Annyeong Haseo..............
Kembali di lanjutan FF gaje hehheee.........here they are,,,,,,,,
BEAUTIFUL GRACE
Main cast :
Yunho , Ara
Other cast :
many of hallyu star ( every chapter are new cast )
Genre :
Romantics, Friendship
Rating :
13 +
Category :
Chapter ( long I hope )
PART 4
Cheating…..
“Oemma…aku
akan kerumah Tifanny, mungkin nanti sore aku baru kembali.”Ara menghampiri
Oemmanya yang tengah duduk diruang tengah membaca majalah mode.
“Apa
Minho menjemputmu?”
“Anyo
Oemma, dia ada latihan basket hari ini jadi aku akan naik taksi saja.”
“Oh….hati-hati
kalau begitu sayang,jangan pulang terlalu malam.”
“Nde
Oemma.”Ara mencium pipi Oemma terkasihnya dan bergegas keluar.
‘Aku
akan memberi kejutan padanya hari ini, pasti dia senang aku membawakan kue
kesukannnya.’
Ara
tersenyum didalam taksi yang melaju membawanya.
‘Mian
Oemma………’ Ara masih juga merasa sedih setiap berbohong demi namja itu.
Rumah
itu terlihat sepi, beberapa kali memencet bell tak ada yang membukakan
pintu.Perlahan Ara mendorong pintu gerbang yang ternyata tak dikunci.
Ara
celingukan mencari penghuni rumah tapi tak tampak satupun orang . Pintu depan
yang terbuka membuat Ara perlahan masuk dengan suara pelan memanggil sang
empunya rumah.
“Hyun!....Soohyun!….”tetap
tak ada sahutan.
Ara
melangkah keruang tengah dan kosong, kemudian kedapur tetap tak ada orang. Ara
melongok taman belakang rumah dan menyapukan pandangannya keseluruh halaman
tapi tak tampak seorangpun disana.
‘Mungkin
dia masih tidur…’gumamnya memandang tangga.
Perlahan
dia menaiki tangga menuju kamar Soohyun yang ada dilantai 2 rumah besar itu.
Secara
perlahan pula Ara memutar gagang pintu kamar itu dengan ragu-ragu.
Bruk!!
Pyar!!
Kue
ditangan Ara jatuh berantakan beserta dengan topless kecil yang terbuat dari
kaca tepat mengenai kakinya.
Ara
menutup mulutnya, tak percaya apa yang dilihatnya didepan matanya.
“Mianhe………!!!”Ara
berlari menuruni tangga dengan cepat dan keluar dari rumah Soohyun secepat yang
dia bisa dan menyetop taksi yang kebetulan melintas didepan rumah.
“Ara!
Ara! Ara!.......”Suara teriakan memanggil-manggil namanya tak dihiraukan Ara.
Airmata
Ara menetes dengan deras tanpa bisa ditahan lagi.
Soohyun
berteriak-teriak didepan rumahnya dengan wajah panik. Tapi taksi itu berlalu
begitu saja meninggalkannya.
Tiffany
berlari keluar menyusul Soohyun.
Saat
Soohyun hendak menyetop taksi untuk menyusul Ara, Tifffany menahan tangan
Soohyun.
“Kalau
kau ingin menyusulnya setidaknya kau berpakaian dulu!”Tiffany berteriak melihat
reaksi Soohyun yang sangat ekstrem.
Reflek
Sooyhun melihat dirinya sendiri.
Soohyun
syock setengah mati begitu tahu dia
hanya memakai boxer. Matanya membelalak melihat kesekitarnya, dan walaaa………….
Orang-orang
memandangnya dengan bebagai ekspresi.
Melihat
Soohyun yang hanya melongo karena syock Tiffany menyeret tangn Soohyun ke dalam
rumahnya.
Soohyun
terduduk di sofa dengan lemas. Lengkap sudah kesialannya pagi ini.
Pikirannya
yang masih blank membuatnya tak bisa berpikir.
Dia
memandang Tiffany dengan wajah kecewa, sementara Tiffany hanya menunduk.
Setelah
beberapa saat mereka berdua hanya diam….
“Tiffany,
kita harus menjelaskan ini pada Ara.”kata Soohyun dengan nada sura lemah.
Tiffany
hanya mengangguk
“Pulanglah!
Aku akan mencarinya sendiri.”Soohyun meninggalkan Tiffany yang masih tertunduk,
naik kekamarnya dilantai dua.
Tiffany
mendesah.
‘
maafkan aku Ara……..’
Tiffany
merasakan matanya menghangat. Perlahan diusapnya airmata yang mulai menuruni
pipinya. Dia berdiri dan memandang tangga rumah itu sesaat.
‘Aku
tetaplah benalu diantara pohon cinta kalian…….’
Ada
sakit yang dirasakan Tiffany dalam hatinya.
*****
Ara
terduduk dibangku taman. Airmatanya belum berhenti mengalir. Kakinya terasa
perih terkena pecahan kaca toples tapi
tak dihiraukan meskipun darah terus mengalir dari lukanya.
Ara
benar-benar tak percaya apa yang dilihatnya. Ara menggigit bibirnya kuat kuat
dan menggelengkan kepalanya dengan sama kuatnya.
Hatinya
terasa sangat sakit, sakit sekali.
Tanpa
isakan, airmata Ara terus membasahi pipinya. Tibat-tiba hpnya bergetar.Ara
mengeluarkannya dari tas yang ada dipangkuannya. Saat melihat layar Ara
langsung merijek panggilan itu dan mematikan ponselnya.
Ara
menarik nafasnya dengan berat.
‘Kenapa
dadaku sakit sekali…’bisik Ara dalam hati.
“Ini…….”Ara
mendongakkan kepalanya saat sebuah tangan mengulurkan tissue kearahnya.
“Gomawo…”Yeoja
cantik berkuncir kuda itu tersenyum pada Ara.
Ara
dengan susah payah membalas senyumannya.
“Kenapa
menangis sendiri disini?”tanya yeoja itu lagi.
Ara
hanya menggelengkan kepalanya.
“Kau
baru putus dengan pacarmu?”tanya yeoja itu lagi. Ara tak menjawab hanya
terdiam.
“Aigooo…kakimu
berdarah!”Yeoja itu panic melihat darah mengalir dari kaki Ara.
Ara
hanya memandang kakinya tanpa berkata apa-apa.
“Ayo,kau
harus ke dokter! Lukamu cukup dalam dan bisa infeksi kalau tak cepat di
obati.”Yeoja itu mengulurkan tangannya.
Ara
memandang yeoja itu dengan pandangan kosong. Badannya terasa sangat lelah,
selain darah yang yang keluar terlalu banyak tapi Ara juga lelah karena pikiran
dan hatinya yang kosong entah kemana.
“Kayo!
Kenapa kau seperti patung tak bergerak.”Yeoja itu merangkul Ara dan menuntunnya
menuju sebuah mobil yang tidak jauh terparkir dari bangku taman.
Dengan
cepat Yeoja itu membawa mobilnya. Ara tidak tahu akan dibawa kemana. Pikirannya
yang kosong tak menyadari apa yang tengah terjadi.
Yang
dia tahu kepalanya tiba-tiba berkunang-kunang dan pandangannya menjadi sangat
gelap. Ara pingsan didalam mobil seorang yeoja yang tak dikenalnya.
Perlahan
Ara membuka matanya. Matanya menyusuri kamar bernuansa biru itu dengan
perlahan. Itu bukan rumah sakit tapi sebuah kamar tidur seorang yeoja karena
didinding tergantung beberapa foto yeoja cantik dengan berbagai pose dan
beberapa boneka disamping kepalanya.
Perlahan
Ara menangkat tubuhnya yang terasa sangat lemas.
“Kau
sudah bangun?”sebuah suara mengagetkan Ara.
“Nde…aku
dimana?”Yeoja yang dilihat ditaman itu tersenyum dengan ramah.
“Dirumahku!
Tepatnya dikamarku.”ujar yeoja itu mendekati Ara yang masih diatas tempat
tidurnya.
“Oh….gomawo
sudah menolongku.”Ara merasa tidak enak sudah menyusahkan orang lain.
“Tadi
kau pingsan dimobilku saat kita akan ke rumah sakit, karena aku tidak tahu
rumahmu maka aku bawa kesini saja.”Yeoja tersenyummanis.
“Mianhe..menyusahkanmu.”Ara
membungkuk.
“Sudahlah…oh
ya siapa namamu? Aku Kim So Eun.”Yeoja cantik itu memperkenalkan diri.
“Go
Ara imnida.”
‘Dia
cantik dan baik…’ujar Ara dalam hati.
“Jam
berapa sekarang?tanya Ara.
“Setengah
tujuh.”jawab So Eun.
“Hah?
Ah aku harus pulang.”Ara bergegas turun dari tempat tidur So Eun dan terhuyung
karena merasakan perih dikaki kanannya yang kini sudah terbalut perban.
“Pelan-pelan
Ara! Kakimu terluka cukup dalam untung hanya pangkal jarimu saja bukan telapak
kakimu.”So Eun menuntun Ara yang terhuyung.
Ara
meringis menahan sakit dikakinya yang beru terasa sekarang.
“Sebaiknya
kau kuantar pulang.”kata So Eun lagi.
“Tidak
usah So Eun, aku tidak mau merepotkanmu lagi.”Ara merasa enggan lebih
menyusahkan Yeoja baik itu.
“Aku
akan marah bila kau tolak!”So Eun mengancam Ara yang bersikeras tak mau diantar
pulang.
Merasa
tidak enak akhirnya Ara menagngguk membuat So Eun tersenyum.
So
Eun menuntun Ara keluar kamarnya, saat sampai di ruang tengah keluarga mereka
berpapasan dengan seorang namja tampan.
“So
Eun siapa dia? Dan kenapa dengan kakinya?”tanya namja itu melihat Ara.
“Ini
Ara, Oppa…kakinya terluka tadi ditaman, aku meolongnya.”So Eun tersenyum.
“Baik
sekali adikku ini! Sekarang kalian mau kemana?”namja itu tersenyum pada Ara.
“Aku
akan mengantarnya pulang Oppa.”jawab So Eun terus menuntun Ara menuju pintu
keluar.
“Biar
aku antar kalian.”namja tampan itu mengikuti So Eun dan Ara.
“Nde?
Gomawo Oppa!”So Eun tersenyum senang.
Tak
banyak kata yang diucapkan Ara dan So Eun didalam mobil menuju rumah Ara. Wajah
Ara yang murung dan memandang kosong keluar jendela sesekali diperhatikan namja
tampan yang juga kakak So Eun dari kaca spion.
Meski
tak bercerita baik So Eun maupun kakaknya tahu bahwa Ara kini tengah patah hati
dan sangat labil.
“Mianhe
merepotkan…Kamsahamnida!”Ara membungkuk pada dua orang baru yang begitu baik
padanya padahal mereka tak mengenalnya.
“Anneyong……”So
Eun tersenyum melambaikan tangannya sementara namja itu hanya tersenyum.
“Sayang
kau kenapa?”Oemma Ara nampak panik melihat kaki Ara diperban.
“Tadi
terkena pecahan kaca ditaman Oemma, tapi sudah tidak apa-apa, sudah
diobati.”Ara tak ingin membuat Oemmanya khawatir.
“Sincha?
Aduh lain kali kau harus lebih hati-hati sayang.”Nyounya Go menciumi buah hati
satu-satunya itu dengan sayang.
“Nde
Oemma.”Ara mencoba tersenyum.
“Tadi
Tifanny menelepon Oemma menanyakan apa kau sudah pulang atau belum.”kat a Oemmanya
lagi.
“Oh…”
“Kau
kemana sayang? ”tanya Oemmanya lagi.
“Aku
berjalan-jalan ditaman Oemma.”Ara berbohong.
“Tapi
kenapa sampai malam?”
“Itu
karena aku tidak sengaja menginjak kaca Oemma jadi aku kerumah sakit untuk
mengobati luka ini dulu.”jawab Ara.
“Sayang
kenapa kau tak menelepon Oemma atau Appa atau Minho?”tanya Oemmanya mengelus
lembut kepala Ara.
“Ah….
Oemma tidak usah dibesar-besarkan ini hanya luka kecil tak usah beritahu
Minho.”kata Ara.
“Baiklah…apa
kau sudah makan?”
Ara
menggeleng.
“Bagaimana
tubuhmu tidak kurus kalau makanpun kau masih harus diingatkan.”Oemmanya
menuntun Ara menuju ruang makan.
Ara
hanya mengikuti, meski dia sama sekali tak ingin makan tapi demi Oemmanya, Ara ingin
mengabaikan tangis yang terus mendesaknya untuk ditumpahkan.
Ara
menumpahkan tangisnya dalam pelukan teddy bear kesayangannya sampai kelelahan ,
membuat segala kesedihan dan kelelahannya
terbawa kealam mimpi.
*****
“Yunho-ah,
bisa kita bicara?”tanya Yuri sepulang sekolah saat Yunho mengantarnya pulang.
“Bukankah
kita sedang bicara Yul?”tanya Yunho bingung.
“Bukan
itu..aku ingin bicara serius denganmu.”kata Yuri.
“Baiklah…”Yunho
tersenyum.
Melihat
Yunho tersenyum jantung Yuri langsung berdetak dengan cepat.
“Kau
mau kita bicara dimana Yuri?”tanya Yunho.
“Bagaimana
kalau di café ‘STAR’ saja?”tanya Yuri.
Yunho
hanya mengangguk dan mengarahkan mobilnya menuju café langganan dia dan teman-teman
dari tim basketnya nongkrong kalau sedang ada waktu.
Yunho
dan Yuri memilih meja disudut ruangan ,
café itu masih sepi karena hari memang masih siang sedangkan pengunjung akan
ramai bila hari sudah mulai menjelang malam.
“Yun…”Yuri
menatap Yunho yang memandangnya dengan dingin, meski senyum tersungging
dibibirnya.
“Mmm……”Yunho
memandang yeoja cantik didepannya yang tampak serius.
“Yun,apa
salah kalau seorang yeoja menyatakan cinta lebih dulu?”tanya Yuri memandang
Yunho dengan tatapan ragu.
“Mwo?”Yunho
cukup tercekat mendengar pertanyaan Yuri, ingatanya kembali terlintas dengan
pernyataan Tiffany beberapa hari yang lalu disekolah.
“Apa
tidak akan memalukan bila seorang yeoja menyatakan cinta pada seorang namja?”
“Emmmm….entahlah
aku pikir tak apa-apa, terkadang seorang namja juga malu menyatakan perasaannya
dan mungkin dengan pengakuan yeoja itu akan membantunya.”kata Yunho.
“Sincha?”
Yunho
menangguk.
“Kalau
mereka saling menyukai aku pikir tak akan penting siapa yang menyatakan
cinta.”meski masih SMA ternyata pola pikir Yunho sudah sangat dewasa.
“Bagaimana
kalu namja itu menolaknya?”tanya Yuri lagi.
“Apa
kau sedang menyukai seorang namja, Yuri?”tanya Yunho membuat Yuri gugup.
“Anyi…temanku
sedang menyukai seorang namja.”Yuri berusaha menghindari mata Yunho yang
memandangnya dengan penuh selidik.
“Oh…kukira
kau.”Yunho tersenyum melihat kegugupan Yuri.
“Yun….”
“Hmm……..”
“Menurut
pandanganmu tentang yeoja yang seperti itu bagaimana?”
“Maksudmu
pendapat pribadiku?”tanya Yunho.
“Nde.
Apa kau tidak akan memandang rendah padanya?”
Yunho
menggeleng.
“Aku
menghormati perasaan orang apalagi seorang yeoja, meski aku tak punya perasaan
yang sama tapi aku akan berterima kasih karena sudah menyukaiku dan aku akan
meminta maaf karena tak bisa membalasnya tapi aku tak akan pernah memandang
rendah padanya.”kata Yunho panjang lebar.
“Sincha?
Kau baik sekali Yun…”Yuri tersenyum miris karena dia tahu banyak yeoja di
sekolahnya yang sudah menyatakan suka pada Yunho jauh sebelum dia berniat
mengungkapkan perasaannya sendiri dan mereka semua ditolak dengan halus oleh
Yunho.
Yuri
menggigit bibir bawahnya, rasanya sangat sesak terus-menerus menahan perasaan
sukanya pada Yunho tapi ia juga tak mau Yunho menjauhinya saat tahu bahwa ia
menyukainya lebih dari seorang teman.
Yuri
tak ingin hunbungannya dengan Yunho menjadi kaku dan aneh bila ia menyatakan
perasaannya sementara dia sendiri tidak tahu apa Yunho menyukainya atau tidak.
“Yul…Yul!
Yuri-ah!”Yunho memanggil Yuri dengan kencang tepat ditelinganya.
“Ah….kenapa
kau bertariak Yunho!”Yuri kaget Yunho memanggilnya tepat ditelinganya.
“Kau
melamun sampai jarak sedekat ini dipanggil tak terdengar.”Yunho mendengus.
“Ah
benarkah? Mian…”Yuri tersenyum malu.
“Kita
pulang saja, katanya mau bicara malah asyik melamun sendiri dan aku
dicuekin.”Yunho berdiri tapi Yuri menahannya dengan memegang lengan tangan Yunho.
Yunho
berhenti dan memandang Yuri,Yuri reflek melepaskan tangannya.
“Kajja…..”Yuri
menghindari tatapan Yunho dan menyembunyikan mukanya yang memerah.
Yunho
hanya mengikuti Yuri yang kikuk.
*****
Pagi
itu Ara bangun lebih cepat. Kakinya masih terasa sangat perih. Rasanya menangis
semalaman membuat matanya bengkak dan susah untuk dibuka.
Ara
mendekati jendela dan memandang keluar menikmati sinar matahari pagi yang menerobos
masuk kekamarnya. Ditariknya nafasnya berkali-kali dan dihembuskannya
berkali-kali. Sekitar lima menit Ara melakukan itu dan membuat perasaannya
sedikit demi sedikit menjadi lebih rileks dan tenang.
‘Kau
pasti bisa Ara!’
Ara
berbicara sendiri.
‘Gwencana!gwencana!’
Ara
memberi semangat pada dirinya sendiri.
‘Aku
akan konsentarsi untuk ujian, agar lulus dengan nilai yang bagus.’
Ara
mengusap airmata yang tanpa sadar masih mengalir dari sudut matanya. Ara
membuka pintu kamar mandi dan berendan di bath tub cukup lama.
Air
dingin itu terasa membasuh tubuhnya yang letih semalaman menangis dan membuang
semua kegundahan hatinya.
Sekitar
satu setengah jam kemudian Ara baru keluar dari kamar mandi.Ara bertekad
melupakan kejadian menyakitkan itu dan menjalani hari-harinya seperti biasanya.
Ara
kaget saat hpnya tiba-tiba berbunyi, saat melihat layar hpnya Ara mengerutkan
keningnya melihat nomer baru disana.
“Yoboseo?”
“Yoboseo!
Ara-ah?”tanya suara diseberang sana yang terdengar asing buat Ara.
“Nde!
Ini siapa?”Ara mengeryitkan dahinya.
“Aku
So Eun.”terdengar suara ceria diseberang sana.
“So
Eun….oh… ne…ne…”Ara tersenyum senang,ini adalah senyum pertama Ara pagi ini.
“Apa
kau punya waktu? Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat.”Ujar So Eun.
“Setelah
sekolah jam 1 siang aku bisa pergi.”kata Ara.
“Baiklah
aku akan menjemputmu, di mana kau sekolah?”
“Aku
sekolah dirumah?”
“Mwo?
Sekolah dirumah? Haha…kau jangan bercanda Ara.”So Eun tertawa.
“Nde,
aku tak bohong SoEun. Aku ambil home schooling.”jawab Ara serius.
“Hah!
Mianhe Ara, akupikir kau hanya bercanda. Baiklah aku jemput kau jam 1,OK!”
“OK!”
Ara
menutup teleponnya.
‘
Tak ada salahnya membuka pertemanan dengan orang baru…’
Gumam
Ara sembari menyisir rambutnya yang masih setengah basah, dia melihat wajahnya
yang kusut seperti tak punya gairah sama sekali. Ara tersenyum pada dirinya
sendiri, mencoba tersenyum semanis mungkin didepan kaca.
“Sayang
apa kau sudah bangaun?”terdengar suara nyonya Go dari luar kamar Ara.
“Nde
Oemma!”
“Cepatlah
sarapan…tutormu sudah menunggumu!”
“Nde!”
Ara
bergegas membenarkan baju dan dandanannya agar tak terlihat pucat,Ara harus
menyembunyikan perasaannya pada semua orang terutama orangtuanya .
Ara
memandang hp-nya yang berbunyi tiap 5 menit. Tiffany dan Soohyun bergantian
menghubunginya danmengiriminya sms.
Setelah
mematikan hp-nya Ara menuju kebawah untuk memulai pelajarannya.
Saat So Eun menjemputnya, Ara sangat senang ,
dia akan punya sahabat yang pasti akan sedikit membantu melupakan kejadian yang
tak ingin diingatnya itu.
“Kau
mau mengajakku kemana So Eun?”Ara bertanya saat So Eun membawanya menyusuri
jalanan kota Seoul yang terasa panas siang itu.
“Ketempat
les musikku”kata So Eun.
“Nde…..waeyo?”Aramengerutkan
keningnya.
“Mian
aku membuka dompetmu tapi aku lihat fotomu bermain piano jadi aku tahu kau juga
pasti suka musik.”
“Kau
membuka dompetku?”
“Ya
saat kau pingsan kemarin aku mencari identitas karena ingin mengantar kerumahmu tapi aku temukan alamat rumahmu di
Kanada,ya jadi aku bawa kau pulang kerumahku.”kata So Eun.
“Oh…gomawo,
proses kewargenagaraanku belum lengkap jadi aku masih memakai identitas
lamaku.”Ara tersenyum.
“Nde
aku mengerti. Sejak kapan kau bermain piano Ara?”
“Aku
tidak tahu kapan tepatnya tapi aku rasa sejak kecil.”
“Sudah
sampai!”So Eun tersenyum senang menatap bangunan berlanati 3 dengan cat
warna-warni dan penuh dengan gambar art dan berbagai lukisan alat music
didinding luarnya itu.
“Gedung
yang unik.”Ara tersenyum.
“Kau
suka?”So Eun senang melihat sahabat barunya itu tersenyum senang.
Ara
menangguk. So Eun mengajaknya langsung naikkelantai 3 dan memasuki sebuah
ruangan berbentuk aula yang cukup lebar dimana ada sebuah panggung mungil
dengan berbagai alat music yang tergeletak disana.
Mata
Ara berbinar melihat sebuah piano besar yang selalu ingin dicobanya. Ara
memandang So Eun dan seakan tahu So Eun mengiyakan .
Sekitar
15 menit Ara memainkan piano itu ketika tanpa mereka sadari 3 pasang mata
memandang mereka dari 10 menit yang lalu. Saat tuts terakhir Ara berhenti.
Plok!
Plok! Plok!
Ara
dan So Eun serentak menengok kearah
suara tepuk tangan yang cukup nyaring itu karena aula yang kosong jadi suara
tepukan itu menjadi menggema.
“Hai…permainanmu
bagus sekali.” 3 yeoja cantik itu menghampiri Ara dan So Eun.
“Kau?”
“Go
Ara imnida.”Ara membungkuk memperkenalkan dirinya.
“Aku
Yuri, ini Yoona dan itu Yoen Hee.”Yuri tersenyum mengetahui yang bermain piano
adalah Ara teman Minho dari SMA Kyungsan.
“Anneyong…….”Ara
tersenyum,Yoona dan Yoen Hee membalas dengan senyuman.
“Kalian
sudah pernah bertemu?”tanya So Eun.
“Iya
saat pertandingan basket antar sekolah, tapi belum sempat berkenalan.”kata
Yoona.
“Oh…”So
Eun mengangguk.
“Menurut
kalian bagaimana permainan Ara?”tanya So Eun pada 3 teman lesnya yang baru bergabung itu.
“Bagus
…sangat bagus menurutku.”kata Yoen Hee.
“Aku
rasa benar yang dikatakan Yoen Hee,permainnanya sangat bagus. Apa kau juga bisa
music modern Ara?”tanya Yuri.
“Ya
aku bisa…”Ara senang permainan pianonya disukai oleh teman-teman barunya ini.
“Kalau
begitu ayo kita coba….”Yoona mengambil Biola.
Yoen
Hee tak mau ketinggalan mengambil terompet, Yuri mengambil flute dan So Eun
memegang gitar.
“Kau
tahu lagu theme song james bond?’tanya
Yuri.
“Nde…”
“Kau
bisa memainkannya?”
Ara
mengangguk.
“Ok…1,2,3…”So
Eun mengawali petikan gitarnya diikuti dentingan piano Ara.
Tanpa
disadari mereka berlima sudah asyik dengan alat musiknya masing-masing dan
larut dalam satu irama yang kompak dan terdengar indah.
Saat
selesai mereka saling berpandangan satu dengan yang lain.
“Yeah……….!!!”Mereka
tertawa bersama merasa senang karena bisa memainkan lagu itu sampai habis
dengan baik.
“Kau
harus masuk group kami Ara!”kata Yoen Hee.
“Aku?”Ara
memandang 4 yeoja cantik didepannya dengan mata membulat.
“Ya,
Ara! Kau lihat kita sangat kompak?”kata Yuri.
“Please
Ara?”Yoona memperlihatkan puppy eyesnya.
“Kita
akan jadi 5 yeoja paling keren hehe….”So Eun tersenyum senang.
“Mmmmm……..”
“Ayolah……..”Yoen
Hee, Yuri, So Eun dan Yoona memandang Ara dengan memohon membuat Ara tak mampu
menolak.
“Baiklah…..”
“Yeah………”Mereka
memeluk Ara dengan senangnya.
Ara
tersenyum melihat keempat sahabat barunya itu kegirangan, Ara tak bisa
menyembunyikan kebahagiaan hatinya juga, disaat kesedihan tengah dialaminya
datang kebahagiaan mengobati luka hatinya dengan cara yang ajaib.
Ara
memejamkan matanya sejenak dan berdo’a keajaiban lain akan menghampirinya
dengan cara yang juga luar biasa.Ara tersenyum.
Sore
sudah menjelang dan mereka berjanji akan latihan ditempat itu setiap hari
karena Yuri dan teman-temannya berencana tampil di acara perpisahan kelulusan meraka
2 bulan lagi.
******
Gomawoyon all..........
Still reading my imagination......hahaha........pede abis.
Part 7 udah ok tapi part 5 & 6 belum ready hehe.......aneh ya,,,,,,,,,yah itulah khayalanku suka lompat-lompat gak jelas.
Happy holiday..* _ *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar