang sudah dijanjikan.
“Kenapa mukamu kusut begitu Yun?”tanya Ki Bum.
“Appa menyuruhku menikah”kata Yunho.
“Hah! Yang benar Yun!”Ki Bum kaget.
“Aku belum siap menikah.”
“Kau menikah dengan siapa Yun?”tanya Kim Bum.
“Bila seminggu ini aku tak bisa membawa calon istriku pada Appa maka Appa yang akan menentukan jodohku.”Muka Yunho benar-benar kusut karena masalahnya.
“Bagaimana dengan Yuri? Kalian kan pacaran sebelum dia pindah ke amerika dan setahuku kalian belum putus kan?”
“Aku tidak yakin.”kata Yunho.
“Kau sudah mencoba menghubunginya?”
“Belum.”
“Cobalah Yun, kau kan tidak tahu dia mau atau tidak sebelum menanyakan langsung padanya.”kata Ki Bum.
“Dia meninggalkanku, aku tak ingin mengganggunya.”ujar Yunho datar.
“Bagaimana dengan Yoen Ji atau yeoja lain yang kau kencani selama ini apa tidak ada yang benar-benar kau cintai Yun?”tanya Ki Bum.
“Tidak ada. Mereka semua sama buatku tak ada yang istimewa.”kata Yunho putus asa.
“Kalau begitu kau terima saja jodoh dari Appamu.”kata Ki Bum lagi.
“Aku belum ingin terikat Bum.”ujar Yunho.
“Bagaimana kalau kau pura-pura menikah saja?”Ki Bum memberi saran yang agak konyol dengan Yunho yang terlihat sangat pusing.
“Mwo? Siapa yeoja yang mau menikah pura-pura denganku?”meski sedikit terkejut Yunho bertanya pada Ki Bum.
“Kau bayar saja Yeoja itu setelah nenekmu baikan kau ceraikan dia.”kata Ki Bum enteng.
Yunho terdiam memikirkan kata-kata Ki Bum yang sedikit masuk akal tapi agak gila juga.
“Kau punya banyak uang Yun, orangtuamu kaya, kau sendiri sudah pegang perusahaan jadi uang bukan masalh buatmu membayar seorang yeoja berpura-pura menjadi istrimu.”kata Ki Bum lagi.
“Tapi siapa yeoja yang mau?”tanya Yunho.
“teman-teman kencanmu salah satu juga pasti mau Yun, tak di bayar saja mereka rela mati untukmu.”Ki Bum nyengir kuda.
Yunho ikut tersenyum menyadari pesonanya pada Yeoja.
“Itu masalahnya, mereka tahu aku dan menyukaiku, kalau mereka yang aku jadikan istri akan susah nanti kalau aku ceraikan.”kata Yunho membuat Ki Bum terdiam.
“Benar juga…”Ki Bum manggut-manggut .
“Aha bagaimana kalau Ara?”kata Ki Bum tiba-tiba.
“Mwo? Ara?”Yunho kaget mendengar nama Ara disebutkan Ki Bum.
“Nde! Ara tak menyukaimu kan? Kau juga tak menyukainya, plus Ara adalah yeoja matrialistis, dengan uang pasti dia akan mau menikah pura-pura denganmu.”kata Ki Bum.
“Kurasa kau yang sudah gila.”Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ara adalah jawabannya Yun, coba kau pikirkan. Untuk tampilan luar dia pantas denganmu dia cantik, sikapnya terlihat baik, cara berpakaiannya high class sesuai dengan gambaran wanita kelas atas yah meski buruknya dia itu matrialistis dan bawaan Oom-Oom. Tapi itukan sementara Yun, jadi tidak masalah kan?”kata Ki Bum meyakinkan Yunho.
Yunho terdiam dia kembali memikirkan kata-kata Ki Bum.
Sudah dua hari Yunho memikirkan masalah calon istri yang belum juga didapatkannya. Dia juga sedikit memikirkan saran Ki Bum dan ternyata didukung oleh teman-temannya yang lain termasuk Geun Suk yang dulu sempat tergila-gila dengan Ara.
*****
Ara berjalan sendirian sepulang dari penerbit yang akan mencetak novel terbarunya. Dia dikagetkan dengan bunyi klakson mobil berkali-kali memaksanya menghentikan langkah kakinya, dia menengok kearah mobil yang berhenti disampingnya.
“Kau?”Ara melihat Yunho keluar dari mobil.
“Anneyong haseo.”Yunho mencoba bersikap ramah. Ara hanya mengangguk datar.
“Bisa bicara sebentar Ara-ssi?”tanya Yunho melihat Ara yang tampak acuh saja.
“Denganku? Ada apa?”tanya Ara agak sedikit bingung.
“Boleh kita duduk dulu.”kata Yunho menunjuk bangku ditrotoar jalan.
“Aku tak punya waktu banyak.”jawab Ara.
“10 menit saja.”Yunho berkata dengan serius.
“5 menit.”kata Ara.
“Baiklah…”Yunho menyerah.
“Aku ingin buat penawaran denganmu Ara.”kata Yunho hati-hati, sesungguhnya dia sedikit risi mengatakannya, ada sedikit takut menyinggung perasaan Ara.
“Penawaran?”tanya Ara memandang Yunho.
“Ya! Mungkin ini agak sedikit gila tapi aku tak punya ide lain selain ini.”kata Yunho.
“Apa maksudmu? Kau bicara berputar-putar.”kata Ara dingin.
“Mian…Aku ingin kau pura-pura menikah denganku.”
“Mwo? Apa kau gila!”Ara membelalakkan matanya.
“Aku akan memberimu uang Ara sebagai kesepakatan bila kau mau pura-pura menikah denganku.”kata Yunho serius.
“Kau pikir kau bisa membeliku?”Suara Ara meninggi karena marah.
“Tapi bukankah kau selama ini berkencan dengan Oom-Oom untuk uang?”
Plak!
“Jaga mulutmu Yunho-ssi! Kau pikir uangmu bisa membeliku?”Ara meninggalkan Yunho yang masih memegangi pipinya yang terasa panas bekas tamparan Ara.
Tapi Yunho mengejar Ara dan memegang tangan Ara dengan keras.
“Lepaskan!”Ara menghempaskan tangan Yunho dengan kasar.
“Aku minta maaf bila kata-kataku menyinggung perasaanmu tadi, tapi pikirkanlah Ara, aku akan memberimu uang yang sangat banyak, kau hanya berpura-pura menjadi istriku sampai nenekku sembuh setelah itu kita akan bercerai.”Yunho tak mau menyerah dengan penolakan Ara meski dia sakit hati karena tamparan Ara.
Ara memandang tajam mata Yunho yang juga serius menatapnya. Ara melihat keseriusan dan sedikit harapan dimata itu. Ada sesuatu yang beda disana yang tak mampu Ara jamah.
“Akan kupikrkan, mana kartu namamu, aku akan beritahu kau nanti.”entah kenapa Ara mampu berkata seperti itu padahal jelas-jelas Yunho telah merendahkannya.
Yunho tersenyum dan mengambil kartu nama dari saku jasnya serta menyerahkannya pada Ara, Tanpa berkata apa-apa Ara meninggalkan Yunho yang memandangnya menghilang di balik tikungan jalan.
Yunho hanya tersenyum sinis melihat Ara, diam-diam dihatinya menyimpan dedam karena tamparan Ara. Sebenarnay Yunho juga merasakan hal yang sama dia merasa direndahkan Ara karena ditampar di tempat umum padahal selama ini yeoja selalu memujanya bukan memperlakukannya seperti yang Ara lakukan tadi bahkan meskipun Yunho memperlakukan mereka dengan buruk.
*****
Yoen Hee dibuat terkejut mendengar cerita Ara.
“Kau menamparnya?”tanya Yoen Hee mengguncang bahu Ara.
“Nde! Dia sudah sangat keterlaluan.”kata Ara.
“Seharusnya kau pukul dia Ara!”Ujar Yoen Hee gemas.
“Aku tak ingin rebut di tempat umum, itu nggak lucu sama sekali.”kata Ara datar.
“Apa kau sakit hati Ara?”Yoen Hee mamandang sahabatnya yang selalu bersikap acuh menutupi hatinya itu.
“Entahlah…aku hanya ingin membalasnya.”
“Waeyo?”
“Aku akan terima tawarannya.”
“Mwo?”Yoen Hee dibuat melotot mendengar perkataan Ara.
“Dia sudah merendahkan aku, kenapa tidak sekalian aku kerjai dia.”kata Ara cuek.
“Apa kau sudah gila? Biarpun hanya pura-pura tapi ini pernikahan Ara, jangan main-main!”Yoen Hee jadi panik memikirkan apa yang akan terjadi antara Ara dan Yunho nantinya.
“Aku tahu, sudah aku pikirkan, dia harus terima konsekuensinya telah meremehkan Go Ara!”Ara tersenyum sinis.
“Tapi Ara…”Yoen Hee masih khawatir dengan keputusan Ara.
“Tenang saja, kau percaya padaku kan?”Yoen Hee hanya memandang Ara tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
“Kau yakin?”tanya Yoen Hee masih belum percaya dengan keputusan Ara.
“Nde!”Ara hanya tersenyum tipis.
“Setidaknya kau menikah dengan namja tampan dan kaya Ara, meskipun dia seorang playboy.”kata Yoen Hee akhirnya.
“Aku tak perduli dengan wajah dan hartanya atau hobbynya dengan mengencani yeoja-yeoja cantik, aku hanya ingin mengerjainya, dan ini hanya sementara sampai neneknya sembuh.”kata Ara dingin.
“Tapi kau tetaplah nanti istrinya Ara, bagaimana kalau kau punya anak darinya?”tanya Yoen Hee membayangkannya.
“Hey! Ini hanya pernikahan pura-pura tak akan kubiarkan itu terjadi, tak sehelai rambutkupun bisa dia sentuh itu akan jadi syarat kalau dia mau menikah denganku.”kata Ara mendengar Yoen Hee mulai mengkhayalkan yang tidak-tidak.
“Ok, tapi bagaimana kalau kau benar-benar jatuh cinta padanya?”tanya Yoen Hee lagi.
“Tak mungkin!”Ara mengibaskan tangannya.
“Tapi tetap saja dia seorang namja Ara, kalian tidur satu kamar bagaimana kalau kalian lupa?”
“Kupastikan itu tak akan pernah terjadi! Sudahlah Yoen Hee kamu tak usah khawatir.”Ara mengacak-acak rambut Yoen Hee.
Yoen Hee hanya memonyongkan mulutnya.
“Jadi aku akan tinggal sendiri disini.”kata Yoen Hee pasrah.
“Aku akan sering kesini.”
“Harus! Karena ini kan apartemenmu Ara, tapi aku pasti akan kesepian.”Yoen Hee memandang Ara yang sedang meminum jus strawberry kegemarannya.
Ara hanya tersenyum.
*****
Sudah dua hari sejak pertemuannya dengan Ara tapi belum juga ada kabar membuat Yunho sangat gelisah.
“Kau gelisah sekali Yun?”tanya Donghae yang pusing melihat Yunho yang dari tadi mondar-mandir.
“Ara belum memberi kabar, sedangakan waktuku tinggal dua hari lagi.”Yunho memasukkan tangannya kesaku celananya dengan resah.
“Yeoja itu benar-benar bikin pusing orang.”kata Ki Bum.
“Dia jual mahal sekali.”kata Min Ho ikut menimpali.
“Yun, apa kau serius menikahinya?”tanya Geun Suk.
“Ini hanya pura-pura.”kata Yunho yang masih belum bisa tenang.
“Tapi dia cantik Yun, bagaimana kalau kau jatuh cinta sama dia?”tanya Donghae.
“Tak mungkin! Aku tak sudi menyentuh sisa orang.”kata Yunho ketus.
“Ah yang benar? Buat apa kau bayar dia mahal-mahal hanya untuk pajangan.”kata Min Ho.
“Huh! Masih ada yang lebih pantas jadi nyonya Jung Yunho yang sebenarnya.”kata Yunho masih dengan nada ketus.
“Maksudmu Yuri?”tanya Ki Bum.
Yunho tak menjawab, dihempaskannya badannya ke sofa dengan kesal.
“Kalau kau tak mau menyentuhnya bagaimana kalau aku saja, aku masih penasaran dengan yeoja itu.”kata Geun Suk iseng.
“Gila kau!”Yunho mendelik dengan tajam kearah Geun Suk yang tersenyum iseng.
“Sinting!”Ki Bum ikut menimpali.
Donghae dan Min Ho hanya geleng-geleng kepala mendengar keisengan Geun Suk.
Drettt! Dreeetttt! Dreettt!!
Tiba-tiba telepon genggam Yunho bergetar. Yunho agak memincingkan matanya melihat nomer yang tertera di ponselnya.
“Siapa ini?”Gumam Yunho sebelum mengangkat telepon.
“Yoboseo?”
“……..”
“Mwo? Sekarang?”tanya Yunho kaget.
“……..”
“Nde!nde! aku akan kesana.”Yunho menjawab masih dalam nada keterkejutannya.
Yunho menutup telepon dan menghela nafas dengan lega.
“Siapa Yun?”tanya Donghae melihat reaksi Yunho.
“Ara-ssi.Dia ingin menemuiku di café sekarang.”kata Yunho datar.
“Mwo? Jadi dia setuju menikah denganmu?”tanya Geun Suk antusias.
“Tidak tahu, dia hanya minta aku menemuinya saja.”kata Yunho masih dengan sikapnya yang cuek seakan tak butuh.
“Ya sudah kau tunggu apa lagi? Jalan sana!”Ki Bum heran melihat Yunho yang diam saja.
“Nde! Apalagi yang kau tunggu!”Donghae ikut menimpali.
“Baiklah! Aku jalan.”Yunho beanjak meninggalkan empat sahabatnya yang Cuma geleng-geleng kepala melihatnya.
“Dasar si Yunho itu!”kata Geun Suk.
“Sikap dinginnya kadang-kadang bikin kita nggak mood sama dia.”kata Min Ho.
“Apa kalian yakin dia ga bakal jatuh cinta sama Ara kalau mereka jadi menikah?”tanya Ki Bum.
“Entahlah, kita lihat saja nanti?”kata Geun Suk.
“Kurasa tidak! Keangkuhan dan harga dirinya bisa hancur kalau dia benar-benar jatuh cinta pada Ara.”kata Donghae.
“Benar juga…”Min Ho manggut-manggut.
*****
Yunho menghampiri Ara yang tengah menyeruput jus strawberry.
“Anneyong…”tanpa dipersilahkan Yunho duduk dihadapan Ara.
Ara hanya memandang Yunho dengan datar.
“Bagaimana Ara? Kau sudah punya jawaban untukku?”tanya Yunho tanpa basa-basi.
“Aku terima tawaranmu.”jawab Ara tanpa ekspresi. Yunho tersenyum sinis.
“Sudah kuduga.”Yunho memanggil pelayan dan memesan minuman.
“Tapi dengan syarat.”kata Ara.
Ara menyodorkan secarik kertas pada Yunho, Yunho membacanya dan kembali tersenyum dengan sinis.
“Kau percaya diri sekali, aku tak menyukaimu. Kau tidak usah khawatir.”kata Yunho sinis.
“Aku tidak percaya mulut namja! Kau tandatangani surat itu atau kita batalkan perjanjian.”kata Ara dengan nada sinis juga.
“Ok! Tapi aku juga punya syarat.”Yunho menulis beberapa kata di bawah tulisan tangan Ara.
Ara hanya tersenyum sinis membaca syarat yang Yunho ajukan.
“OK.”jawab Ara singkat.
Mereka sama-sama membubuhkan tandatangan di kertas yang kini dipegang Ara.
“Aku minta kopiannya besok. Aku akan menjemputmu untukbertemu orangtuaku besok siang, perjanjian dariku akan kubawa besok.”kata Yunho setelah selesai menandatangi perjanjian yang diajukan Ara.
“Kau jemput aku disini saja.”kata Ara datar.
“Bagaimana dengan orangtuamu?”tanya Yunho.
“Aku yatim piatu.”jawab Ara.
“Oh!apa kau tidak punya rumah?”tanya Yunho lagi.
“Aku menumpang ditempat teman, sudahlah kau jangan terlalu banyak tanya atau kita batalkan perjanjian ini.”Ara mulai kesal dengan pertanyaan Yunho.
“Aku perlu tahu siapa calon istriku.”kata Yunho melihat Ara yang enggan menjawab pertanyaannya.
“Istri pura-pura.”Ara tersenyum dengan sisnis.
“Ok!Ok!terserah kau saja.”Yunho enggan bertengkar ditempat umum.
“menyebalkan sekali…”Ara bergumam meninggalkan Yunho yang hanya bisa bengong melihat Ara berlalu begitu saja.
*****
Yunho membawa Ara kerumah mewahnya di kawasan perumahan elite Seoul. Yunho melirik Ara beberapa kali karena sikapnya yang cuek.
“Rasanya ada yang salah kalau kau bersikap seperti ini terus.”kata Yunho membuka percakapan.
“Memang semua sudah salah.”kata Ara cuek.
“Kau bisa bersandiwara kan?”tanya Yunho khawatir melihat Ara yang acuh tak acuh.
“Kau lihat saja nanti.”jawab Ara tanpa melihat kearah Yunho.
“Kau ternyata keras kepala.”kata Yunho.
Ara hanya tersenyum tipis menyadari Yunho agak kesal dengan sikapnya.
“Anneyong Haseo…”Ara membungkuk dengan sopan dan tersenyum ramah, Yunho agak sedikit kaget melihat sikap Ara yang langsung berubah 180 derajat.
“Cantik sekali! Ini calon isrtimu Yun?”tanya Umma Yunho yang terpesona dengan kecantikan Ara.
“Nde!”Yunho hanya tersenyum.
“Siapa namamu?”Appa Yunhopun Nampak sangat senang melihat calon menantunya.
“Chonen Go Ara imnida, Ahjussi,Omeonni”jawab Ara.
“Ternyata Yunho sangat pintar memilih calon istri.”Umma Yunho nampaknya sangat senang dengan pilihan putranya. Yunho merasa lega melihat respon kedua orangtuanya, dia sama sekali tak menyangka mereka akan menyukai Ara padahal baru pertama bertemu. Yunho sempat khawatir orangtuanya tak bisa menerima Ara.
Tapi diluar dugaan Ara ternyata mampu mengambil hati kedua orangtuanya termasuk neneknya yang sedang sakit. Bahkan Ara dapat bersandiwara dengan baik dan didepan kedua orangtua Yunho dia bersikap mesra padanya.
Ara bahkan dapat dengan lancar menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kedua orangtua Yunho, baik tentang orangtuanya, pendidikannya, tempat tinggalnya dan bagaimana dia mengenal Yunho dan lain sebagainya. Yunho benar-benar dibuat bengong dengan kepintaran Ara dalam mengolah kata yang kesemuanya karangan menjadi sangat meyakinkan sehingga membuat orangtuanya mempercayai semua perkataan Ara.
“Ternyata kau pintar bersandiwara.”kata Yunho saat mereka hanya berdua.
“Kau terlalu meremehkan aku.”jawab Ara datar.
Yunho hanya diam.
“Aku mau tidur, capek.”Ara lagi-lagi meninggalkan Yunho yang masih bengong.
Yunho menghela nafasnya.
“Bagaimana kalau Umma dan Appa tahu ini hanya pura-pura.”Gumama Yunho.
“Aish………”Yunho mengacak-acak rambutnya sendiri.
*****
Hari pernikahanpun tiba.
“Tampan sekali kau Yun!”Ki Bum menepuk bahu Yunho yang agak sedikit nervous.
“Aku agak cemas.”ucap Yunho jujur.
“Apa yang kau cemaskan?”tanya Donghae.
“Aku takut orangtuaku kecewa setelah tahu yang sebenarnya.”kata Yunho memandang sahabat-sahabatnya.
“Tenang saja Yun, tunggu sampai nenekmu sembuh baru kau pikirkan itu.”kata Min Ho yang memang berfikiran lebih dewasa.
“Kurasa Min Ho benar Yun.”kata Geun Suk.
“Ayolah! Appamu sudah menunggu di altar.”Ki Bu mengajak Yunho bersiap-siap ke altar.
“Nde!”Yunho merasa mendapat semangat dari teman-temannya.
Sementara Ara yang ditemani Yoen Hee Nampak sudah cantik dengan baju pengantin putih dan tiara yang menghiasi rambutnya.
“Kau tahu Ara? Kau pengantin tercantik yang pernah kulihat.”Ujar Yoen Hee memuji sahabatnya itu.
“Kau tidak usah menghiburku, ini semua bagian dari sandiwara kami.”kata Ara biasa saja.
“Sayang sekali.”gumam Yoen Hee.
Ara hanya tersenyum tipis melihat Yoen Hee kecewa.
Ara melangkah menuju altar digandeng oleh salah seorang kerabat tuan Jung. Saat pintu kapel kecil itu dibuka semua mata tertuju padanya. Meski sedikit nervous tapi Ara berusaha bersikap biasa dan mengembangkan senyumnya berusaha serileks mungkin.
Semua orang terpesona dengan pengantin wanita yang begitu cantik dan anggun tak terkecuali Yunho. Untuk sesaat Yunho tercekat melihat Ara yang dibalut gaun pengantin putih begitu menggetarkan hatinya.
Tapi Yunho buru-buru menepiskan rasa kagumnya saat teringat ini hanya pernikahan pura-pura dan mengingat siapa Ara sebenarnya membuatnya kembali merasa jijik dengan Ara, meski tak di pungiri dia tertarik secara fisik pada Ara. Siapa namja yang tidak tertarik dengan wanita cantik.
Saat pendeta memintanya mencium pengantinnya Yunho terdiam sesaat, ditatapnya mata Ara yang Nampak besar dan indah. Yang Yunho lihat hanya ada kesinisan dan misteri disana. Perlahan Yunho mendekatkan wajahnya dan mencium bib ir Ara. Ara hanya memejamkan mata tanpa membalas ciuman Yunho. Yunho melepaskan ciumannya.
*****
“Bagaimana rasanya Yun?”tanya Geun suk penasaran.
“Apa?”tanya Yunho.
“Bibirnya.”kata Geun Suk.
“Sama saja.”jawab Yunho singkat.
“Sama gimana?”Geun Suk nampaknya masih sangat penasaran.
“Sama dengan yeoja yang lain.Aishh…..sudah tidak usah dibahas.”Yunho mengibaskan tangannya.
“Apa kau tak mau bulan madu Yun?”tanya Min Ho tersenyum meledek temannya.
“Tak perlu kan?”Yunho malah balik bertanya.
“Biar sandiwaramu sempurna.”kata Donghae ikutan nimbrung.
“Aku sibuk.”Yunho tak mengindahkan ledekan teman-temannya.
Yoen Hee memeluk Ara dan menitikkan airmata.
“Sekarang kau nyonya Jung, Ara kau akan tinggal disini menjadi seorang istri.”kata Yoen Hee yang menyadari akan berpisah dengan sahabat baiknya itu.
“Yoen Hee…aku akan kembali bersamamu setelah ini semua berakhir.”Ara menghapus airmata yang menetes di pipi Yoen Hee.
Yoen Hee mengangguk meski dalam hatinya berharap Ara tak melakukannya, bagaimanapun Yoen Hee ingin Ara bahagia dan ada harapan bahwa Ara dan Yunho tidak hanya main-main dengan pernikahannya.
Ara melepas kepergian Yoen Hee dengan berat, rasanya ada yang kurang saat melihat mobil yang membawa Yoen Hee sudah tak terlihat.
Ara langsung menuju kamarnya. Ara kaget melihat Yunho sudah tidur di kasurnya.
“Bangun! Apa yang kau lakukan disini?”Ara mengguncang tubuh Yunho, Yunho yang kaget langsung terbangun.
“Apa yang kau lakukan! Kenapa membangunkanku?”Yunho memandang nanar Ara.
“Kenapa tidur di kasurku?”Ara mendelik.
“Hey! Ini kasurku juga.”Yunho memprotes klaim Ara atas tempat tidur itu.
“Kau lupa dengan perjanjian kita?”tanya Ara berkacak pinggang.
“Aku tidak menyentuhmu.”Yunho balik menatap tajam Ara.
“Kalau kau tidur disini, tidak ada jaminan kau tidak menyentuhku.”kata Ara dingin.
“Kau…”Dengan kesal Yunho turun dari tempat tidur dan menuju sofa panjang yang memang ada di kamar besar itu.
Ara melemparkan selimut dan bantal kearah Yunho.
“Tak bisakah sopan sedikit pada suamimu.”Yunho mendengus kesal Ara melemparkan selimut dan bantal.
“Suami pura-pura.”kata Ara dingin.
Yunho hanya merutuk dalam hati karena apa yang dikatakan Ara memang benar jadi tak ada keharusan untuk Ara bersikap seperti istri sesungguhnya.
Yunho tidur dengan perasaan kesal.
*****
Hari-hari dilalui Ara dan Yunho penuh dengan pertengkaran seperti anjing dan kucing. Tetapi mereka akan besikap seperti pasangan pengantin baru didepan nyonya Jung dan Tuan Jung.
“Kau tak harus menciumku seperti tadi.”Rungut Ara kesal karena Yunho mencium pipinya dengan mesra di depan orangtua Yunho.
“Sandiwara kita harus sempurna.”kata Yunho cuek.
“Tapi kau mengambil kesempatan.”kata Ara masih kesal.
“Hey! Aku sudah membayarmu untuk bersandiwara dan kau sudah menyetujuinya.”Yunho juga mulai kesal dengan rajukan Ara.
“Kau!”Ara bertambah kesal mendengar ucapan Yunho.
Ara menyambar tasnya dan kunci mobil yang tergeletak di meja rias.
“Kau mau kemana?”
“Bukan urusanmu.”jawab Ara acuh.
“Aishh…….”Yunho melotot melihat Ara yang dengan cueknya meninggalkannya.
Yunho termenung.Disengaja atau tidak kini dia mulai tahu kebiasaan Ara dan baru menyadari kalau Ara pergi setiap hari sabtu. Yunho tak pernah menanyakan Ara kemana dan Ara sendiri juga tak pernah memberitahu Yunho kemana dia pergi.
Yunho yang masih juga berkencan dengan yeoja lain tak begitu memperdulikan kemana Ara pergi. Anehnya meski Yunho sudah berjanji akan memberikan seberapapun uang yang Ara mau tapi Ara jarang meminta uang padanya.
Setelah dia membukakan rekening atas nama Ara sebesar 1 milliar, Ara tak pernah minta uang lagi padanya bahkan sekedar untuk berbelanja kebutuhan dirinya. Tapi Yunho sering melihat Ara berbelanja baju dan sebagainya.
Malam itu Ara pulang agak larut.Dia langsung menuju kamarnya untuk istirahat. Saat masuk kekamarnya Ara melihat Yunho masih asyik membaca majalah.
“Bos mana lagi yang kau kencani kali ini?”tanya Yunho tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah. Ara tertegun mendengar pertanyaan Yunho,reflek dia berbalik dan berjalan menghampiri Yunho.
“Kau bilang apa?”Ara menatap tajam Yunho dengan tanga dipinggangnya.
“Bukankah kau baru pulang berkencan dengan Bos-Bos?”Yunho meletakkan majalahnya dan menatap Ara dengan dingin.
Belum sempat tangan Ara mendarat di pipi Yunho, Yunho sudah menggenggam tangan Ara.
“Tak akan kubirakan kau dua kali menamparku.”kata Yunho menghempaskan tangan Ara dengan kasar.
“Jaga mulutmu Jung Yunho. Kau boleh tidak menyukaiku, aku tidak perduli ,tapi tak akan kau menghina dan memfitnahku.”Muka Ara memerah karena amarah yang memuncak.
“Lalu kau kemana, tengah malam baru pulang.Istri macam apa pergi tanpa suami pulang malam-malam.”Yunho berkata dengan nada sinis.
“Istri? Kau lupa kita hanya pura-pura.”
“Aku tahu, tapi setidaknya bersikaplah seperti seorang istri, kau seperti yeoja yang liar.”
“Kau tak berhak mengaturku, kau bukan siapa-siapaku.”kata Ara meninggalkan Yunho masuk kekamar mandi dan menutup pintunya dengan keras membuat Yunho kaget.
Ara mengguyur tubuhnya dengan air dingin mencoba mendinginkan kepalanya yang terasa mau meledak karena amarah.
Ternyata tak semudah yang kubayangkan……
Desis ara. Tapi tak ada airmata yang tertumpah meski hatinya teramat sedih mendapat penghinaan yang luar biasa dari orang yang sekarang menyebut dirinya suaminya.
Hampir setengah jam Ara baru beranjak dari Bath tub setelah tubuhnya kedinginan. Hanya dengan handuk Ara keluar dari kamar mandi. Yunho agak tersentak melihat badan Ara yang hanya terbungkus handuk dan dengan rambut yang masih setengah basah. Kecantikan natural Ara terlihat tanpa bisa dipungkiri Yunho.
Yunho segera megalihkan pandangan kearah televisi.
Ara cuek saja melewati Yunho menuju lemari ganti baju yang lebih tepatnya sebuah kamar ganti karena sangat besar untuk ukuran sebuah lemari. Ara mengenakan baju tidur berbahan silk lembut berwarna baby pink.
Tanpa memperdulikan Yunho, Ara langsung menuju tempat tidurnya karena badannya yang letih enggan untuk memulai lagi pertengkaran dengan Yunho. Ara memilih memejamkan matanya meski Yunho menyalakan televisi dengan suara yang lumayan cukup keras.
Yunho melirik kea rah tempat tidur dan dilihatnya Ara sudah memejamkan matanya, Yunho hanya mendesah dan tak lama mematikan televisi dan memejamkan matanya berharap bisa tidur dengan pikiran yang masih tidak tenang. Tapi ternyata dia tak bisa memejamkan matanya. Yunho kembali terduduk dan menatap Ara yang sudah mulai tertidur dengan pulas.
Yunho memberanikan diri mendekati ranjang dan melihat Ara tertidur seperti bayi. Meski samar Yunho melihat Ara tersenyum dalam tidurnya.
Kau sangat cantik Ara, sayang…………
Yunho bergumam menatap wajah Ara yang tampak damai. Yunho kembali kesofa tempatnya tidur selama ini ,setelah menikah dengan Ara.
*****
Perlahan tapi pasti kesehatan nenek Yunho mulai membaik. Ara sangat senang karena membayangkan bisa lepas dengan segera dari cengkeraman Yunho. Seandainya bukan karena dendam itu dan uang besar yang diberikan Yunho, Ara tak akan sudi menikah pura-pura dengan siapapun.
Hari sabtu itu seperti biasanya Ara bersiap pergi ke jinju. Tak seperti biasanya Yunho sudah pergi pagi-pagi sebelum Ara bangun. Ara tak ambil pusing dan langsung menganbil kunci mobilnya.
Sesampainya di Jinju Ara mengarahkan mobilnya kepinggiran kota dan menghentikan mobilnya didepan pintu gerbang sebuah bangunan yang sudah lumayan kuno.
Bangunan besar berlantai tiga itu Nampak sepi dari depan. Dihalaman depan terdapat berbagai macam mainan anak-anak seperti ayunan, prosotan dan lain sebagainya.
Tampak seorang wanita setengah baya menghampiri Ara dengan senyum lebar.
“Anneyong Omeonni…..”Ara membungkuk dengan hormat.
“Ne…ne…ayo masuk.”Wanita itu merangkul pundak Ara dan menuntunnya masuk.
Hampir seharian Ara ada di sana dan baru keluar setelah hari menjelang malam. Ara melambaikan tangannya dan langsung membawa mobilnya kembali ke kota Seoul. Ara tidak langsung pulang kerumah dia mampir sebentar ke apartemen Yoen Hee. Sekitar jam 7 malam baru Ara pulang kerumah yang ditempatinya dengan Yunho.
Sesampainya di rumah ternyata Yunho belum pulang. Ara langung membersihkan diri kemudian menuju dapur untuk memasak makan malamnya. Selesai ,Ara makan dengan tidak semangat. Meski hanya pura-pura menjadi istrinya Ara tidak pernah lupa memasak makanan untuk Yunho.
Setelah membereskan meja dan menata untuk makan malam Yunho bila pulang nanti, Ara meninggalkan pesan disecarik kertas yang ia tempelkan di kulkas. Ara langsung menuju tempat tidur. Karena kelelahan Ara tertidur dengan cepat.
*****
Yunho memandang wajah Ara yang pulas tertidur, diselimutinya tubuh Ara yang sempat tersingkap. Yunho tersenyum.
Mianhe Ara………
Bisik Yunho pelan. Yunho menatap langit-langit kamar yang sudah mengakrabinya sejak kecil dengan perasaan yang berbeda. Ada perasaan lega dan sedikit bahagia kali ini. Perlahan dipejamkan matanya dengan senyum menghias sudut bibirnya.
*****
Ara terbangun merasakan sinar matahari menerobos masuk kekamarnya. Ara melihat jam dan terbelalak melihat jarum jam sudah menunjukkan angka 9 pagi. Bergegas Ara kekamar mandi dan dengan cepat membasuh badannya dengan air dingin yang menyegarkan membuat matanya yang masih mengantuk kini terbuka dengan sempurna.
Bila biasanya Ara menghabiskan waktu minimal setengah jam di kamar mandi tapi kali ini dia hanya memerlukan waktu 10 menit saja. Saat keluar dia kaget melihat Yunho sudah duduk di sofa dengan rapi dan sedang menyeruput secangkir coklat panas.
“Kau?”Ara baru menyadari kalau dia tak melihat Yunho tadi di sofa.
Yunho hanya memandang Ara yang dengan cepat menuju lemari baju. 5 menit kemudian Ara sudah keluar dengan memakai dess terusan sederhana dan santai masih dengan rambut yang setengah basah dan dibiarkan tergerai menjuntai di punggungnya.
“Apa kau tidak pulang semalam?”tanya Ara sambil menyisir rambutnya.
“Tumben kau tanyakan?”Yunho memandang Ara dan terpantul dari cermin didepannya. Ara memandang Yunho dari depan cermin.
“Sudahlah…….Aku mau buat sarapan dulu.”Ara meninggalkan Yunho yang tersenyum tipis.
Selesai membuat sarapan Ara bersiap memanggil Yunho untuk sarapan, tapi ternaya Yunho sudah lebih dulu turun untuk menemuinya dimeja makan.
“Gomawo..”ucap Yunho selesai menyantap makanan yang dimasak Ara.
“Untuk apa?”Ara agak heran mendengar Yunho mengucapkan terima kasih.
“Sarapannya.”kata Yunho.
“Na do.”jawab Ara datar.
“Yun mmm….aku rasa sudah saatnya kita akhiri perjanjian kita.”kata Ara setelah mereka selesai sarapan.
“Kau mau kita bercerai sekarang?”tanya Yunho.
“Nde. nenekmu sudah sembuh. Dan aku rasa sudah cukup dengan pernikahan ini.”kata Ara datar.
“Aku……….”belum sempat Yunho meneruskan ucapannya telepon genggamnya yang tiba-tiba berbunyi.
“Yobosoe?”
“…”
“Nde, Appa.”
“…”
“Nde.”
Yunho menutup teleponnya dan menatap Ara.
“Boleh kita bicarakan ini besok saja. Nanti malam Appa meminta kita makan malam dengan rekan bisnisnya.”kata Yunho.
“Baiklah.”kata Ara.
“Kita kesana jam 7.”kata Yunho lagi.
Ara hanya mengangguk dan berlalu menuju ruang kerjanya.
Selain Yoen Hee kini Yunho tahu bahwa Ara adalah seorang penulis.Beberapa kali diam-diam Yunho sering membaca novel Ara dan mengagumi hasil karyanya, walaupun menurut Yunho novel-novel Ara agak sedikit sinis.
Perlahan misteri yang selama ini disembunyikan Ara terbuka satu per satu.
Yunho yang mulai sedikit tahu siapa Ara sedikit merubah sikapnya pada Ara. Dia sudah tidak sekasar dulu lagi.Sebenarnya Ara bukan tidak melihat perubahan sikap Yunho tapi Ara berusaha untuk menutup rapat hatinya untuk namja tampan itu.
Ara menekan perasaannya yang sedikit demi sedikit mulai tertarik dengan suami ‘pura-puran’nya itu. Ara tak ingin jatuh cinta dengan orang yang telah menghinanya dan menganggapnya bukan wanita baik-baik.
*****
Yunho masih saja terus dikejutkan oleh Ara setiap melihat istrinya itu berdandan. Meski Yunho tahu dengan baju apapun Ara terlihat cantik tapi Yunho selalu dibuat terpesona setiap akan mengajak Ara pergi kesebuah pesta atau makan malam resmi.
Yunho kadang berfikir kenapa Ara harus bergaul dengan Bos-Bos yang sudah tua dan berkencan dengan mereka. Meski perlahan Ara sudah mulai mengisi hatinya tapi Yunho menyangkalnya dengan keras. Kesan jijik akan kembali terlintas saat mengingat bahwa Ara adalah bawaan Oom-Oom.
Tuan dan Nyonya Jung sudah menunggu mereka diruang tamu. Nyonya Jung menyambut Ara dengan bahagia. Perasaan sayangnya pada Ara membuat Ara sedikit sulit karena dia mulai merasa tidak enak dengan perlakuan keluarga Jung yang sangat baik padanya. Padahal mereka tidak tahu kalau dia hanya pura-pura menjadi menantu mereka.
“Ah itu mereka datang.”Tuan Jung tersenyum lebar mendengar suara mobil memasuki halaman rumah megah itu.
“Mari..mari…. silahkan.”Dengan ramah Tuan Jung mempersilahkan tamunya.
“Kenalkan ini anak dan menantu saya.”
Yunho dan Ara memperkenalkan diri.
“Choneon Jung Yunho imnida”Yunho membungkuk dan tersenyum pada tamunya.
“Choneon Jung Ara imnida”Ara membungkuk dan mengangkat kepalanya. Senyum Ara langsung terhenti saat melihat tamu ayah mertuanya itu.
Tamunya pun tak kalah kaget melihat Ara.
“Ara?”
“Apa kau mengenalnya Tuan Go?”tanya Tuan Jung yang heran melihat reaksi Tuan Go.
Nyonya Go yang ada disamping tuan Go kaget melihat putrinya ada dirumah Tuan Jung dan sudah menjadi menantu dari keluarga Jung.
“Ara!”Nyonya Jung memeluk Ara dengan airmata yang mulai menetes dipipinya.
Ara tak bereaksi, dia hanya terdiam membisu melihat orangtuanya didepan matanya.
Yunho tak kalah kaget melihat kenyataan didepan matanya, bahwa Ara bukanlah seorang yatim piatu seperti pengakuannya selama ini.
Melihat suasana yang canggung itu Tuan Jungpun mencairkan suasana dengan mengajak mereka langsung kemeja makan.
Meski Ara hanya diam saja tanpa banyak bicara tapi Umma Ara terus mengajaknya bicara sambil mengelus-elus rambut Ara dengan sayang terlihat rasa kangen yang sangat pada buah hatinya itu.
Melihat Ara yang tampak sangat syock, Yunho merasa kasihan dan meminta pada kedua orangtuanya untuk membawanya pulang sebelum acara makan malam selesai.
Awalnya Nyonya Go tak mengijinkan tapi Nyonya Jung meyakinkannya hingga dengan berat hati dia mengijinkan Yunho membawanya pulang.
“Jaga dia Yunho.”kata Nyonya Go.
“Nde.”Yunho membungkuk dengan hormat.
Ara hanya menurut saat Yunho menuntunya memasuki mobil, badan Ara sangat lemas seperti tidak ada tenaga sama sekali. Yunho khawatir melihat Ara seperti itu, diam tanpa berkata apa-apa.
*****
Sampai dirumah Yunho langsung menuntun Ara menuju kamar dan membaringkannya ditempat tidur. Ara yang masih syock tetap tak membuka suaranya. Matanya menatap kosong.
“Ara kau tidak apa-apa?”tanya Yunho duduk disamping tempat tidur.
Ara tak menjawab, perlahan matanya mulai basah, tanpa suara Ara ternyata menangis.
“Ara….”Yunho benar-benar merasa khawatir melihat Ara.
“Menangislah kalau ingin menangis.”Ujar Yunho.
Perlahan Yunho mendengar isak kecil dari mulut Ara.Berusaha setegar apapun ternyata Ara tetaplah manusia biasa. Diapun menangis disaksikan Yunho yang memandangnya penuh dengan tanda tanya.
Semalaman Ara menangis sampai dia tertidur karena kelelahan menangis. Yunho yang menungguinya tanpa sadar ikut tertidur disamping Ara menyender ke tembok.
*****
Yunho terbangun merasakan lehernya sakit karena tertidur dengan posisi terduduk. Dilihatnya Ara yang masih tertidur. Yunho merasa kasihan melihat Ara yang Nampak sangat terpuruk.
Wanita yang menurutnya keras kepala dan angkuh itu ternyata bisa sangat rapuh saat bertemu orangtuanya. Tapi Yunho tidak mengerti kenapa Ara hanya diam seribu bahasa ketika bertemu dengan mereka.
Entah apa yang ada dihati Ara sebenarnya. Yunho sama sekali tak bisa menebak. Ara yang misterius dan tertutup sangat sulit untuk dipahami Yunho.
Yunho membenarkan selimut yang menutupi tubuh Ara dan membiarkannya tetap tertidur. Hari ini Yunho tak masuk kantor tapi menuju tempat orangtuanya untuk mencari tahu tentang orangtua Ara.
Yunho mendengarkan dengan seksama cerita orangtuanya tentang apa sebenarnya masalah Ara dan orantuanya. Yunho sempat tercengang mendengar cerita orangtuanya.
Kini Yunho mulai bisa menebak ketertutupan Ara selama ini. Masa lalunya yang pahit mungkin itu yang membentuk kepribadiannya menjadi keras dan tertutup dengan orang lain.
Sepulang dari rumah orangtuanya Yunho menuju apartemen Yoen Hee. Dia tahu itu tempat tinggal Yoen Hee karena pernah mengikuti Ara sampai kesana.
Yoen Hee kaget melihat Yunho ada didepan pintu apartemennya.
“Kau tahu darimana aku tinggal disini? Apa Ara memberitahumu?”tanya Yoen Hee mempersilahkan Yunho duduk.
“Anyo…aku pernah mengikuti Ara sampai sini.”kata Yunho.
“Jadi kau memata-matai Ara?”
“Anyo…aku hanya penasaran kenapa Ara setiap sabtu keluar pagi-pagi dan baru pulang malam hari. Ah itu tidak penting sekarang ada yang lebih penting yang mau aku tanyakan.”kata Yunho.
“Apa lagi yang kau mau tahu?”ujar Yoen Hee curiga.
“Kau tahu orangtua Ara masih hidup?”tanya Yunho.
“Mwo? Anyo…itu..”Yoen Hee ragu menjawabnya.
“Kau tidak usah berbohong Yoen Hee, aku sudah tahu semuanya, aku hanya ingin dengar darimu saja.”Yunho menatap Yoen Hee dengan tajam membuat Yoen Hee sedikit gelagapan.
“Nde.”jawab Yoen Hee akhirnya.
“Kau juga tahu Ara pernah dibuang mereka kepantai asuhan?”
“Nde.”
“Sekarang kau beritahu kenapa Ara suka berkencan dengan Oom-Oom.”kata Yunho membuat Yoen Hee terkejut.
“Ara tak seperti yang kau sangka Yunho-ssi.”
“Maksudmu?”
“Apa kau perduli pada Ara?”tanya Yoen Hee.
“Nde. Karena itulah aku ingin tahu tentang dia, selama ini Ara menutup diri.”kata Yunho.
“Apa kau benar-benar perduli padanya Yunho-ssi?”
Yunho mengangguk, Yoen Hee menatap mata Yunho dan melihat keseriusan dimatanya, Yoen Hee menghela nafas panjang.
“Ara adalah sahabat yang baik, dia juga Yeoja yang baik. Meski orang sering salah paham padanya karena sikap acuh dan tertutupnya tapi buatku dia adalah orang baik.”
Yoen Hee mulai menceritakan siapa Ara sebenarnya pada Yunho.Yunho mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan Yoen Hee tentang Ara.
“Jadi dia mengencani mereka untuk balas dendam pada Appanya?”tanya Yunho.
“Nde. Itulah alasan Ara di berikan ke pantai asuhan. Saat Ara masih berumur 3 bulan Appanya berselingkuh dengan Yeoja yang lebih muda usianya darinya sedangkan Ummanya juga melakukan hal yang sama pergi dengan namja tampan yang umurnya jauh lebih muda.”kata Yoen Hee.
“Jadi karena itu Ara tak mau menyukai namja seusianya?”
“Nde.”
“Bagaimana dengan uang?”tanya Yunho lagi.
“Ara tak pernah minta uang pada Bos-Bos itu mereka yang memberikannya pada Ara dan Ara hanya memanfaatkan kesombongan mereka saja.”kata Yoen Hee.
“Apa benar?”
“Kau tahu Yun? Meski berkencan tak ada satupun dari mereka yang bisa menyentuh Ara.”
“Sincha?”
“Mungkin kau tak percaya tapi itulah kenyataannya. Karena itulah dia sangat membencimu karena menuduhnya secara sepihak.”
Yunho teringat tamparan Ara beberapa bulan lalu dipinggir jalan.
“Itu juga alasan dia mau manikahimu.”
“Mwo?”
“Dia ingin membalasmu Yunho-ssi.”kata Yoen Hee.
“Membalasku?”
“Nde. Dia hanya ingin mengerjaimu saja.”
“Tapi dia menerima uangku.”kata Yunho sedikit terbelalak mendengar ucapan Yoen Hee.
“Aku tidak tahu kalau itu. Tapi Ara pantang meminta uang pada orang lain kecuali orang itu memberikannya, dia sendiri juga punya uang banyak dari hasil penerbitan novelnya.” Yunho baru menyadari bahwa Ara selama ini tak pernah meminta uang padanya bahkan hanya untuk uang belanja makanan sehari-hari.
Yunho merasa menyesal telah menilai Ara secara sepihak. Ternyata apa yang ada dipikirannya tentang Ara sungguh sangat berbeda dengan kenyataan siapa Ara sesungguhnya.
“Apa kalian akan bercerai?”tanya Yoen Hee melihat Yunho yang terdiam.
“Ara memintaku membicarakan itu kemarin.”jawab Yunho.
“Apa kau sama sekali tak menyukainya Yunho-ssi?”
“Aku tidak tahu..”Yunho bingung harus menjawab apa.
“Entah salah atau tidak tapi aku berharap kalian tak bercerai.”
“Mwo?”
“Aku merasa kau namja yang baik Yunho-ssi, aku percaya kau bisa menjaga dan membahagiakan Ara.”kata Yoen Hee penuh harapan.
“Kau yakin padaku?”tanya Yunho sedikit heran.
“Ya, karena hanya kau yang tidak mengajaknya kencan beberapa bulan lalu sampai kami berdua harus mengganti nomer telepon karena teror teman-temanmu.”
Yunho tersenyum malu teringat taruhannya dengan teman-temannya beberapa waktu lalu. Yunho memang tak menghubungi Ara seperti yang dilakukan teman-temannya.
“Bagaimana dengan Ara?”
“Tugasmu untuk membuatnya jatuh cinta padamu Yunho-ssi.”kata Yeon Hee tersenyum.
“Aku……”
“Aku tahu kau mulai menyukainya Yunho-ssi, tolong jangan sakiti dia, berjanjilah padaku.”Yoen Hee membungkukkan badannya memohon pada Yunho.
“Yoen Hee-ssi…”Yunho membangunkan Yoen Hee.
“Berjanjilah..”
“Nde!”Yoen Hee tersenyum senang.
Yunho pulang dengan perasaan lega. Kini dia sudah bisa melihat dengan jelas siapa Ara sesungguhnya. Kabut yang selama ini susah untuk ditebusnya perlahan sudah mulai memudar.
Ara ternyata adalah bukan seorang yeoja biasa. Dia bukan wanita murahan yang menggadaikan harga dirinya untuk Oom-oom senang .Yunho merasa lega mengetahui bahwa Ara tak pernah tersentuh orang-orang menjijikkan seperti mereka.
Dan dugaannya yang salah setiap Ara keluar rumah setiap hari sabtu yang ternyata mengunjungi pantai asuhan tempatnya dulu dibesarkan. Dan sakit hatinya pada orangtuanya karena baru mengakuinya setelah dia lulus sma, sehingga membuatnya tak ingin tinggal dengan mereka dan memilih tinggal sendiri di apartement yang dibeli dari uang hasil menulis novel.
Yunho tiba-tiba berbalik mengagumi wanita yang sudah menjadi istrinya selama hampir lima bulan ini. Perasaan yang selama ini berusaha untuk ditutupi dan dipendamnya perlahan dibiarkan Yunho bersemi dihatinya. Yunho tersenyum menuju arah pulang. Rasanya dia tak sabar menemui istrinya.
*****
Ara membereskan baju-baju dan barang-barangnya. Hari ini dia bertekad meminta cerai pada Yunho dan kembali tinggal dengan Yoen Hee di apartemenya. Ara sudah sangat lelah dengan sandiwara ini. Ara ingin kembali menjalani hari-hari bebasnya dengan Yoen Hee dan berniat untuk kembali meneruskan kuliahnya yang tertunda.
Saat semua sudah rapi Ara sempat menatap kamar yang sudah menjadi tempat tinggalnya beberapa bulan ini. Ada sedikit rasa berat meninggalkannya.
“Kau mau kemana Ara?”Yunho kaget melihat koper-koper sudah rapi didalam kamarnya.
“Hari ini aku akan kembali ke tempat temanku, kau telepon aku saja kalau sidang proses cerai sudah siap.”jawab Ara.
“Apa maksudmu? Kau minta cerai sekarang?”tanya Yunho.
“Nde.”Ara hanya tertunduk.
Ara meraih gagang kopernya tapi belum sempat bergerak Yunho menahannya.
“Aku tak akan membiarkanmu pergi!”kata Yunho mengejutkan Ara.
“Mwo?”
“Aku tak akan menceraikanmu Ara!”ujar Yunho menatap Ara.
“Apa maksudmu? Dan sejak kapan kau menyebut namaku?”Ara terbelalak mendengar ucapan Yunho.
“Aku tak akan menceraikanmu Ara. Karena kau adalah istriku maka mulai hari ini aku akan memanggilmu Ara atau Yeobo.”
“Kau!”Meski masih kaget, hati Ara merasa hangat saat Yunho menyebutnya istri.
“Kau mau ingkari janjimu Jung Yunho?”
“Ya aku ingkari janjiku, karena aku tak ingin menceraikanmu.”
“Kau minta aku membawa ini ke pengadilan?”Ara memperlihatkan surat kontrak yang ditandatangani mereka berdua.
Ara menyeret kopernya kearah pintu keluar.
“Aku mencintaimu Ara!”Ara mengentikan langkahnya mendengar Yunho berteriak.
“Saranghae Ara.”Yunho mendekati Ara yang terpaku didepan pintu kamar.
Ara melepaskan tangannya dari gagang koper terdiam tanpa membalikkan badannya mendengar ucapan Yunho. Yunho membalikkan badan Ara dan memegangi bahunya dengan erat.
“Aku tak akan menceraikanmu Ara karena aku mencintaimu.”kata Yunho menatap mata Ara.
Ara menatap mata Yunho mencari kebenaran dimata namja tampan yang kini berdiri tepat didepannya dan berjarak sangat dekat.
“kau tidak usah mengasihani aku.”Ara berusaha melepaskan cengkeraman Yunho.
“Aku benar-benar jatuh cinta padamu Go Ara. Sejak pertama melihatmu di pesta Geun Suk.”kata Yunho meyakinkan Ara.
“Mwo?”Ara kaget mendapat pengakuan Yunho.
“Aku berusaha menutupinya dari teman-temanku karena gengsiku dan juga pandanganku tentangmu yang ternyata salah.”kata Yunho terdengar menyesal.
“Tapi aku tidak mencintaimu, kau hanya mainan untukku.”kata Ara sinis.
“Aku tahu kau ingin membalasku karena kau sakit hati padaku, aku tak keberatan,kalau kau tak mencintaiku aku akan membuatmu mencintaiku.”
“Kau percaya diri sekali.”
“Tetaplah disini Ara, menjadi istriku, aku janji tidak akan menyentuhmu sampai kapanpun asal kau tak meninggalkan aku.”Suara Yunho terdengar putus asa.
“Apa aku bisa mempercayai namja playboy seperti kamu? Naïf sekali.”Ujar Ara masih dengan nada sinisnya.
“Playboy? Ara aku memang mengencani banyak yeoja hanya untuk kesenangan saja sama sepertimu dengan Bos-Bos itu, tidak dengan hati.”jawab Yunho.
Ara tersentak menyadari bahwa dia juga tidak lebih baik dari Yunho.
“Aku tak pernah menyentuh mereka Ara, percayalah. Aku janji tak akan melakukannya lagi kalau kau tetap menjadi istriku.”Ujar Yunho lagi.
Ara memberanikan diri menatap Yunho yang masih berdiri didepannya, saat Ara menatap matanya Ara melihat ketulusan dimatanya yang teduh.
“Izinkan aku mencintaimu Ara, dengan apa adanya dirimu.”Yunho menatap dalam mata Ara yang tengah menatapnya.
Tanpa terasa mata Ara berkaca-kaca, ada rasa hangat yang menyergap hatinya mendengar kata-kata Yunho.
“Kenapa menangis Ara?”Yunho menyentuh pipi Ara dan menghapus airmata yang mengalir dipipi lembutnya.
“Aku…..”Ara menatap Yunho yang tersenyum.
“Biarkan aku menjagamu Ara.”Yunho menyentuh kedua tangan Ara dengan lembut. Ara melepaskan tangannya dan berbalik membelakangi Yunho.
Ara berbalik lagi dan memeluk Yunho, Yunho yang kaget sempat melongo dan baru membalas pelukan Ara setelah sempat bengong bererapa saat. Senyumnya mengembang. Menyadari tanpa berkata-kata Ara telah mengiyakan permintaannya.
Saat Ara melepaskan pelukannya Yunho tersenyum.
“Kau bisa mencintaiku dengan semua kekuranganku Yun?”tanya Ara.
“Kau panggil aku apa?”
“Yun.”Ara tersipu menyadari selama ini tak pernah menyebut nama Yunho.
“Itu kata-kata terindah yang pernah kudengar.”Yunho tersenyum senang.
“Kau belum menjawab pertanyaanku.”
“Ara, aku terlihat sempurna kalau kau juga menerima kekuranganku, dan aku mencintai kekuranganmu karena kau sempurna untukku.”Yunho menggenggam tangan Ara dan menciumnya.
Ara tersenyum, dia sama sekali tak menyangka namja dingin yang selama ini didekatnya ternyata jatuh cinta jauh sebelum dia mengenalnya.
Ara tak mungkin lagi membohongi hatinya yang perlahan sudah terisi oleh Yunho tanpa disadarinya. Apalagi sekarang dia tahu getar-getar itu tidak hanya dia saja yang merasakannya, tapi Yunho juga merasakan hal yang sama bahkan sebelum Ara punya perasaan itu.
Ara menyadari dia mulai menyukai Yunho setelah mereka tinggal satu rumah dan itu dirasakan Ara kian tumbuh setiap hari.
“Aku juga mencintaimu Yun.”ucap Ara lirih.
“Mwo?”meski hampir tak terdengar tapi kata-kata itu sontak membuat Yunho terbelalak.
“Sincha? Kau mencintaiku?”Yunho mengguncang bahu Ara.
Ara tersenyum dan mengangguk.
Yunho memeluk Ara dengan erat membuat Ara sesak nafas tapi Ara tak berontak melepaskan pelukannya.
“Jadi..”Yunho mengambil kertas perjanjain yang tergeletak dilantai dan menyobeknya. Ara hanya tersenyum melihatnya.
“Tapi ini masih berlaku?”Ara memperlihatkan secarik kertas yang disimpannya dalam tasnya.
Yunho memandang kertas itu dan mengeryitkan dahinya.
“Aku tak bisa janji.”Yunho mengedipkan matanya.
“Aishh….kau! benar-benar tidak bisa pegang janji.”Ara memonyongkan mulutnya.
Yunho hanya tersenyum, menyeret koper Ara kelemari baju.
“Eh mau apa?”
“Mengembalikan pada tempatnya.”kata Yunho meletakkan koper Ara di lemari baju.
Ara hanya tersenyum memperhatikan tingkah suaminya itu.
“Baiklah nyonya Jung, ada banyak hal yang harus kau ceritakan padaku.”Yunho duduk disamping Ara.
“Masih banyak waktu kan?”Ara tersenyum mendengar Yunho memanggilnya nyonya Jung.
“Baiklah! Tapi ini tak bisa ditunda.”Ucap Yunho mendekatkan wajahnya ke wajah Ara.
Reflek Ara menjauhkan wajahnya tapi tertahan karena tangan Yunho sudah menahan kepalanya untuk tidak menjauhinya lagi.
“Saranghae Ara.”Yunho menatap mata Ara dengan teduh.
“Na do saranghae.”Ara menjawab dengan muka yang bersemu merah karena tatapan Yunho yang terasa begitu teduh dan dalam menghujam hatinya.
Ara memejamkan matanya saat perlahan Yunho menyentuh bibirnya dengan lembut. Kali ini Ara bisa merasakan ciuman Yunho dengan seluruh hatinya. Perlahan Yunho melepaskan ciumannya dan menatap mata Ara yang menatapnya dengan lembut. Yunho tersenyum begitupun dengan Ara. Mereka kembali berciuman.
*****
Teman-teman Yunho kaget mendengar dia kini sudah resmi menjadi suami Ara dan membatalkan perjanjiannya tentang menikah pura-pura.
“Akhirnya kau jilat ludah sendiri Yun.”Donghae meninju bahu Yunho.
“Aishh…..sakit!”
“Benar Yun jadi dia pantas jadi nyonya Jung?”tanya Geun Suk.
“Tak masalah aku jilat ludah sendiri, nyatanya aku memang jatuh cinta padanya dan dia akan tetap jadi nyonya Jung selamanya.”Yunho terlihat sangat bahagia.
“Kau benar-benar sedang kasmaran Yunho-ah.”Min Ho geleng-geleng meihat temannya Nampak sangat bahagia.
“Nde, aku kasmaran dengan istriku.”
Teman-temannya hanya tersenyum melihat Yunho yang selama ini dingin terhadap yeoja tiba-tiba berubah karena seorang Ara, Yeoja yang awal mulanya diremehkannya bahkan direndahkannya bahkan oleh mereka semua.
Tetapi setelah mendengar cerita Yunho tentang siapa Ara sebenarnya, kini mereka beralih menjadi respect terhadapnya. Tak ada lagi pandangan rendah pada sosok Go Ara apalagi kini dia adalah istri dari sahabat mereka sendiri ,Yunho.
“Baiklah aku percaya padamu, sekarang jawab pertanyaanku.”Geun Suk memasang muka isengnya.
‘’apa lagi?”yunho mulai merasa tidak enak melihat pandangan Geun Suk yang mulai aneh.
“Apa kau sudah melakukannya?”Geun suk tersenyum jahil.
“Mwo? Aishh….kau….”muka Yunho memerah.
“hahaha……kau sudah melakukannya.”geun suk tertawa melihat muka Yunho yang memerah.
“Yun! Apa dia masih….?”tanya Donghae ikutan iseng.
“Hai! Kalian apa-apaan bertanya seperti itu.”muka Yunho tambah merah padam.
Serempak mereka tertawa.
“Kapan kau bulan madu Yun?”Ki Bum jadi gatel ingin ikut meledek Yunho.
“Aishh….kalian! Ara mau meneruskan kuliah jadi kami tak akan bulan madu.”jawab Yunho.
“Kau belum jawab pertanyaanku tadi.”Donghae mengerdipkan matanya pada Yunho.
“jawab saja Yun, dia akan terus memburumu sampai kau mengatakannya.”kata Min Ho tersenyum iseng.
“Kalian ini…benar-benar!”Yunho beranjak dari tempat duduknya dan melangkah meninggalkan teman-temannya yang masih asyik tertawa meledeknya.
“Yun! Masih atau tidak?!”donghae berteriak melihat Yunho semakin menjauhi mereka.
Yunho menoleh dan tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.
“Aishh……dasar si Yunho.”Sungut donghae.
‘’kau bisa menebaknya dari senyumnya tadi, pabo!”Min Ho menjitak kepala Donghae.
“Namja yang beruntung.”kata Ki Bum.
“Kurasa mereka memang serasi.”geun Suk ikut menimpali.
“jadi kau sudah tidak penasaran dengan Ara lagi?”tanya Min Ho.
“Itu sudah berlalu.”Geun Suk tersenyum.
*****
Yoen Hee bahagia mendengar Ara kini benar-benar menjadi istri Yunho dalam arti sebenarnya dan berkat Yunho Ara kini sudah berdamai dengan orangtuanya. Ara perlahan membuka pintu hatinya untuk memaafkan kedua orangtuanya dan mengikis dendam dalam hatinya sedikit demi sedikit.Dan Yunho baru tahu kalau rekening atas nama Ara yang dibukakannya dulu masih utuh tak pernah dipakai sepeserpun, awalnya Ara ingin menyumbangkan sebagian untuk pantai asuhan tempatnya tinggal dulu tapi Ara merasa itu bukanlah uangnya jadi dia membatalkannya dan berniat mengembalikan uang itu saat dia bercerai dengan Yunho, sekarang setelah Yunho tahu, Yunho sendirilah yang meminta Ara untuk menyumbangkannya uang tersebut.
Keputusan Ara untuk kembali kuliahpun disetujui Yunho, Yunho tak keberatan Ara menunda memiliki anak sampai dia lulus kuliah dan baik orangtuanya ataupun orangtua Yunho tak keberatan dengan pilihannya.
Sekarang hari-hari Ara menjadi berwarna karena kehadiran Yunho disampingnya.
* THE END *
Gimana?
Aneh ya? Sorry if disappoint reading…..please comment dan…..i love if you have any attention for my FF for better or not. Masukan yang membangun dan kritik akan memicu buatku menulis lebih baik.
Terima kasih sudah membaca.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar