Annyeong Haseo!!!!!!!!!!!!!!!
I miss write but,,,,,,,this week is stupid busy with something that not important in me or my work at all..................
But i just doing post this chapter to push away boring is.......
Maybe I'm hiatus on the next week since my work 'n my mind is back on good mood,,,,,,,I'm just tired,,,,,,,,,,,
So hope enjoy this part.......
PART
7
FALLING IN LOVE WITH MY FIANCEE
Sepulang les Ara berjalan berdua dengan Yoona.
“Ara-ahh, apa kausudah punya kekasih?”tanya Yoona hati-hati.
Ara hanya tersenyum mengangguk.
“Apa aku mengenalnya?”
“Kurasa belum.”
“Jadi Minho bukan namjacingumu?”tanya Yoona lagi.
Ara menggeleng.
“Yoong…..apa kau bisa menjadi sahabatku?”tanya Ara balik.
“Mwo? Nde!tentu saja.”Yoona tersenyum ramah.
“kau bisa mempercayaiku Ara.”Yoona menggenggam tangan Ara untuk
meyakinkannya.
“Gomawo, kalau begitu kau bisa simpan rahasia?”tanya Ara lagi,masih
belum yakin pada Yoona.
“Apa saja Ara.”Yoona mengangguk dengan mantap.
Ara menyeret tangan Yoona untuk duduk sebentar disebuah bangku ditrotoar
jalan.
Ara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan.
“Minho itu tunanganku Yoona-ahh.”
“Mwo?”Yoona membelalakkan matanya.
Ara menunduk.
“Nde…….Minho tunanganku tapi namjacinguku Kim Soo Hyun.”kata Ara lirih.
“Ara…….”
Yoona memegang pundak Ara karena Ara tertunduk lama setelah mengatakan
itu.
Saat Ara mengangkat wajahnya Yoona terkejut melihat mata Ara sudah
berkaca-kaca.
“Ara……”Yoona memeluk Ara.
Entah kenapa dia ingin memeluk sahabat barunya itu, dimatanya Ara
terlihat sangat menderita dan rapuh.
“Aku lelah Yoona.”
Ara menitikkan airmatanya dipelukan Yoona. Rasanya ada sedikit kelegaan
membagi beban hatinya dengan orang lain.
“Jadi kau dijodohkan Ara?”
Tanya Yoona setelah Ara sedikit lebih tenang.
“Nde. Orangtuaku banyak hutang budi dengan keluarga Minho dan aku tak
bisa menolak keinginan Appa, aku hanya ingin membantu orangtuaku membalas budi
Yoona-ahh.”Ara menyusut airmatanya dengan ujung jarinya.
“Dan kau mencintai Kim Soo Hyun?”ujar Yoona mulaimengerti.
“Soo Hyun adalah cinta pertamaku, dia bahkan rela pindah kekorea demi
aku.”
Tampak sekali saat menyebutkan nama Soo Hyun mata Ara bebinar meski
wajahnya tetap sedih.
“Apa Soo Hyun tahu tentang
Minho?”
“Tak ada rahasia yang aku sembunyikan darinya.”
“Dan Minho?”
Ara menggeleng.
“Dia tak tahu Yoona. Oppa sangat baik padaku, aku tak tega
memberitahukannya,meski kami dijodohkan tapi aku tak dapat membencinya karena
dia sangat baik ,mungkin bila dia bersikap jahat akan lebih mudah untukku
membencinya tapi tidak dengan Oppa, dia terlalu baik untuk aku sakiti meski aku
tahu bila dia tahu ini dia pasti akan sakit hati.”
Ara memandang langit yang mendung seakan tahu kegundahan hatinya.
Yoona terdiam, dia tak menyangka Ara mengalami masalah sepelik itu.
‘ Bagaimana kalau dia tahu Yunho Oppa juga menyukainya?’pikir Yoona
memandang wajah Ara yang hampir sama dengan mendung siang itu.
“Apa Minho menyukaimu Ara?”
“Aku tidak tahu Yoona-ahh, tapi dia sangat baik padaku.”
“Aku rasa dia juga menyukaimu
Ara, dia sangat perduli padamu.”kata Yoona.
“Aku harap tidak, aku tak ingin menyakiti namja lain lagi.”kata Ara.
“Maksudmu?”
“Aku sudah menyakiti Soo Hyun dengan pertunangan ini, kalau Oppa
menyukaiku itu akan menyakitinya karena aku tak mungkin bisa mencintainya.”Ara
menggigit kukunya.
“Ara…….kau pasti sangat menderita, ya?”Yoona menggenggam tangan
Ara,menguatkan Ara dengan sentuhannya.
Ara hanya tersenyum tipis.
“Kalau dengan ini aku bisa membahagiakan orang disekitarku aku rela
Yoona, tapi nyatanya aku selalu sedih saat aku harus membohongi orang-orang
yang aku sayangi.”
Yoona menatap Ara.
“Orangtuaku tak tahu aku punya kekasih, Yoona, kecuali Tiffany.”
“Oh…”Yoona hanyamengangguk-angguk.
“Ara……….”
Drttt…….Drttttt..drrttt!!!
“Sebentar Yoona aku angkat ini dulu.”
Yoona hanya mengangguk saat kalimatnya tak jadi diteruskan.
“Yoboseo?”
“Nde, Ommonie!”
“Nde,Arasso.”
Wajah Ara berubah tegang dan sedikit panik.
“Ara ada apa?”Yoona jadi merasa ikut khawatir melihat perubahan wajah Ara
setelah menerima telepon.
“Aku harus telepon Oppa.”
Ara mengangkat teleponnya setelah nomer Minhodipastikannya telah dipush.
“Annyeong Oppa..”
“…..”
“Ne...Ommeoni menyuruh kita pulang sekarang Oppa.”
“….”
“Nde,kau jemput aku di taman kota, aku disini dengan Yoona-ahh”
“…..”
“Ne,Arasso.”
Ara menutup hp-nya dan memandang Yoona.
“Oppa akan menjemputku kesini Yoona.”
“Oh, adakah yang penting? Kenapa wajahmu jadi tegang begitu?”tanya
Yoona.
“Ommeoni seperti ada masalah.”
“Ommeoni?”
“Umma Mnho Oppa.”
“Oh…”
Tak lama sebuah mobil dan sebuah sepeda motor menghampiri mereka, hampir
bersamaan mereka membuka helm dan pintu mobil.
Yoona terkejut melihat pengendara motor disamping mobil Minho adalah Donghae.
“Oppa.”Ara mendekati Minho.
“Ara kita harus cepat, aku takut terjadi sesuatu.”
“Nde.”Ara mengangguk.
“Yoona-ahh, mian aku harus pulang dulu dengan Oppa tapi Donghae akan
mengantarmu.” Kata Ara.
“Ne…ne…..mwo?”
Yoona mengangguk-angguk tapi juga sekaligus terkejut.
Tanpa menunggu jawaban Yoona Ara langsung masuk ke mobil.
“Hae! Tolong jaga Yonna-ahh, ya.”Minho melongokkan kepalanya kearah
Donghae yang masih diatas sepeda motornya memegang helm.
“Arasso!”Donghae tersenyum.
“Yonna-ahh, kau tak keberatan kuantar dengan motor bututku?”tanya
Donghae yang melihat Yoona diam saja ditempatnya.
“Eh…..annyio, apa tidak merepotkan?”Tanya Yoona.
“Annyo! Aku akan kecewa kalau kau menolakku.”kata Donghae serius.
“Gomawo.”Yoona tersenyum.
Donghae malah terpana melihat Yoona tersenyum padanya.
“Donghae…Donghae?”
Yoona kebingungan Donghae bengong dan tak menyahut saat dipanggil.
“Lee Donghae apa kau benar-benar mau mnegantarku pulang?!”Yoona
mengeraskan sedikit suaranya.
“Oh..eh…ne…ne…mianhe.”Donghae gelagapan dan tersenyum kikuk.
“Ini pakailah.”Donghae menyerahkan helm pada Yoona.
“Nde.”
Setelah memakai helm Yoona naik kemotor Donghae,Donghaepun langsung
menjalankan roda besinya itu membuat Yoona tersentak dan tubuhnya condong
kebelakang karena selain belum siap dia juga tak berpegangan.
Menyadari itu donghae mengerem motornya mendadak membuat tubuh Yoona yang
tadinya kebelakang reflek terdorong kedepan dan menabrak tubuh Donghae.
“Ouch……”Suara teriakan Yoona tertelan Helm.
Saat tubuh mereka bersentuhan baik Donghae maupun Yoona sama-sama malu
dan jantung mereka semakin cepat berdetak karena sama-sama merasakan moment
yang tak terduga itu.
Donghae membuka kaca helmnya dan menengok pada Yoona yang duduk
dibelakangnya dengan wajah masih setengah shock.
“Peganganan, aku tak mau kau jatuh.”Donghae melingkarkan tangan Yoona
kepinggangnya.
Yoona terkejut tapi tak menolak perlakuan Donghae.
Donghae tersenyum menutup kaca helmnya saat mengahadap lagi kedepan dan
menjalankan motornya perlahan.
Yoona merasa nyaman berpegangan pada pinggang Donghae dan tanpa sadar
perlahan merebahkan tubuhnya semakin dekat dengan tubuh Donghae, tapi wajahnya
memerah seperti tomat untung saja memakai helm jadi Donghae tak melihatnya.
Dongae hanya tersenyum menyadari Yoona semakin merapat ketubuhnya,
jantungnya semakin cepat berdetakdan dia meraskan jantung yeoja dibelakangnya
juga berdetak cepat tapi Donghae tak ingin berpikir terlalu juah, mungkin saja
dia ketakutan jadi dadanya berdetak cepat karena cemas.
*****
“Ara, sebenarnya ada apa?”Minho memandang wajah cantik disampingnya
yang tampak tegang.
“Aku
tidak tahu Oppa, tapi….”Ara tak jadi melanjutkan ucapannya.
“Tapi………?”Minho meminta kepastian Ara yang memenggal
kata-katanya.
“Omonnie terdengar panik.”Mata Ara menyiratkan kekhawatiran.
“Oh…aku harap tak terjadi apa-apa.”Minho mempercepat laju kendaraannya.
Sesampai di rumah mereka berdua langsung berlari kedalam rumah besar yang tampak sejuk dengan bangunan modern dan arsitektur
bergaya eropa.
“Oemma! Oemma!Oemma……..!!”Minho berteriak memanggil-manggil Oemmanya.
Hampir seluruh ruangan telah ditelusuri Minho dan Ara tapi ternyata tak
menemukan yang mereka cari bahkan dikamar tidurpun tidak ada.
Minho putus asa dan terduduk lemas di sofa ruang keluarga dengan wajah
panik dan khawatir.
Ara memandang khawatir Minho yang sangat putus asa, mungkin bila dia
perempuan sudah menangis.
Ara mengambil gagang telepon.
“Kau telepon siapa Ara?”Minho memandang Ara dengan wajah sedih.
“Omonnie….”jawab Ara lirih.
“Oh………”Minho melongo karena saking paniknya tak terpikir olehnya untuk
menelepon Oemmanya.
“Yoboseo….”Ara tersenyum saat tahu teleponnya mendapat respon.
“Omonnie…Ara imnida…Omonnie dimana sekarang?”belum sempat Ara mendengar
jawaban Minho merebut gagang telepon dari tangan Ara.
“Oemma!”Minho terdengar panik tapi juga senang mendengar suara
diseberang sana.
“……”
“Apa Oemma baik-baik saja?”
“…..”
“Oemma…….”Minho merajuk seperti anak kecil mendengar Oemmanya tertawa
diseberang sana.
“…….”
“Nde…..nde……..”Minho mengangguk-angguk membuat Ara kebingungan
melihatnya.
“……..”
“Mwo? Sincha? Ah Oemma……”
“……..”
“Nde!”Minho tersenyum menutup teleponnya dan memandang wajah Ara dengan
berbinar-binar.
“kenapa kau senang sekali Oppa?”tanya Ara masih kebingungan melihat
wajah Minho yang berubah dengan cepat.
“kajja……..”tanpa menjawab pertanyaan Ara, Minho menggandeng tangan Ara
untuk mengikutinya ketaman belakang rumah.
“Oemma….Omonnie…..”Minho tersenyum melihat dua wanita cantik setengah
baya tengah duduk santai ditaman belakang sambil bercengkerama.
“halo sayang….”Oemma Minho tersenyum menyambut mereka berdua.
“Oemma kok ada disini?”Ara terkejut melihat Oemmanya ada disana.
“Oemma kesini untuk merayakan pertunangan kalian.”Oemma Ara tersenyum
memeluk putri kesayangannya.
“Mwo?”Minho dan Ara serempak terkejut mendengar ucapan nyonya Go.
“Aduh…….kalian ini masa hari penting seperti itu saja kalian
lupa.”Nyonya Choi menimpali dengan pandangan menyudutkan Minho dan Ara.
Sementara Ara hanya menunduk dan Minho garuk-garuk kepalanya yang tidak
gatal.
“Oemma membuatku panik hanya untuk mengatakan ini?” tanya Minho dengan
wajah aegyoonya.
“Kenapa kau harus panik?”tanya nyonya Choi kebingungan.
“Ara mengatakan padaku kalau Oemma menyuruhku pulang cepat-cepat.”Minho
memandang Ara yang mengangguk.
“Nde, Omonnie…kenapa suaramu sangat panik saat menelepon?”tanya Ara.
“Ahaha….Omonnie tidak ingin menunggu kalian terlalu lama.”Nyonya Choi
tertawa senang.
“Oemma!”Minho kesal dipermainkan Oemmanya.
“Aigoo…tampan sekali calon menantu Omonnie kalau sedang kesal.”Nyonya Go
tersenyum melihat wajah Minho yang cemberut.
Ara tersenyum melihat tunangannya itu masih seperti anak kecil merajuk
pada Oemmanya padahal mereka seumuran dan sudah SMA.
Minho tersenyum malu menyadari dia merajuk seperti anak kecil didepan
tunangan sekaligus calon mertuanya itu.
Flash Back
“Mwo? Tapi aku masih sekolah Appa.”Ara kaget mendengar rencana orang
tuanya.
“Kau hanya bertunangan Ara bukan menikah.”kata Tuan Go pada anak semata
wayangnya itu dengan lembut.
“Tapi Appa……..”
“Ara, dia anak sahabat Appa dan Appa sudah banyak hutang budi dengan
keluarga Choi.”
“Appa……”Ara memandang wajah Appanya yang seperti memohon padaya.
“Sayang, dia anak yang baik, Appa tahu itu meski baru sekali bertemu
dengannya. Dia juga masih sekolah sama denganmu Ara. Kalian akan menikah
setelah lulus sekolah.”
“Bagaimana Appa yakin dia orang yang baik…”Ara bergumam.
“Ara….”
“Nde…”
“Ara, Appa tahu yang terbaik untuk anak kesayangan Appa.”Tuan Go mencium
kening Ara tanpa memberi kesempatan Ara untuk membantah lagi.
***
“Oemma…aku masih ingin sekolah.”Minho dibuat kelabakan mendengar
keinginan orangtuanya agar dia bertunangan dengan anak sahabat Appanya.
“Kau tetap sekolah Minho-ah…kalian hanya bertunangan saja.”Oemma berusaha
menenangkan Minho yang sepertinya tak bisa menerima kenyataan akan ditunangkan
disaat masih sekolah.
“Oemma…apa kata temanku nanti.”Minho masih belum bisa menerima.
“Kalau kau mau kau tak harus mengatakan pada teman-temanmu disekolah
Minho-ah.”Oemma berusaha bersikap bijaksana karena tahu Minho merupakan bintang
disekolahnya.
“Apa dia masih sekolah juga Oemma? kenapa dia mau?”tanya Minho.
“Dia masih sekolah juga Minho tapi dia lebih memilih Home Schooling
karena mereka baru pindah ke Korea sekitar satu tahun.”jawab Oemma.
“Mwo?”
“Mereka dulu imigrasi ke Kanada saat anaknya baru berusia 2 tahun,
sekarang mereka memutuskan kembali dan menetap di Korea.”
“Oh…….”
Apa dia cantik?...Gumam Minho dalam hati.
Minho tak bisa menolak keinginan Oemmanya karena dia tahu tak akan bisa
membuatnya sedih karena Oemmanya itu punya penyakit lemah jantung yang tidak
boleh dibuat stress atau akan berakibat fatal.
Malam itu Minho dan orangtuanya berpakaian resmi menuju rumah keluarga
Go dengan sebuket bunga mawar putih dan sepasang cincin tunangan terbuat dari
emas putih dengan ukiran dua nama didalamnya membentuk tautan hati yaitu Minho
dan Ara.
Minho tak banyak bicara dalam perjalanan, dia sibuk berpikir apa dan bagaimana
kalau yeoja itu tidak cantik? Apa yang akan dikatakan teman-teman sekolahnya?
Minho yang punya banyak penggemar disekolah bisa mendapatkan yeoja
manapun yang dia mau tapi sejauh ini hanya satu yeoja yeng membuatnya tak bisa
tidur.
Minho dibuat terpana melihat sesosok Yeoja cantik dihadapannya yang juga
calon tunangannya.
“Ara sangat cantikkan?”Bisik Oemma melihat putranya begitu terpesona dengan
calon tunangannya.
Minho memerah mukanya menyadari tingkahnya dilihat Oemmanya.
‘Ya…dia cantik sekali’
Bisik suara hati Minho.
Minho sekarang malah bersyukur dia tidak menolak pertunangan ini. Yeoja
bernama Go Ara yang sekarang resmi menjadi tunangannya itu telah mempesonanya
saat pertama bertemu dan itu tak pernah dirasakan Minho sebelumya bahkan dengan
dia sekalipun.
Sementara Ara hanya menunduk malu saat pertama bertemu dengan Minho. Dia
sama sekali tak menyangka bahwa tunangannya itu berwajah tampan dan bersikap
lembut, kesan pertama yang baik.
“Ara-ahh kenapa kau memilih home schooling?”tanya Minho mencoba
mencairkan suasana kaku diantara mereka saat hanya duduk berdua.
“Ne….anyi….karena hanya tinggal setahun menurutku lebih baik aku ambil
home schooling saja. Nanti saja saat kuliah aku akan ke sekolah formal.”jawab
Ara.
“Nde…”Minho tak melepaskan pandangannya dari wajah cantik dihadapannya.
Ara yang menyadari namja tampan didepannya terus memandangnya tanpa
berkedip memerah mukanya.
Minho tersenyum dan mengelus tengkuknya menyadari yeoja didepannya ini
ternyata sangat pemalu. Jauh berbeda dengan yeoja-yeoja disekolahnya yang tanpa
malu-malu merayunya dan berteriak-teriak histeris saat memanggilnya.
“Mmm…Oppa, kenapa kau menerima pertunangan ini?”tanya Ara lirih.
“Mwo?”Minho terkejut.
“Kenapa kau tak menolak ditunangkan.”kata Ara lagi.
“Bukan itu…kau panggil aku apa tadi?”tanya Minho memandang Ara dengan
mata berbinar.
“Oppa…”jawab Ara lirih.
“Aku senang kau memanggilku Oppa.”entah kenapa hati Minho sangat hangat
saat Ara memanggilnya Oppa. Meski mereka seusia dan mungkin Minho hanya
beberapa bulan lebih tua dari Ara tapi Ara ingin menghormati tunangannya itu
dan memanggilnya Oppa.
Ara tersenyum malu menyadari bahwa Minho bisa menerimanya meski mereka
sama sekali belum saling kenal.
Setidaknya dari sikapnya Ara tahu Minho adalah namja yang baik seperti
kata Appanya.
“Mereka sangat serasi.”Nyonya Go sangat senang melihat keakraban Minho
dan Ara.
Kedua orang tua Minho dan Ara sangat senang bahwa pertunangan itu
ternyata bisa diterima Ara dan Minho dengan baik.
End Flash Back
Sejak saat itulah Minho dan Ara menjadi sepasang kekasih karena
perjodohan kedua orangtuanya. Meski tak ada yang tahu status Minho yang sudah
bertunangan disekolah,hanya satu orang yang tahu yaitu Donghae.
Disekolah Minho bersikap seperti biasa meskipun perlahan dia mulai
menjaga jarak dengan beberapa penggemarnya yang sudah melewati batas untuk
menjaga perasaan tunangannya.
Meski tak pernah mengakui tapi hari demi hari Minho semakin jatuh hati
dengan tunangannya sendiri.Sikap Ara yang lembut dan perhatian meluluhkan
hatinya.
Ara sering mengunjungi Minho disekolah dan melihat pertandingan Basket
yang diikuti Minho,meski banyak yang bertanya siapa Ara,baik Ara ataupun Minho
akan kompak menjawab sepupu.
Itu memang kesepakatan mereka berdua,Minho tak ingin Ara dimusuhi banyak
yeoja disekolahnya sehingga akan sulit buat Ara datang kesekolah bila dia punya
banyak musuh.
Kebaliakanpun dengan Ara, Ara tak ingin mempersulit Minho dengan mengatakan
dia adalah tunangannya sementara dia menemukan fakta bahwa Minho merupakan
seorang Kingka di sekolah dengan banyak yeoja yang bersedia mati untuknya. Ara
tak ingin punya musuh.
Sore itu keluarga Choi dan Go berkumpul dirumah Minho untuk makan malam
merayakan pertunangan Ara dan Minho yang sudah genap satu tahun.
*****
Thank's........for reading my imagination ^ _ ^
Hope next week is great time to me writeing anyone FF,,,,,,,,,,,,I love writeing trully!!!
I just can't understand they never accept to me in it.................
I'm regret for say this but this happent to me, just want make little space to make me stay up 'n believeing my turn..............

Tidak ada komentar:
Posting Komentar