Assalamualaikum............

Hai! Friendzzzz.........

Wellcome to my little world!

"Tempatku mencurahkan imaginasi liar tanpa batas! psttt jangan salah sangka kkkk,,,just for fun ^^"

" Berbagi dalam khayalan itu menyenangkan,,,,, "

Jumat, 13 Januari 2012

CINTA TANPA SYARAT ( UNCONDITIONAL LOVE ) // FF



CINTA TANPA SYARAT ( UNCONDITIONAL LOVE )

Cast                       : Ara,Yunho,Yuri

Category              : One short

Genre                   : Friendship, Romantics, Sad

Rating                   : Bebas







Annyeong....^ ^!!! 

Kembali buat FF one short yang bener-bener short hehehe....

sorry if this is a bit disappointing because I was trying to make a sad story.

Ngarep ada yang baca,,,,,,,,,,


" Cinta tanpa syarat itu adalah cinta dengan tingkatan paling tinggi sebagai manusia, cinta yang diberikan tanpa meminta dikembalikan, tak semua orang beruntung mendapatkan cinta seperti itu dan hanya orang-orang berhati tulus yang mampu memberikan cinta seperti itu. Karena cinta abadi hanya milik Tuhan YME "

Here is...........

Ara hanya menatap namja itu dari jauh.Dia hanya bisa menarik nafas dengan berat.Berat karena memang tak mudah untuk bisa rela setiap hari hanya menjadi penonton untuknya.

Betapa ia ingin menjadi salah satu dari mereka yang dengan bebas bisa bercengkerama dengannya. Tertawa dan bercanda juga memeluknya dengan mesra.

Tapi Ara tetaptersenyum tatkala sesekali matanya bertemu dengan namja itu.Setidanya dia masih menganggap Ara ada disana, menjaganya, menemaninya, membantunya dari jauh karena namja itu adalah kekasihnya.

Ya, namja itu kekasihnya, namjacingu yang tak pernah menanggapnya ada meski ia selalu disana, ia adalah kekasih yang ada saat namja itu butuh tempat curhat saat sedang bermasalah, mengajaknya berkencan saat namja itu bosan dengan yeoja-yeoja cantik disekitarnya,membelikannya berbagai barang mahal yang menjadi koleksinya, mengerjakan tugas kampus dan membuatkan dia makanan saat dia bosan dengan makanan restoran.

Tapi semua dilakukan Ara dengan penuh cinta, cinta yang teramat besar pada sosok tampan yang menjadi kekasihnya dan menaklukkan hatinya sejak satu tahun lalu.

“Ara !hari ini aku pulang dengan Krystal, kau naik bus saja. Bawa ini! Tunggu aku dirumah.” Yunho menyodorkan tas dan buku-buku diktat dengan kasar  kepangkuan Ara.

“Nde.”Ara tersenyum mengangguk.

Yunho tak membalas senyuman Ara dan berlalu begitu saja tak perduli.

Yuri membesarkan matanya melihat perlakuan Yunho pada kekasihnya itu dan tanpa rasa bersalah merangkul Krystal yang menunggunya dari kejauhan dengan senyum genit yang membuat Yuri muak.

“Ara!Kenapa selalu seperti itu?Kenapa kau selemah itu Ara?”

Yuri mengguncang tubuh Ara,Ara  hanya tersenyum melihat Yuri yang kesal setiap Yunho memperlakukan Ara seperti itu.

“Kita pulang yuk.”

Dengan kerepotan Ara membawa setumpukbuku dan dua tas dipundaknya.

“Ara, Dia sudah keterlaluan!”

Yuri mengikuti langkah Ara menuju jalan raya keluar dari kampusnya.

“Anyo Yul, aku senang membantunya karena itu berarti dia masih membutuhkanku.”

Ara tetap tersenyum meski buat Yuri itu sangat ironis sekali.

“Ara…dia membutuhkanmu sebagai pembantunya bukan kekasihnya.”Kata Yuri ketus.

Ara berhenti mendengar kata-kata Yuri dan memandangnya dengan kecewa.Yuri tercekat melihat nya.

“Mian Ara, bukan maksudku seperti itu.Aku hanya kesal padanya.”

Yuri merasa bersalah melihat Ara tampak sedih mendengar kata-katanya.

“Tak apa Yuri, aku senang melakukannya.”

Ara melanjutkan jalannya.

“Ara, apa kau tidak sedih setiap melihat si PLAYBOY GILA dengan yeoja genit itu?”tanya Yuri dengan menekankan kata playboy gila.

“Cinta itu butuh pengorbanan Yuri dan inilah pengorbananku untuknya.”

Ara menggeleng dan tersenyum pada Yuri.

“Tapi hanya kau yang berkorban Ara.”

Yuri benar-benar merasa tidak rela sahabatnya itu diperlakukan dengan buruk oleh namjacingunya.

“Tidak Yul, Yunho juga banyak berkorban untukku.”

“Iya mengorbankan perasaanmu semakin dalam.”Kata Yuri dengan sinis.

“Yul……”

Ara merasa tidak rela Yuri memojokkan Yunho seperti itu.

“Ara, aku tak pernah melihat dia berkorban untukmu, jangan membelanya.”

“Kau salah Yul, kau tahu apa pengorbanan terbesarnya?”tanya Ara melihat Yuri tetap kesal dan cemberut mukanya.

Yuri menggeleng karena memang tidak tahu, dimatanya Yunho adalah sosok namja arogan yang sok ganteng dan playboy kampungan yang tak punya perasaan dengan seenak hati berkencan didepan kekasihnya yang juga sahabatnya, Ara.

Sejenak Ara memarik nafas dan menghembuskannya dan tersenyum pada Yuri.

“Dari sekian banyak yeoja cantik yang dikencaninya hanya aku yang diakuinya sebagai yeojacingu.”

Mata Ara berbinar ketika mengatakannya dan senyumnya itu menggambarkan kebahagiaan dari dalam hatinya.

Yuri hanya terdiam, dalam hati dia membenarkan kata-kata Ara.Yunho memang mengakui Ara sebagai yeojacingunya dan tak pernah menutupi itu dari siapapun bahkan yeoja-yeoja yang berkencan dengannyapun tahu bahwa Yunho adalah namjacingu Ara.

“Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya padamu Ara.”Kata Yuri yang sangat ingin melindungi sahabat yang sangat disayanginya itu.

Ara kembali tersenyum dan memeluk Yuri kemudian mencium pipinya.

“Gomawo….aku senang melakukannya Yul, karena aku mencintai Yunho.”

Yuri membalas mencium pipi Ara.

“Aku tak ingin kau terluka Ara.”

“Aku tahu.”

Ara tersenyum lagi.Yuri hanya bisa menggeleng dan tak habis mengerti bagaimana bisa Ara tetap tersenyum padahal Yunho sudah begitu jahat padanya.

*****

Ara sampai dirumah Yunho dan disambut Oemmanya dengan ramah.

“Ara, apa Yunho tidak bersamamu?”

“Tidak Ahjumma, masih ada yang harus dikerjakan Yunho.”Ara tersenyum.

“Oh….”Oemma Yunhohanya mengangguk.

“Ara, ahjumma harus pergi sekarang,bisa bantu kau buatkan makan siang untuk Yunho karena tadi ahjumma tidak sempat memasak.”

Ara menangguk.

“Nde Ahjumma.”

“Gomawo Ara, kau memang calon menantuyang bisa diandalkan.”

Oemma Yunho menyentuh lembut kepala Ara. Dia sangat sayang pada Ara, meski dia sama sekali tak tahu perlakuan Yunho pada Ara dibelakangnya. Buatnya Ara adalah anak perempuannya karena dia tidak mempunyai anakperempuan dan hanya ada Yunhodan kakaknya yang juga lelaki.

Dengan senang hati Ara membuat masakan kesukaan Yunho, Sup ayam ginseng.

Sekitar jam 3 sore Yunhobaru pulang kerumah. Ara yang sudah lama menunggunya,menyambut dengan muka sumringah.

“Kau sudah pulang Yun.”Ara tersenyum.

“Hmm…”Yunho hanya mengangguk dan langsung menuju kamarnya untuk berganti baju.

Tak lama Yunho kembali dan langsung menuju meja makan.Matanya berbinar melihat makanan kesukaannya sudah ada dimeja makan.

“Apa Oemma pergi Ara?”tanya Yunho melihat Ara mengambilkannya nasi juga semangkuk sopuntuknya.

“Nde.”Ara menangguk dan menyodorkan makanan pada Yunho.

Tanpa berterima kasih Yunho langsung memakan dengan lahap.Ara tersenyum senang melihat Yunho menyukaimasakannya.

Tanpa berkata apa-apa Yunho tahu itu masakan Ara, lidahnya sudah terbiasa membedakan mana masakan Oemmanya dan mana masakan Ara.

Dan buat Yunho makanan yang dimasak Ara lebih enak ketimbang makanan Oemmanya, meski Yunho tak pernah mengakuinya apalagi memuji,berterima kasih saja dia tidak pernah.

“Kau mau lagi?”tanya Ara melihat mangkuk sup Yunho sudah mulai kosong.

Yunho mengangguk.

Ara mengambilkannya, dengan sabar Ara menemani dan menunggu Yunho, memasak untuknya dan melayaninya seperti seorang istri juga ibu.

“Ara…”

“huh..”

“Apa kau harus pulang cepat sore ini?”tanya Yunho memandang Ara datar.

“Apa kau ingin aku tinggal?”tanya Ara.

“Ada tugas yang belum aku kerjakan, aku lelah ingin tidur, Ara.”

Ara memandang Yunho dan melihat kalau dia memang tak berbohong, terlihat wajahnya sangat lelah.

“Akan kukerjakan Yun.”

“Setelah kau selesai, kau bangunkan aku, aku akan mengantarkanmu pulang, Arasseo...”kata Yunho meninggalkan Ara dimeja makan setelah selesai dengan makanannya.

“Arasseo…”

Yunho menuju kamarnya dan langsung tidur tanpa perduli pada Ara yang sudah seharian menunggunya pulang, sementara dia malah pergi berkencan dengan yeoja lain, dan saat pulang meninggalkan Ara sendiri mengerjakan tugasnya , dan tanpa rasa bersalah tidur dengan nyenyak.

Setelah Ara membereskan bekas makan Yunho dan membersihkannya, dialangsung masuk kekamar Yunho dan dilihatnya Yunho sudah tertidur dengan pulas dengan sepatu yang masih dipakainya.

Dengan perlahan Ara melepaskan sepatunya karena takut membangunkan Yunho.Mungkin karena memang sangat lelah dan mengantuk Yunho tak bereaksi apa-apa saat Ara menarik sepatu itu.

Ara mengambil Laptop Yunho dan membukanya.Ara tersenyum dan mukanya bersemu merah begitu layar sudah mulai terbuka.

Seburuk apapun sikap Yunho padanya dengan caranya Yunho menunjukan cintanya pada Ara dan itulah yang membuat Ara begitu mencintai namja itu.

Yunho memasang foto Ara sebagai wallpapernya, meskibegitu acuh sikap Yunho padanya tetapi ia tetap bangga mengakui Ara sebagi kekasihnya.

Dan dengan semua kekurangan Yunho dan kelebihannya Ara mencintainya dengan tulus.
Kepala Ara terasa pegal.

“Akhirnya selesai…..”

Ara keluar dari kamar Yunho dan menuju dapur mengambil segelas air putih dan meneguknya. Terasa sangat lega dan dingin menjalari tubuhnya yang kini terasa lelah.

Ara melihat jam dinding yang tergantung didinding dan kaget melihat jarum sudah menunjukkan angka 7.35.

Segera Ara kembali kekamar Yunho dan berniat secepatnya pulang karena hari sudah malam dan meski orangtuanya tak pernah perduli dia pulang atau tidak, tapi dia juga ingin beristirahat dan tidur.

Ara membereskan meja dan buku-buku yang berserakan dan mematikan laptop setelah yakin pekerjaannya di safe dan di copy dalam Flash disk miliknya dan milik Yunho. Yunho sering lupa dan tanpa sengaja menghapus file karena itulah Ara selalu memback up semua data di Laptop Yunho.

“Kau mau pulang Ara?”

Ara kaget dan memandang Yunho yang ternyata sudah bangun dan duduk ditempat tidur memandangnya sedari tadi membereskan buku-buku.

“Kau sudah bangun?”

Ara tersenyum dan mengambil tasnya.

“Nde, kenapa kau tak bangunkan aku Ara?”

“Kau tertidur sangat pulas, aku tak tega membangunkanmu Yun.”

“Sudah kubilang aku akan mengantarmu pulang Ara!”Yunho sedikit menaikkan nada bicaranya, sepertinya dia kesal karena Ara tak membangunkannya.

“Mianhe Yun, aku nggak papa kok pulang sendiri.”

Ara berusaha tersenyum meredam kekesalan Yunho.

Yunho mendekati Ara dan memegang pundak Ara hingga berhadapan dengannya.

“Kau tahu aku bukan orang yang suka ingkar janji.”kata Yunho menatap tajam mata Ara.
“Aku tahu.”

Setiap Yunho memandangnya seperti itu Ara tak bisa menolong dirinya dari rasa malu dan wajahnya memanas tanpa bisa dikendalikan begitu juga dengan dadanya yang berdetak dengan cepat terasa sesakdan  sulit untuk bernafas.

“Ara…….”

Yunho menyentuh dagu Ara dan…mencium Ara dengan lembut.Ara memejamkan matanya dan merasakan nafas Yunho di hidungnya.

Selama setahun berpacaran hanya 3 x mereka berciuman. Pertama saat Yunho memintanya menjadi yeojacingunya, kedua saat Yunho mabuk ketika Ayahnya berselingkuh dan Ibunya masuk rumah sakit karena mencoba bunuh diri sehingga membuat Yunho stress dan mabuk dan ini adalah yang ketiga.

Jantungnya berdetak makin cepat saat Yunho tak juga melepaskan ciumannya dan Arapun tak ingin mengakhirinya.

Ara tak ingat kapan dia menyingkirkan tas dari pundaknya dan tak ingat kapan semua itu terjadi. Ara memandang wajah Yunho yang tertidur dengan pulas, disentuhnya wajah tampan yang telah menghiasi dinding hatinya dengan penuh sehingga tak ada lagi gambar namja lain yang bisa terpajang disana.

*****

“Ara!!!”Yuri tersenyum menghampiri sahabatnya itu dengan ceria.

“Bahagia sekali……”

“Kyu mengajakku kencan nanti malam.”Yuri tersenyum malu.

“Sincha?Ah, chukkae!”

Ara memeluk Yuri ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya.

“Gomawo……Ara kau pucat sekali, apa kau kurang tidur?”tanya Yuri melihat wajah Ara pucat.

“Hanya lelah saja.”Jawab Ara singkat.

“Karena dia?”tanya Yuri yang enggan menyebut nama Yunho.

“Yul,jangan selalu berprasangka buruk.”Ujar Ara bijak, meski dia tahu Yuri ingin melindunginya dan membantunya tapi hatinya tetap tak rela Yuri mencela Yunho meski tujuannya adalah untuk membelanya.

“Huh, lihat!Bisa-bisanya dia peluk-pelukan didepanmu dengan yeoja ganjen seperti dia.”Kata Yuri kesal sambil menunjuk kearah Yunho yang tengah memeluk Jessica dengan mesra dan sesekali mencium pipi dan rambutnya.

Ara menggigit bibirnya.Kali ini melihatnya terasa sangat sakit.

“Sudahlah……ayokita kekantin.”Ara berusaha tersenyum, menutupi sakit yang terasa didadanya.

“Ara!Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini.”Yuri menghentikan langkah Ara dan memegang tangannya dengan erat.

“Kau harus melabrak mereka!”Ujar Yuri gusar.

“Anyo Yul, aku tak mau mempermalukan Yunho dan diri sendiri didepan semua orang, apalagi ini dikampus.”

Ara berusaha menenangkan Yuri yang sangat emosi.

“Kalau begitu biar aku yang menampar mereka !”Kata Yuri masih berapi-api.

“Yul……”

“Dengan senang hati aku akan melakukannya untukmu Ara!”Yuri membalikkan badannya dan hendak menuju kearah Yunho yang tengah tertawa dengan Jessica sesekali tangan mereka berdua saling menyentuh dengan mesra.

Yuri benar-benar terbakar emosi melihat kelakuan Yunho yang tak memandang Ara sama sekali dan tak perduli pada perasaannya.

“Yuri….sudahlah…”Ara memeluk Yuri menghentikan langkahnya untuk mendekati Yunho.

“Ara! Lepaskan! Lepaskan! Biarkan aku………”

Yuri yang berontak tiba-tiba terdiam saat dilihatnya Ara menangis.

“Ara……..”

Yuri memeluk Ara.

“Aku tahu kau menyayangiku Yul, karena itu kumohon jangan lakukan itu.”dalam isakan dan pelukan Yuri, Ara memohon pada Yuri untuk tak melakukan apa-apa pada Yunho.

“Kenapa kau harus mencintainya Ara dan menyiksa dirimu sendiri hanya untuk namja brengsek seperti itu.”

Mata Yuri berkaca-kaca melihat sahabatnya itu begitu pasrah dan menerima untuk sebuah cinta yang sama sekali tak mendapatkan balasan yang setimpal, hanya kekecewaan dan rasa sakit, yang Yuri tahu selalu disembunyikan Ara dibalik senyumnya itu.

Ara hanya menggeleng.

“Yang aku tahu aku mencintainya Yul, dan ingin mencintainya dengan segenap hatiku karena itulah aku rela, apapun yang dia lakukan.”ujar Ara lirih setelah menghapus airmatanya.

“Ara…….”

Yuri memeluk Ara dan menuntunnya kearah kantin menjauhi pemandangan yang membuat matanya iritasi.

“Setidaknya kau tak menangisinya didepanku Ara, kau menangis karena khawatir denganku kan?” Kata Yuri tak rela Ara menangisi namja seperti Yunho.

Ara mengangguk meski tak yakin dia menangis karena apa, dia memang khawatir Yuri melakukan hal-hal yang akan mempersulitnya tapi dia juga sedih melihat Yunho tak pernah bosan berganti-ganti pasangan kencan meski Ara adalah yeojacingunya.

*****

“Ara, aku ingin bicara denganmu.”

Kata Yunho saat Ara turun dari mobilnya, didepan rumahnya.

“Apa kau maumasuk dulu Yun?”tanya Ara melihat Yunho yang turun dari mobilnya.

Yunho mengangguk.Ara tersenyum dan melangkah masuk kedalam rumahnya.Meski Yunho sering mengantarnya pulang tapi Yunho sangat sungkan untuk masuk rumah Ara, alasannya dia enggan bertemu orangtua Ara padahalorangtua Ara sangat jarang ada dirumah.

Dan dirumah besar itu Ara hanya ditemani 2 orang pembantunya dan anjing cihuahua kesayangannya yang selalu menyambutnya dengan ceria saat diapulang.

“Cliqers…..”Ara menggendong anjingnya dan menciumnya sebelum menurunkannya.

“Kau mau minum apa Yun?”tanya Ara begitu Yunho duduk di ruang tamu yang besar namun tampak sepi itu.

“Tidak usah Ara,duduklah.”Yunho menggeleng dan meminta Ara untuk duduk disampingnya.

Ara tak membantah dan duduk disamping Yunho.

“Ara, aku hanya ingin menyatakan ini sekali dan kuharap kau tak membenciku setelah ini.”Yunho mengambil nafas dan menghembuskannya sebelum melanjutkan ucapannya.

“Gomawo untuk tetap disampingku selama  ini, mianhe kalau aku tak bisa membahagiakanmu dan menjadi seperti yang kau mau.”

Ara hanya mendengarkan ucapan Yunho tanpa menyela.

“Aku ingin kita putus.”Yunho mengatakan itu tanpa beban.

Tanpa ada suara sedih hanya suara dingin dan wajah dingin tanpa ekpresi.

Ara membulatkan matanya tak percaya apa yang didengarnya.

“Yun…”

Ara merasa dunianya tiba-tiba runtuh, matanya mulai memanas dan dadanya terasa sangat sesak.

Kuharap kita masih bisa berteman Ara,,,,saranghae.”

Yunho berdiri dan sebelum pergi Yunho mencium kening Ara.Yunho berlalu begitu saja meninggalkan Ara yang masih syock dengan pendengarannya.

Ara menggeleng kuat-kuat dan mencubit tangannya sendiri yang terasa sakit.Sadar bahwa itu bukan mimpi Ara berlari keluar tapi mobil Yunho sudah menjauhi rumahnya hanya terlihat lampu sen belakang mobil Yunho yang berkedap-kedip di kejauhan.

Ara terduduk lemas ditanah. Kini Dunianya benar-benar telah runtuh danAra merasa awan tiba-tiba sangat gelap dan kepalanya sangat berat……..

*****

Seminggu sudah Ara terbaring dirumahnya, sejak Yunho memutuskannya dan Ara pingsan didepan rumahnya badan Ara merespon negatif dan kesehatannya drop sehingga dia tidak bisa pergi kekampus dalam keadaan yang masih sangat lemas.

Ditengah keterpurukan mentalnya hanya Yuri yang ada disampingnya, orangtua Ara bahkan hanya menyuruhnya pergi kedokter tanpa memperlihatkan wajah mereka pada putri satu-satunya itu dan tak pernah menanyakan kenapa Ara bisa sakit.

Tapi Ara tak merasa sendiri, meski sering memarahinya tapi Yuri selalu ada disampingnya. Ara tahu Yuri sering marah dan kesal karena kelemahan Ara pada Yunho dan itu cara Yuri menunjukkan cinta pada sahabatnya.

“Apa kau benar-benar tak ingin kedokter?”Tanya Yuri sembari mengupas jeruk untuk Ara.

“Tidak Yul, aku hanya merasa lelah saja dan besok aku sudah bisa kuliah lagi.”

Ara menggeleng.

“Setidaknya aku senang kau putus dengannya. Tapi aku tak ingin kau jadi terpuruk karena dia, dia terlalu buruk untuk mendapatkan cintamu Ara.”

Yuri memberikan buah jeruk yang sudah dikupas.

Ara hanya terdiam dan mengunyah buah itu yang terasa asam dilidahnya, seasam hatinya kini.

“Kau yakin besok bisa kuliah? Kau masih terlihat pucat dan lemas Ara.”

“Aku yakin Yul, aku tak mau menjadi lemah karena ini, mungkin ini memang sudah jalan kami. Aku hanya sedih tak bisa menjadi yang diinginkannya, aku merasa aku gagal mencintainya, mungkin ada yang lebih baik dariku dan Yunho lebih bahagia bersamanya.”

“Ara, apa kau tak salah?”

Yuri memandang Ara dengan tidak mengerti.

“Bagaimana bisa kau menyalahkan dirimu sendiri dan menganggap bahwa kau tak pantas untuk namja brengsek itu. Kau tahu dia yang tak pantas mendapatkan cintamu. Dia adalah namja terbodoh yang menghianati cinta tulus dari seorang yeoja sepertimu.”

“Tidak Yul, aku tahu ini bukan sepenuhnya salahnya. Bila aku bisa membahagiakannya seperti mereka maka Yunho tak akan meninggalkan aku.”

Ara memandang langit yang tampak cerah diluar sana. Dia tersenyum sedih membayangkan wajah Yunho yang kembali berkelebat di benaknya.

Diambilnya foto Yunho dimeja rias yang ada disebelah tempat tidurnya.

“Tapi aku tak bisa membencinya, Yul.”

“Setelah apa yang dilakukannya dan dia menghianatimu kemudian memutuskanmu sepihak begitu saja?”tanya Yuri heran.

“Nde...aku benar-benar tulus mencintainya.”Ara meletakkan foto Yunho kembali.

Tak terbersit keinginan untuk membuang foto itu meski sekarang posisinya bukan lagi kekasih Yunho.

“Aku menyerah Ara, aku tak tahu kau itu manusia atau malaikat. Bagaimana kau bisa sesabar itu dan sama sekali tak membencinya.”

Yuri hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Tidak Ara, aku manusia biasa, aku juga kecewa, kecewa karena tak lagi bisa bersamanya seperti dulu, meski dia tak perduli padaku tapi saat bersamanya aku merasa bahagia meski kadang dia tak pernah menganggapku ada.”

Ara menghembuskan nafasnya perlahan.

“Yang aku sesali adalah kedepannya aku sudah tak berhak mendampinginya sebagai pacarnya meski aku sangat ingin.”

Yuri memandang mata Ara yang penuh kesedihan tapi tanpa airmata.

“Seandainya aku adalah kamu Ara, mungkin aku sudah bunuh diri sebelum sempat dia memutuskanku.”

“Yul...kau tak akan melakukannya, kau adalah wanita hebat, kau sahabat terbaikku. Dan saat kau mencintai orang dengan sangat dalam kau akan mengerti apa yang kurasakan, mungkin Kyu akan membuatmu seperti itu.”Ujar Ara menggenggam tangan Yuri.

Yuri menyusut airmatanya. Dia menangisi ketulusan Ara yang mencintai Yunho tanpa pamrih tapi tercampakkan begitu saja dengan menyakitkan. Dia menangis karena sebesar dan setulus apapun cinta sahabatnya itu tak pernah cukup dimata Yunho.

Ara tersenyum memeluk Yuri mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja, bahwa dia sangat berterima kasih punya sahabat yang selalu ada disampingnya disaat-saat paling gelap dalam hidupnya.

Menjadikannya tempat bersandar ketika semua orang pergi meninggalkannya, mendapatkan cinta yang tak bisa didapatkan dari orangtua dan juga namja yang dicintainya.

“Jeongmal mianheyo Ara.”

Yuri memeluk Ara dengan erat takut Ara lebih terluka dan terjatuh lebih dalam lagi.

“Kenapa harus meminta maaf Yul?”tanya Ara melepaskan pelukan Yuri dan tersenyum mengusap airmata yang masih menetes dipipi Yuri.

“Aku menamparnya kemarin.”kata Yuri pelan.

“Huh! Yuri......aku tak mau kau melakukan hal yang aneh-aneh untuk membelaku.”kata Ara tak ingin melukai Yuri juga tak mau Yuri melakukan pembalasan pada Yunho meski Ara tahu Yuri sangat marah padanya.

“Aku tak tahan Ara, saat kau terbaring disini karena dia dengan tanpa berdosa dia tertawa dan berpelukan dengan Dara. Dia keterlaluan Ara.”

“Aku tak ingin kau melakukannya lagi Yul, kami berpisah baik-baik, dia tak meninggalkan aku dengan emosi bahkan untuk pertama kali sejak kami pacaran dia mengucapkan saranghae .”

“Mian......”

“Gomawo Yul, aku tahu kau ingin membelaku, tapi aku tak ingin kau ikut terluka karena ini.”Ara tersenyum.

“Aku ingin selalu tersenyum sepertimu Ara.”

Yuri kembali memeluk sahabatnya itu.

“Janji kau tak akan melakukannya lagi?”bisik Ara ditengah pelukannya.

“immyeong.”Yuri mengangguk.

“Cinta yang tulus itu tanpa syarat Yul, dan aku telah memutuskan bahwa cintaku benar-benar tanpa pamrih, meski dengan itu pilihannya adalah melepaskannya.”

Ara tersenyum dalam kesedihannya, dia benar-benar ingin membuktikannya bahwa cintanya pada Yunho adalah tanpa syarat apapun.

Tidak menahannya saat Yunho ingin pergi, tidak melepaskannya saat Yunho ingin disisinya dan tidak membencinya meski hanya sakit yang bisa didapatkannya.

Merelakannya memilih akan membuktikan bahwa dia ikhlas mencintai Yunho, melihatnya bahagia adalah hal yang harus dilakukannya untuk membuktikan cintanya benar-benar tanpa pamrih, tanpa egois dan tanpa syarat.

“Bisakah aku sepertimu Ara....”

Yuri masih memeluk tubuh Ara yang masih lemah dan terlihat makin kurus.
Ara tersenyum.

“Kau lebih hebat dari aku, Yuri! Gomawoyo.”

Yuri tak menjawab hanya memeluk tubuh ringkih sahabatnya itu dengan hangat, ditengah keterpurukan dan kesendiriannya, Ara masih saja menginspirasinya, bahkan bukan dia yang menguatkan Ara tapi justru Ara yang menguatkannya padahal posisi Ara yang kini tengah terpuruk.

Yuri tak bisa membendung airmatanya, airmata haru dan sedih untuk sahabat tercintanya, Go Ara.

˜  end  ˜


Sad story......mian ya kali ini Yunho aku jadiin Bad Boy,,,,,
Thx for reading....... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar